Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
106


__ADS_3

Tinggallah Bayu yang masih tampak sibuk mengemasi barang-barangnya di atas meja. Setelah melepas kepergian rekan bisnisnya tadi, Larisa pun segera pergi dari sana bersama Indah.


“Sa.” Tiba-tiba Bayu mengejarnya.


“Ya?”


“Bisa bicara sebentar?”


“Soal apa, ya? Kalau ada materi rapat tadi yang kurang Bapak pahami, nanti sekretaris saya akan mengirimkan kembali kesimpulannya.”


Bayu menggeleng. “Bukan soal itu.”


“Lalu?”


Bayu menghembuskan nafas. “Bisa minta waktunya sebentar?”


“Maaf, saya sangat sibuk jadi tak ada waktu untuk membahas hal lain selain pekerjaan. Permisi.” Larisa melenggang pergi meninggalkan Bayu yang masih menatapnya.


Sampai di ruang kerjanya Larisa menghempaskan diri di sofa. “Kenapa Bayu bisa bekerja sama dengan perusahaan ini?”


“Maksud, Ibuk?” Indah tak paham.


Larisa pun ingat kalau sekretarisnya itu pasti tak tahu kalau Bayu adalah mantannya. “Maksud saya, Bapak Bayu tadi dari perusahaan mana? Dan bagaimana bisa dia bekerja sama dengan Papa?”


“Sebelumnya dulu Pak Endra sengaja bekerja sama dengan perusahaan kecil, tujuannya untuk membantu mereka mengembangkan bisnisnya.”


“Terus Papa kok bisa bantu Bapak Bayu tadi?”

__ADS_1


“Sebenarnya Bapak Bayu itu hanya mewakili perusahaan tempatnya bekerja, Buk. Pemimpinnya yang harus hadir, masuk rumah sakit sekitar dua hari yang lalu.”


Larisa mengangguk. “Saya minta laporan dari perusahaan itu.”


“Baik, akan saya siapkan.”


Indah pun keluar dari sana sedangkan Larisa kembali ke meja kerjanya. Ia merasa sedikit kesal kenapa harus bertemu kembali dengan laki-laki brengsek itu. Sebenarnya ia sudah ikhlas dan tak mempermasalahkan lagi masa lalu. Tapi entah mengapa dirinya kembali merasa khawatir, sama seperti saat ia akan pindah ke sini.


Selama bekerja Larisa berusaha menghalau pikiran dan prasangka buruk yang ada di benaknya. Ia meyakinkan diri kalau semuanya akan baik-baik saja. Pertemuannya tadi dengan Bayu tak akan menjadi masalah besar. Selanjutnya ia akan meminta Dendi yang menangani proses kerja sama nanti dengan perusahaan Bayu.


Indah pun sudah mengirimkan data-data dari perusahaan tempat mantannya itu bekerja. Ternyata Bayu merupakan menantu dari pemilik perusahaan itu, yang artinya selama ini Endra, sang Papa bekerja sama dengan mertua mantannya. 


Tapi kenapa bisa Papanya tidak tahu soal itu?! Ia harus menanyakan persoalan ini pada sang Papa nantinya.


...🐶🐶🐶🐶...


“Cantik, jalan sekarang?” tanya Abi.


Istrinya itu segera berdiri dan memeluknya.


“Kenapa?” Abi mengelus punggung Larisa.


Wanita itu hanya menggeleng. “Capek aja. Yuk, pulang aku mau istirahat.” Sebenarnya Larisa ingin mengungkapkan kegundahannya sejak bertemu Bayu tadi. Namun, ia sadar tak ada alasan yang bisa menguatkan perasaan buruknya. Itu semua hanya ketakutan semata saja. Jadi, ia memilih untuk tak bercerita dulu.


Tiba di rumah Larisa segera membersihkan diri dan berganti pakaian, lalu ia menemui sang putri yang tengah asik bermain bersama Kakek-Neneknya di halaman. Ia pun ikut bermain di sana untuk menghilangkan kerisauan hati.


“Sudah sore, Kyra mandi dulu, ya!” ajak Larisa.

__ADS_1


“Mandi sama Oma, yuk,” timpal Davira.


“Ayok.” Kyra pun memilih mandi bersama sang Oma karena ia bisa berlama-lama bermain air. Jika mandi bersama sang Mama pasti tak akan diizinkan bermain air.


“Pa, bisa kita bicara?” tanya Larisa.


Endra mengangguk. Mereka pun duduk di bangku yang ada di halaman. 


“Mau bicara apa?” tanya Endra.


“Papa kenal sama pemimpin perusahaan G?”


Endra menggeleng. “Papa gak begitu mengenal rekan bisnis Papa. Hanya saja nanti jika ketemu ya sebisa mungkin Papa akan mengakrabkan diri.”


“Papa tau gak, kalau selama ini Papa sudah bekerja sama dengan mertuanya Bayu?!”


Kening pria tua itu tampak berlipat. “Bayu mantan kamu dulu?!”


Larisa mengangguk. “Tadi aku ketemu dia saat meeting. Dia datang mewakili mertuanya karena sedang terbaring di Rumah Sakit.”


...****************...


Hai... aku bawa rekomendasi lagi ...


Jangan lupa mampir ya..


Kerena tidak ingin menikah dengan laki-laki yang tidak ia cintai, Daisy memilih kabur tepat di hari pernikahannya berlangsung. Namun, karena calon suami Daisy adalah orang yang berkuasa maka mereka mampu menemukan keberadaan Daisy. Daisy Quuereen : Jika aku hanya ingin kamu jadikan pelayanan di rumah mu, kenapa kamu harus menikahi ku? Excel Word : Kerena aku ingin mengikatmu dan membuatmu menderita hingga ma-ti perlahan. Daisy Quuereen : Jika kamu ingin aku mati, bunuh saja aku sekarang! Mampukah Daisy melewati hari-hari dalam genggaman Excel?

__ADS_1



__ADS_2