
“Papa berangkat kerja, ya, Ma.” Abi mengecup kening Larisa yang tengah menyiapkan bekal untuk Kyra ke sekolah.
“Iya, nanti siang aku anterin bekalnya.” Wanita itu mencium punggung tangan suaminya.
“Papa berangkat duluan baby girl.” Abi pun mencium sang putri yang sedang memakan sarapannya.
“Kyra, Papa! Aku bukan baby lagi.”
Abi hanya tertawa. “Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Larisa dan Kyra menjawab serempak.
“Bekalnya sudah Mama masukin kedalam tas, ya, sayang.”
“Makasih, Mama.”
“Iya. Sudah selesai sarapannya? Ayo, siap-siap di depan, sebentar lagi mobil jemputan pasti sampai.”
Kyra pun membawa piring kotornya ke wastafel. Setelah itu ia menyandang tas kecil berwarna pink di punggung.
“Bey-bey Mochi. Aku sekolah dulu, ya. Nanti kita main lagi, Muach.” Kyra mengecup anak kucing kesayangannya.
Ternyata di depan villa mobil jemputan dari sekolah Kyra sudah menunggu. Larisa segera mengantar anaknya memasuki mobil bus. “Assalamualaikum, Mama.” Kyra bersalaman dengan Larisa.
“Walaikumsalam.” Wanita itu pun melambaikan tangan mengiringi kepergian mobil itu.
Ketika hendak melangkah kembali masuk. Larisa dihentikan oleh suara klakson mobil Boni.” Ada apa, Kak?”
“Bisa titip Kania? Dia lagi gak enak badan. Saya sudah ajak ke Rumah Sakit dianya gak mau,” jelas Boni.
__ADS_1
“Ooh, Oke. Nanti aku bawain sarapan ke sana. Kalau perlu nanti aku bujuk deh, biar mau di periksa.”
“Makasih, ya, Sa. Saya berangkat dulu, sudah terlambat ini.”
Larisa mengangguk.
...🦋🦋🦋🦋...
“Sakit apa lo?” tanya Larisa.
“Gak tau, badan gue meriang, perut rasanya mual banget tapi gak mau muntah,” jelas Kania yang sedang tiduran di kamarnya.
“Makan dulu, nih gue bawain sarapan.”
“Gak deh, gue gak nafsu. Tapi gue lagi pengen makan yang asem-asem nih.”
“Buat apa?”
“Aneh lo. Kita periksa aja, yuk, ke Rumah Sakit.”
“Males, ah.”
“Udah ikut aja sekalian kita jemput Kyra nanti pulang sekolah.”
“Iya, deh. Gue siap-siap dulu.”
“Cepetan, gue tungguin.”
“Iya, bawel amat lo.”
__ADS_1
“Habis dari RS kita jemput Kyra lalu makan siang di restoran, ya,” ajak Larisa.
“Kita makan dekat RSJ aja, sekalian ajak para suami.”
“Oke. Kalau gitu gue telpon Kak Abi dulu.”
Kedua wanita itu segera berangkat menuju Rumah Sakit terdekat menggunakan mobil Larisa. Sampai disana Kania tak perlu antri lagi karena tadi Larisa sudah mendaftarkan namanya untuk mengambil nomor antrian.
Larisa pun mendampingi sang sahabat selama pemeriksaan. Lalu Kania dirujuk ke Dokter lain untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut atas keluhan yang dialaminya. Cukup lama hingga mereka berdua mendapat sebuah kabar bahagia.
Usai Kania mendapatkan hasil dari pemeriksaan tadi mereka berdua mengucapkan terimakasih pada Dokter lalu keluar dari ruang itu. “Waktunya jemput Kyra,” ujar Larisa.
“Ayo, gue udah gak sabar ketemu Mas boni.” Mereka berdua bergegas menuju parkiran.
...🐕🐕🐕🐕...
Nia, lo hubungin Kak Boni buat batalin makan siang,” kata Larisa.
“Kok, dibatalin?”
“Kita rayakan kabar gembira ini dengan makan malam di villa lo. Biar gue yang masak.”
Kania mengangguk setuju. “Gue kasih alasan apa sama Mas Boni?”
“Bilang aja kita masih di RS, bakalan telat kesananya.”
“Oh, oke.”
“Kita jemput Kyra dulu habis itu belanja ke supermarket. Lo kuat kan?”
__ADS_1
“Aman, kok. Tenang aja gak usah khawatir.”
Larisa melajukan mobilnya menuju sekolah sang putri. Dari sana mereka pun menuju supermarket yang searah dengan jalan pulang ke villa.