
Selesai mandi Larisa menyiapkan makanan yang tadi di masaknya di meja makan. Abi pun ikut membantu lalu mereka segera menyantap hiddangan itu.
“Tadi Kakak udah telpon Papa, katanya mereka bakalan nginap di sana,” ucap Abi.
“Terus Kyra gimana? Dia gak rewel minta pulang kan?”
“Gak, katanya di sana banyak teman.”
“Syukurlah.”
“Kakak juga sudah hubungi pengacara yang kemarin. Dia siap mendampingi kita besok,” tambah Abi.
Kepala Larisa mengangguk.
Selesai makan, Abi membantu istrinya membersihkan meja makan sedangkan Larisa mencuci piring kotor.
“Kak, lepasin, gak.” Larisa merasa sulit bergerak ketika lengan kekar Abi melingkar di pinggangnya.
“Kangen tau, kamu gak kangen sama Kakak?”
“Iya, tapi kan bisa nanti peluknya. Aku lagi kerja ini.”
“Yang kerja kan tangan, yang Kakak peluk kan badan kamu.”
Akhirnya wanita itu pun pasrah, ia tetap melanjutkan kegiatan meski Abi tak mau beranjak dari belakangnya. Abi menggulung rambut panjang sang istri dan menjepitnya ke atas kepala. Membuat pundak mulus istrinya terpampang nyata, ia pun mendaratkan sebuah kecupan di sana lalu menghirup dalam aroma tubuh Larisa.
“Rasanya udah lama banget gak kayak gini.” Abi semakin mengeratkan pelukannya.
Larisa hanya tersenyum. Jujur ia pun sangat merindukan dekapan itu. Selesai mencuci piring ia pun membilas tangannya dengan air bersih. Menikmati sentuhan kecil dari mulut suaminya di bagian leher.
“Kak, aku udah selesai. Sampai kapan mau berdiri gini,” kata Larisa.
Abi segera membalik tubuh kecil Larisa dan mengangkatnya ke dalam gendongan membuat istrinya merangkulkan tangan di pundaknya. “Kita ke kamar, ya, Kakak mau melepas rindu.”
Senyuman dan anggukan dari Larisa membuat Abi tak bisa menahan lagi untuk tak menyatukan bibir mereka. Ia pun melangkahkan kakinya menaiki anak tangga dalam tautan kemesraan itu. Tiba di dalam kamar ia langsung menjatuhkan sang istri di atas kasur.
Dengan nafas yang memburu Abi melepas pakaian yang melekat di badannya. “Malam ini kita berdua gak akan tidur sampai pagi.”
Larisa hanya tertawa lebar menatap Abi yang kini sudah berada di atasnya. “Jangan buru-buru, santai aja.”
“Sesuai permintaan istri tercinta, meski sebenarnya Kakak udah gak tahan.”
Larisa hanya tertawa lebar menyambut sang suami dan menyerahkan diri dengan pasrah.
...🐥🐥🐥🐥...
“Mama, Papa, buka pintunya aku pulang.” Kyra menggedor-gedor pintu kamar orang tuanya.
Abi dan Larisa yang masih terlelap dalam balutan selimut tebal merasa terusik dengan hal itu.
“Kyra, Kak,” kaget Larisa.
“Kamu ke kamar mandi sana, biar Kakak temui dia.” Abi segera turun dari ranjang memakai pakaiannya dan membukakan pintu untuk sang putri.
“Papa sama Mama ngapain sih, dari tadi juga Kyra panggil-panggil,” kesal anaknya.
“Maaf, sayang, Mama sama Papa habis kerja lembur.” Abi menjawab sambil berjongkok di ambang pintu.
“Mama mana?” Gadi kecil itu mencuri pandangan ke dalam kamar.
“Mama lagi mandi, kamu turun dulu, ya. Tunggu Mama sama Papa di bawah.”
“Mama sama Papa kerja lembur apa sih, itu kamar kok berantakan?”
__ADS_1
Abi menggaruk kepala karena bingung harus menjelaskan apa pada putrinya.
“Kyra, yuk, sama Oma. Tunggu Mama sama Papa di bawah aja,” ajak Davira.
“Kok aku gak boleh masuk sih, Pa?”
“Kamu kan lihat kamar Papa berantakan, jadi dibersihkan dulu, ya,” jawab Abi.
“Yaudah deh, aku tunggu di bawah aja. Yuk, Oma.” Kyra menggandeng tangan Davira untuk kembali ke bawah.
Abi menghembuskan nafas lega ketika sang putri tak jadi menerobos masuk kedalam kamarnya. Jika Kyra melihat pakaian ia dan Larisa berantakan di atas lantai, pasti anaknya itu akan bertanya panjang lebar.
Ia pun membereskan kekacauan di kamar itu yang terjadi akibat percintaan. Entahlah, keduanya benar-benar di mabuk rindu hingga membuat mereka menggila semalaman. Larisa yang keluar dari kamar mandi sedikit mengintip karena takut ada putrinya.
“Kyra udah kebawa sama Mama,” jelas Abi.
“Dia gak masukkan?”
“Gak.”
“Kakak, mandi sana. Biar aku yang lanjut beresin.”
“Sekalian dandan, kita mau berangkat ke kantor polisi.”
“Iya.”
...🦉🦉🦉🦉...
“Seminggu lagi acara serah terima jabatan di kantor akan dilakukan,” jelas Endra di meja makan.
“Jadi, kapan kalian berangkat?” tanya Davira.
“Mungkin dua hari setelah acara di kantor,” jelas Larisa.
“Yakin, Pa. Masalah Bayu aku udah gak peduli lagi. Daripada aku di cuekin Larisa,” jawab Abi.
“Cie, yang udah baikan,” goda Davira.
“Emang Papa sama Mama musuhan?” tanya Kyra.
“Gak, sayang, Mama cuma lagi ambekan aja kemarin sama Papa,” jelas Abi.
“Susah ngomong depan orang kepo,” kata Davira.
“Kepo apa sih Oma?”
Membuat mereka semua tertawa. “Kepo itu pengen tau aja, kayak kamu. Mau tau aja semuanya,” jawab Davira.
Gadis kecil itu mengangguk sambil membulatkan mulutnya.
“Kalau gitu aku sama Larisa ke kantor Polisi dulu, titip Kyra, ya,” izin Abi.
Endra dan Davira pun mengizinkan mereka pergi.
...🦊🦊🦊🦊...
Masalah di kantor Polisi pun selesai Abi dan Larisa pun menuju rumah tahanan tempat dimana Bayu mendekam.
“Pokoknya, Kakak, harus minta maaf, karena aku gak mau nantinya ada dendam antara Bayu dengan, Kakak,” jelas Larisa.
“Iya, baik istri ku,” jawab Abi yang tengah mengemudi.
Sampai disana mereka diminta menunggu sebentar. Tak lama Bayu pun datang di antar oleh sipir.
__ADS_1
“Kedatangan kami kemari ingin memberikan kabar gembira sekaligus suami aku mau minta maaf,” kata Larisa.
Laki-laki yang duduk di hadapan mereka itu hanya mengangguk.
“Kak Abi mau minta maaf karena sudah memperlakukan kamu dengan sangat tidak adil.” Larisa mencolek suaminya agar membuka mulut untuk mengucapkan kata maaf.
Abi sedikit berdehem untuk menghilangkan rasa malu karena ia mau tetap kelihatan berwibawa di depan Bayu. “Saya mau minta maaf karena sudah membuat kamu dijatuhi hukuman yang sangat berat. Sebagai bukti permintaan maaf saya ini benar-benar tulus, saya sudah mencabut laporan dan membebaskan kamu dari penjara ini.”
Bayu pun menarik sudut bibir membuat segaris senyuman di wajah murungnya.
“Gimana, Bay?” tanya Larisa.
“Terimakasih banyak sudah membebaskan saya. Saya juga meminta maaf atas kejadian waktu itu. Sungguh saya benar-benar tak sengaja dan tak ada niat untuk mencelakai Larisa,” jawab Bayu.
Larisa tersenyum lega. “Artinya kalian saling memaafkan, ya? Gak ada masalah lagi?”
Bayu dan Abi mengangguk hampir bersamaan.
“Kalau begitu pengacara kami akan membantu kamu menyelesaikan beberapa urusan sebelum bisa keluar dari tahanan,” ungkap Larisa.
“Makasih, ya, Sa,” pinta Bayu.
“Sama-sama, Bay. Aku harap kejadian kemarin bisa menjadi pelajaran buat kamu dan semoga kamu bisa berubah jadi lebih baik lagi,” jawab Larisa.
Bayu pun tersenyum manis membuat Abi menatapnya dengan tajam dan ia pun segera menundukkan pandangan. “Maaf.”
Larisa berpaling ke arah suaminya dan ia langsung mencubit lengan Abi. “Udah minta maaf, jangan bikin masalah lagi. Aku juga gak akan terpesona sama Bayu. Yuk, pulang.”
“Kakak cuma lihat aja, kok.”
“Bay, kami pamit dulu.”
“Iya, hati-hati di jalan.”
Mereka pun meninggalkan Bayu dan keluar dari sana.
“Habis dari sini kita kemana?” tanya Abi ketika mereka tengah berada di jalanan.
“Pulang aja. Aku mau tidur, capek banget soalnya,” jawab Larisa.
Abi mengembangkan senyuman. “Capek kenapa?”
“Jangan pura-pura gak tau deh, Abista.”
Abi langsung menatap tajam istrinya.
“Kenapa? Gak suka, marah? Itu balasan karena, Kakak, sudah bentak aku dan aku harap itu yang pertama dan terakhir kalinya, ya!”
“Iya, kan udah di maafin kemarin.”
“Aku cuma ngasih peringatan aja.”
...----------------...
maaf ya kemarin aku gak up...
tapi skrng udah aku bayar...
tiga bab 1000 kata...
jangan lupa dukungannya...
like 👍 komen 💬 hadiah 🎁 vote 🔖 dan bintang ⭐ limanya.
__ADS_1
terima kasih 🥰🥰🥰