Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 67


__ADS_3

Siang ini Kania menemani Larisa perawatan di salah satu spa. Ia pun juga ikut memanjakan diri di sana. Anggaplah persiapan buat jadi bride smide nanti. 


“Gimana hubungan lo sama Kak Boni?” tanya Larisa.


“Gak gimana-gimana. Kita memang sering ketemu dan ngobrol, tapi hanya sebatas itu,” jelas Kania.


“Lo suka sama Kak Boni?”


“Sejauh ini sih dia baik orangnya. Kalau ditanya suka apa gak, ya pasti suka lah. Tapi belum bisa dikatakan cinta.”


“Kalau tiba-tiba dia ngelamar lo gimana?”


“Hah gak mungkin lah.”


“Gak ada yang gak mungkin. Lo gak ingat waktu kita makan malam barenag. Dia bilang bakalan langsung nikah kalau ada yang pas.”


Kania menghembuskan nafas panjang. “Gak tau gue.”


“Kenapa?”


“Lo kan tau gue terikat kontrak sama hotel. Yang pastinya gue gak boleh nikah sampai kuliah gue selesai.”


“Artinya lo bakalan ngelepasin laki-laki sebaik Kak Boni?”


“Ya, gimana? Gue udah terlanjur tekan kontrak.”


“Rela kalau dia sama yang lain?”


“Duh, Sa. Lo kok mojokin gue kayak gini sih? Bikin gue galau tau gak.”


“Makanya lo harus bisa ambil keputusan. Kak Boni itu orangnya gerak cepat, kalau lo gak mau ya dia bakalan cari yang lain.”


“Tau, ah gue.” Kania mengacak rambutnya.


Larisa tampak cekikikan karena berhasil bikin sahabatnya itu galau. “Katanya belum cinta, tapi pas mau ditinggal galau.”


“Ya, cinta itu butuh waktu, Sa. Masak baru mulai mencintai udah langsung ditinggal aja.”


“Ya udah, kalau seandainya nanti dia ngelamar lo terima aja.”


“Tapikan gue gak bisa nikah dalam waktu dekat.”


“Lo bisa nikah sirih dulu kan, kayak gue sama Kak Abi dulu.”


“Bukannya itu namanya gue melanggar kontrak?”


“Ya, jangan di bilang siapa-siapa. Jadi lo bisa mengelak karena pernikahan kalian gak terdaftar secara hukum. Kalaupun nanti mereka tau lo udah nikah, mereka kan gak punya bukti buat nuntut lo.”


“Gue pikir-pikir dulu deh, Sa. Gue takut nanti malah jadi masalah.”


“Sebaiknya lo tanya dulu sama atasan lo deh. Setahu gue Undang-Undang kita melarang perjanjian seperti itu dalam kontrak kerja,” jelas Larisa.


“Oh, ya? Artinya kontrak itu gak berlaku secara hukum dong?” tanya Kania.


“Kayaknya. Lo konsultasi dulu lah sama orang yang ngerti hukum. Eh, tapi emangnya lo siap nikah kalau emang dilamar Kak Boni.”


“Gue pikir dulu sekalian gue cari tau soal kontrak kerja itu.”


Selesai perawatan mereka pun segera membersihkan diri. Lalu dua sahabat itu segera pulang.


...🥥🥥🥥🥥...


“Bu, sebelum acara mau nginap di sini atau di hotel?” tanya Indah.


“Di hotel aja,” jawab Larisa.


“Mulai dari kapan?”


 


“H -1 aja.”


“Mau di kamar apa, Buk?”


“Yang spesial pokoknya”


“Baik. Oh, ya, Buk, persiapan untuk ke puncak sudah beres?”


“Oh, iya. Kapan keberangkatannya?”


“Selesai acara, besok siangnya Ibuk dan Bapak berangkat.”

__ADS_1


“Makasih, ya, udah di ingetin. Saya hampir lupa.”


 “Mau di bantuin paking, Buk?”


“Boleh.”


Larisa dan Indah pun menaiki lantai dua menuju kamar. Di sana ibu hamil itu mengemasi beberapa pakaian dan perlengkapan lainnya untu acara honeymoon dan babymoonnya di puncak nanti selama empat hari.


Indah pun mengingatkan wanita itu apa saja yang perlu di bawanya karena sejak hamil Larisa sering lupa. Kehadiran Indah benar-benar sangat membantu Larisa dalam segala hal meski kadang sebenarnya hal itu bukan termasuk pekerjaan yang harus Indah lakukan. Tapi ia senang bisa membantu putri dari bos besarnya itu. Apalagi Larisa sangat ramah membuatnya merasa nyaman ketika bekerja. 


Tak terasa waktu pun sudah hampir sore.


“Beres, Buk,” kata Indah.


Larisa duduk selonjoran di atas karpet bulu di kamarnya. “Capek juga ternyata.”


“Ibuk, mau minum atau makan sesuatu? Biar saya minta Bibik siapkan.”


“Kita pesan makanan saja. Kamu mau apa? Pesan juga, temani saya makan.”


Tak lama makanan mereka pun datang, Indah dengan setia menemani Larisa di ruang tengah sambil menonton TV hingga Abi pulang dari klinik.


...🎂🎂🎂🎂...


“Bumil, aku datang nih,” sorak Kania.


Siang ini wanita itu berkunjung ke villa sahabatnya.


“Assalamualaikum.” Larisa mengingatkan.


“Hehehe lupa, maaf, ya. Assalamualaikum,” kata Kania.


“Waalaikumsalam. Ada apa? Tumben datang gak janjian dulu.”


“Kebetulan kerjaan gue beres jadi bisa santai deh. Tugas kuliah juga gak ada.”


Laria langsung memakan donat yang dibawakan oleh Kania.


“Gue udah ngomong sama atasan soal kontrak itu?”


“Terus?”


“Artinya?”


“Gue gak akan di PHK. Palingan gue cuma harus balikin uang yang sudah mereka keluarkan sesuai perjanjian.”


“Ooh, terus keputusan lo apa?”


Kania menghempaskan punggungnya di sofa. “Gak tau. Gue juga gak berharap kalau Kak Boni bakalan lamar gue dalam waktu dekat.”


“Kenapa?”


“Jujur gue masih mau lanjut kuliah.”


“Siapa tau dia nanti mau biayain kuliah lo?”


“Udah, ah gue gak mau berandai-andai. Kita ngomongin yang pasti-pasti aja.”


Larisa menipiskan bibirnya. “Besok gue udah stay di hotel.”


“Siap, Ibu bos. Kamar Anda sudah di dekor.”


 “Cepat amat.”


“Hehehe bunga-bunganya belum. Palingan besok sebelum lo tiba. Terus orang tua lo kapan datang?”


 


“Besok pagi sama beberapa keluarga besar lainnya. Mereka langsung ke hotel deh kayaknya.”


Kania mengangguk paham. “Terus ini si baby girl mau diumumkan besok?” Kania mengelus perut buncit Larisa


“Iya dong.”


Kania terperanjat matanya membulat sempurna. “Dia gerak, Sa.”


“Gue pikir lo kenapa.”


“Aaa jadi gemes deh. Lo udah USG empat dimensi?”


“Nanti, pas Kak Abi pulang, kita ke Rumah Sakit.”

__ADS_1


“Ya udah kalau gitu gue pulang deh. Mau istirahat dulu, soalnya besok kerjaan gue banyak. Menyambut tamu agung yang akan datang.”


Larisa mendorong bahu Kania. “Biasa aja kali.”


“Loh, emang benarkan?! Siapa sih yang gak tau nama Endra Mahasura seorang pengusaha terkenal di Indonesia.”


“Jangan berlebihan, Nia! Papa gue gak sehebat yang lo bayangkan. Masih banyak pengusaha lainnya diatas dia.”


“Ya, tapi tetep aja Papa lo itu dikenal banyak orang. Orang-orang di hotel gue sampai geleng-geleng kepala saat tahu Papa lo booking hampir semua kamar. Bahkan sampai yang mahal sekali pun.” Kania berdecak kagum.


Larisa tertawa lebar. “Lo itu emang suka lebay, deh.”


“Bukan lebay, tapi kenyataan. Udah, ah gue cabut.” Kania lalu menundukkan kepalanya sejajar dengan perut Larisa. “Baby girl Tante pulang dulu, ya.”


“Hati-hati, lo.”


Kania menyatukan jari telunjuk dan jempolnya membentuk huruf O.


...🍮🍮🍮🍮...


“Kak, bantuin aku pakai resleting bajunya. Gak sampai udah susah ini,” kata Larisa.


Abi pun segera membantu sang istri menaikan resleting baju bagian belakang. “Sudah.”


“Makasih, Papa.” Larisa mengecup pipi suaminya.


 


“Iya Mama. Mau dibantu pakai sandal?”


“Boleh sekali.”


“Manja banget.”


“Bawaan anak kamu deh kayaknya, Kak.”


“Anak kita, sayang.” Abi memakaikan sandal pada kaki Larisa.


“Iya anak kita. Tapi nanti dia bakalan nempel banget sama kamu.”


Abi tertawa. “Kamu sejak hamil jadi kayak cenayang deh. Suka nebak-nebak hal yang belum pasti.”


“Lihat aja nanti. Ucapan aku pasti benar. Yuk, berangkat! Keburu sore.”


Pasangan itu segera menuju Rumah Sakit tempat Larisa biasa melakukan cek kandungan. Sampai disana mereka segera masuk kedalam ruang pemeriksaan. Mereka menjelaskan pada Dokter tentang acara pernikahan besok dan Dokter pun tak mempermasalahkan hal itu selagi Larisa baik-baik saja.


“Pokoknya kalau, Ibuk, merasa capek harus istirahat. Jangan terlalu lama berdirinya,” jelas Dokter.


“Besoknya kita mau honeymoon sekalian babymoon, Dok. Gimana boleh gak?” tanya Larisa.


“Boleh, Ibuk. Aman kok tenang saja. Si Bapak pasti tau batasannya.” Dokter itu pun tersenyum.


Terakhir Larisa dan Abi memberikan undangan pernikahan mereka. Meskipun mendadak tapi Dokter itu berusaha untuk hadir. Setelahnya mereka kembali ke villa.


...🍿🍿🍿🍿...


Pagi ini Endra dan Davira sudah mendarat di Bali bersama keluarga besar lainnya. Sedangkan Ningsih sepertinya masih mengudara, juga bersama keluarganya. Larisa dan Abi pun buru-buru berangkat ke hotel bersama Indah.


 


“Kamu udah telpon Kania? Pihak hotelnya sudah jemput Mama sama Papa kan?” tanya Larisa.


“Sudah, Buk. Mereka lagi jalan menuju hotel,” jawab Indah.


“Kamu kenapa sih, sayang?” tanya Abi mengelus kepala istrinya.


“Gak tau, Kak. Kok aku tegang plus deg degan ya?”


“Kami takut kalau acara besok gagal? Kayak dulu.”


“Sepertinya.” Larisa berkali-kali menghembuskan nafas untuk menenangkan perasaannya.


“Percaya sama Kakak. Kali ini semua pasti akan lancar. Jangan stres, ya, nanti baby girl nya ikutan stres loh.”


Larisa mengangguk lalu direbahkannya kepala di bahu kokoh sang suami. “Aku gak papa kan, Kak?”


“Maksud kamu?”


“Apa aku masih phobia?”


“Gak lah. Itu wajar kok, kamu merasa khawatir. Intinya kamu harus bisa menghadapi rasa cemas itu dan yakin kalau acara kita pasti bakalan berjalan lancar.”

__ADS_1


__ADS_2