Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 98


__ADS_3

Tiga hari menghabiskan waktu berdua di hotel membuat Abi dan Larisa semakin bersemangat memulai hari-hari mereka di kota Jakarta. Pasutri itu pun kini tengah bersiap untuk kembali pulang ke rumah.


“Kak?” panggil Larisa


“Apa, sayang?” jawab Abi.


“Apa kita perlu beli rumah atau apartemen buat kita bertiga?”


“Memangnya kenapa kalau kita tinggal di rumah Mama, Papa?”


Larisa duduk di tepi kasur. “Gak enak aja sama Mama Ningsih. Gak adil aja gitu rasanya.”


Abi pun menutup koper yang sudah di bereskan istrinya. “Mama Ningsih pasti ngerti kok. Nanti kalau kamu benar-benar sudah yakin dan memutuskan untuk kita tinggal di Jakarta, baru kita beli rumah. Untuk sekarang kita tinggal dirumah Papa dulu. Disana kamu bisa dibantu Mama Davira buat ngurus Kyra.”


“Benar juga sih. Apalagi Kyra kan sekolah, aku mungkin gak bisa lagi nemenin dia kayak waktu masih di Bali.”


“Itu maksud Kakak. Mama Davira pasti akan bisa jagain Kyra selagi kamu di kantor. Kalau kita tinggal di rumah Mama Ningish beliau kan sibuk juga jadi, gak bisa jagain Kyra.”


“Oke deh, sudah beres? Turun sekarang.”


“Sudah. Yuk, kita pulang! Kyra pasti udah nungguin.”


Mereka berjalan beriringan sambil bergandeng tangan menuju lift.


...🐦🐦🐦🐦...

__ADS_1


Pagi-pagi sekali Larisa sudah bangun, selesai sholat subuh ia sudah turun ke dapur. Dibantu oleh asisten rumah tangga ia menyiapkan sarapan untuk seisi rumah. Abi dan Kyra sudah terbiasa menikmati hasil masakannya jadi, sebisa mungkin ia akan memenuhi kebutuhan suami dan anaknya.


Selesai masak Larisa kembali ke kamar untuk mandi dan berpakaian. Setelahnya ia menatap pantulan diri di cermin. Jujur ada sedikit rasa gugup yang mulai datang mendera. Namun, ia berusaha untuk tetap tenang dan yakin kalau ia pasti bisa.


“Cantik sekali,” puji Abi. Tangannya sudah melingkar di pinggang ramping istrinya.


Larisa hanya tersenyum. “Dandanan aku gak berlebihan kan?”


Abi ikut mematut penampilan istrinya itu dari cermin. “Pas. Cuma kalau bisa lipstiknya jangan merah gitu.”


“Kenapa?”


“Sexi, bikin Kakak pengen cicipin.”


Larisa berbalik dan mendorong suaminya. “Mandi sana! Pagi-pagi udah godain aja.”


“Iya.”


“Kakak mandi dulu.”


“Aku ke kamarnya Kyra. Baju, Kakak sudah aku siapin atas kasur.”


“Makasih, sayang.” Abi bersorak dari arah kamar mandi.


...🐨🐨🐨🐨...

__ADS_1


Kini mereka semua sudah berkumpul di meja makan. Endra pastinya akan mendampingi sang putri ke kantor hari ini jadi ia pun sudah siap dengan pakaian formalnya. Sedangkan Davira akan mengantarkan dan menemani sang cucu ke sekolah.


“Kamu berangkatnya mau sama Abi atau Papa?” tanya Endra pada Larisa.


“Sama Kak Abi aja.”


“Terus nanti pulangnya gimana?”


“Aku jemput Pa. Soalnya jam pulang aku setengah jam lebih awal dari Larisa,” jelas Abi.


“Oke kalau begitu. Papa berangkat sama supir aja.”


“Kyra, sayang, mulai sekarang kamu bakalan ditemani Oma ke sekolah,ya,” kata Larisa.


“Iya, Mama, kan semalam Papa juga udah ngomong ke aku,” jawab gadis kecil itu.


Larisa tersenyum senang. “Bekalnya sudah Mama masukin dalam tas.”


“Makasih, Mama.”


“Iya, sayang. Berangkat sekarang?” wanita itu menatap Abi dan Endra.


“Ayo,” ajak Endra. 


Abi pun bangkit dari bangku sebelum pergi ia mencium kedua pipi putrinya. “Da, sayang. Ingat pesan Papa semalaman?”

__ADS_1


Kyra yang masih menyuap makanan nya hanya memberikan jempol pada Abi. 


Terakhir mereka berpamitan pada Davira barulah menuju mobil masing-masing.


__ADS_2