
Tiba di suatu mall, Kania dan Larisa mulai berjalan-jalan sambil mengedarkan pandangan pada toko-toko yang berjejer.
“Mau beli apa?” tanya Larisa pada Kania.
“Gue mau beliin lo kado," jawab Kania.
“Jangan bilang lingerie?!
“Kok lo tau sih?” Kania mengerutkan dahinya.
Larisa memutar bola matanya. “ Gak ada yang lain apa? Mama gue kemarin udah beliin tiga macam, Nia.”
“Bagus dong.” Kata wanita itu sambil mereka memasuki toko pakaian dalam. “Artinya lo punya banyak lingeri buat di ganti setiap harinya.”
Larisa mengucapkan kata APA tanpa suara.
“Gue bakalan beli tiga macam lingerie lagi. Artinya lo punya enam lingerie. Anggap aja seminggu kedepan kalian lagi honeymoon dan lo bakalan pakai satu lingeri tiap malamnya.”
“Kak Abi itu sibuk kerja, mana ada honeymoon.”
“Besok libur Larisa. Jadi, setidaknya kalian bisa menikmati waktu seharian. Besoknya setiap malam kalian bisakan melakukannya.”
Larisa menggelengkan kepala. Ia mengalah, Kania sepertinya serius dengan apa yang dikatakannya. Ia pun duduk menunggu sang sahabat memilih apa yang akan dibelinya. Sedangkan Larisa sudah tampak tak bersemangat.
Dapat apa yang diinginkannya Kania membayar belanjaan itu dan mengajak Larisa menuju toko lain.
“Sekarang kita beli apa lagi?” tanya Larisa.
“Beli, parfum sama apalagi, ya? Bentar gue cek dulu di Google.”
“Hah … untuk hal itu lo sampai cek di Google?”
“Iya, dong. Seharusnya malam pertama kalian itu dipenuhi dengan taburan bunga. Tapi lo nya gak mau gue booking satu kamar di hotel.”
“Udah, ah. Kita pulang aja yuk. Gue mau masak makan malam nih.”
Kania menghentikan langkahnya. “No! Sampai di rumah lo mandi dan berendam dalam bathup pakai aromaterapi. Jangan keluar kamar sampai, Kak Abi datang.”
“Terus kalau gue mau makan gimana?”
“Minta sipin sama Bibik, dong. Kalau perlu antar ke kamar.”
Larisa menghembuskan nafas panjang. Ia akhirnya mengikuti kemana kaki Kania melangkah. Sampai apa yang dicarinya dapat barulah mereka kembali pulang.
...🥕🥕🥕🥕...
Mereka sampai di villa saat langit sudah gelap. Kania hanya mengantar sahabatnya itu sampai depan villa. Larisa pun segera turun.
“Makasih, ya, lo udah nemenin gue dan beliin kado-kadi ini. Meski sebenarnya gak perlu,” kata Larisa menjulurkan kepalanya di jendela mobil.
“Gue happy kalau lo happy. Masuk sana, gue langsung pulang.”
“Oke, hati-hati nyetirnya.”
“Kabari gue besok bagaimana hasilnya.”
Larisa hanya tertawa. Mobil sedan itu segera melaju menuju jalanan.
Sampai di dalam villa Larisa langsung menemui Bibik. “Malam ini aku gak bisa bantu masak, gak papa kan, Bik?”
“Gak papa Mbak. Saya juga sudah mulai masak dari tadi.”
“Ya, udah kalau gitu saya ke atas dulu mau mandi.”
__ADS_1
Sampai di kamar Larisa mengikuti apa yang disarankan temannya tadi. Berendam di bathup dengan sabun aroma terapi yang diberikan Kania tadi. Setelah itu ia pun turun ke lantai dasar untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan. Mereka tadi tidak sempat makan di jalan soalnya Larisa buru-buru pulang.
“Bik, nanti kalau Kak Abi pulang bilang kalau saya sudah tidur duluan. Terus suruh langsung makan aja dan baru ke atas. Tolong di siapin makanannya, ya,” kata Larisa sehabis makan.
“Baik, Mbak.”
Larisa menaiki satu persatu anak tangga dengan kaki mulusnya. Ia memilih duduk di ruang tengah lantai dua sambil menonton TV. Sekalian menunggu suaminya pulang kerja. Ia pun teringat pada Kania apakah sahabatnya itu sudah sampai di rumahnya. Larisa langsung menghubunginya.
📞Gue udah sampai.
Jawab Kania di seberang sana
📞Hehehe syukur kalau gitu.
📞Terus lo lagi ngapain? Kak Abi belum pulang?
📞Lagi nonton aja. Belum mungkin bentar lagi.
📞Ooh yaudah gue mau mandi dulu. Pokoknya nanti lo harus santai dan selamat menikmati.
Larisa mendengar kekehan Kania.
📞Iya. Nyesel gue nelpon lo.
📞 hahaha ... Bye.
Sambungan telpon mereka di putus dan Larisa mendengar suara mobil suaminya. Ia pun bergegas mematikan Tv dan segera masuk ke kamar.
“Makan dulu, Mas,” kata Bibik pada Abi. Larisa menguping nya dari dekat pintu kamar.
“Gak usah, Bik. Saya sudah makan malam di klinik tadi. Lapar banget soalnya, jadi pesan makanan deh. Larisa sudah di kamar kan?”
“Iya, Mas.”
“Kakak, pikir sudah tidur.” Abi berkata pada istrinya yang sedang duduk di atas kasur.
“Belum. Aku baru aja masuk kamar habis nonton diluar.” Larisa segera turun dari ranjang dan menghampiri suaminya. “Mau mandi sekarang?”
“Iya, Kakak udah gerah banget. Tadi di proyek panas sama banyak debu.”
Larisa mengambilkan baju ganti untuk suaminya itu lalu diberikannya dan Abi pun langsung masuk ke kamar mandi. Setelahnya ia memakai kado yang tadi dibelikan oleh Kania. Lalu rambut yang di gulungnya tadi di lepas dan di tata sedikit agar tak berantakan.
“Sempurna,” gumam Larisa menatap pantulan dirinya di depan cermin. “Setidaknya gue punya sedikit bekal karena sering nonton drama korea,” kekehnya.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk dan itu dari Kania
📩Kak Abi sudah pulang?
📨Sudah. Dia lagi mandi.
📩Lo udah siap-siap?
📨Sudah. Jantung gue berasa mau copot.
📩Santai aja dan nikmati alurnya. 😉
📨Hah. 😒
“La,” panggil Abi yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Ya,” Larisa berbalik.
Pria itu menatap sang istri dari ujung kepala hingga kaki. Membuat Abi menelan salivanya berkali-kali. Diakuinya dalam hati kalau malam ini istrinya itu begitu cantik dan menggoda. Bisa-bisa imannya luluh juga.
__ADS_1
“Ka-kamu nga-ngapan pakai gituan?” tanya Abi gugup.
Larisa meletakkan ponselnya di atas meja rias dan melangkah menghampiri suaminya itu. “Kenapa?” Ia pun melingkarkan tangan di leher sang suami. Membuat Abi mundur satu langkah agar tubuhnya tak begitu rapat dengan istri.
“Sebaiknya ganti,” saran Abi.
“Kalau aku gak mau?” Larisa terus menggoda suaminya itu meski jantungnya serasa akan melompat keluar.
Abi melepaskan tangan Larisa dari bahunya. Ia pun beranjak dari tempatnya berdiri. Sempat merasa linglung pria itu memutuskan untuk segera tidur.
“Kak,” panggil Larisa.
“Sebaiknya kamu ganti itu dan kita tidur.”
“Kenapa? Kakak, gak suka?”
“Kakak sudah bilang akan melakukannya setelah kita menikah.”
“Bukannya kita sudah menikah?!” kata Larisa yang berdiri di pinggir kasur.
Abi yang sudah membungkus badannya dengan selimut langsung duduk dari baringnya.
“Kamu tau dari mana?” Raut wajahnya tampak tegang.
Larisa menarik nafas dalam dan duduk di dekat Abi. “Aku sudah merasa ada yang aneh dengan sikap, Mama dan Papa yang mengizinkan kita berduaan. Jadi, aku cari tahu sendiri. Saat aku pinjam ponsel Mama kemarin, aku coba periksa ponsel itu dan aku menemukan video, Kakak, mengucapkan ijab kabul.”
Abi terdiam cukup lama seperti sedang memikirkan sesuatu dan tanpa aba-aba ia langsung mengangkat tubuh Larisa ke atas pangkuannya. Sudah pasti bibir mereka saling membelit satu sama lain entah siapa yang memulai duluan.
“Apa kamu gak marah?” tanya Abi dengan suara parau.
Larisa menggeleng. “ Gak ada alasan aku buat marah sama, Kakak. Aku tau apa alasan Kakak, Mama dan Papa menyembunyikan hal ini. Maaf, ya, aku membuat Kakak, menunggu terlalu lama.”
“Gak papa. Kakak hanya gak mau kamu merasa terpaksa nantinya.”
“Sekarang, Kakak, bisa sentuh dan miliki aku sepenuhnya,” ungkap Larisa. Ia pun membantu Abi melepas kaos yang melekat di badan kekar itu.
Akhirnya Abi menyempurnakan pernikahan yang selama ini ditutupinya dari sang istri. Malam ini ia menjadikan Larisa seorang istri yang sesungguhnya. Ia juga bahagia bisa memiliki Larisa seutuhnya.
Belakangan ini ia sudah memikirkan cara untuk mengatakan tentang status mereka pada Larisa. Hanya saja ia takut kalau wanita itu akan berubah dan menjauhinya jika tau akan kenyataan itu. Apalagi Larisa masih belum siap ketika diajak untuk menikah.
Namun, semuanya tak seperti yang ia duga. Tuhan punya cara lain untuk mengungkapkan pernikahan mereka. Dan ternyata Larisa bisa menerima itu, bahkan istrinya sampai mempersiapkan diri untuk memberikannya malam yang spesial padanya. Malam pertama yang tak akan pernah mereka lupakan. Malam yang akan menjadi awal baru bagi hubungan mereka, karena setelah ini Abi menginginkan sang istri agar bisa segera mengandung buah cinta mereka.
Pasangan itu menikmati malam syahdu mereka dengan santai. Abi tak mau melakuka hal ini dengan terburu-buru. Sebenarnya ia sudah tak tahan untuk segera menghajar menu utama. Namun, ini adalah pengalaman pertama bagi ia dan Larisa, tak ada salahnya mereka menikmati setiap sentuhan dan belaian dari sang kekasih hati.
Setiap sentuhan yang Larisa dapatkan dari Abi membuat relung hatinya bergetar. Seakan menyadari kalau cinta itu kadang memang menyakitkan namun, cinta itu juga mampu menyembuhkan luka yang begitu dalam.
Begitu pula dengan Abi, setiap ******* yang keluar dari mulut istrinya menyadarkan dia, bahwa ini adalah nikmat yang sangat indah atas ujian dan cobaan yang sudah ia lalui. Tuhan langsung membayar semua jerih payah, usaha dan kesabarannya selama ini.
Bukankah kebahagiaan ini yang diidam-idamkan selama ini? Akhirnya mereka dapatkan juga. Menyentuh, menyesap, membelai bahkan menyatukan cinta mereka di malam yang penuh bintang. Membuat keduanya merasa sedang meneguk manisnya madu setelah menelan pahitnya ujian hidup.
Waktu terus bergulir namun, rasanya mereka tak pernah puas. Sepertinya tak ada kata yang mampu menggambarkan bagaimana suasana hati mereka. Ruangan hampa dan sunyi itu mampu mendengar ******* dan erangan serta detak jantung keduanya yang keras dan memburu layaknya ombak yang saling kejar-kejaran di bibir pantai.
Ruangan itu biasanya selalu dilalui oleh udara malam yang dingin, tapi kali ini berubah menjadi panas. Membuat keduanya dibasahi oleh peluh akibat bekerja terlalu keras untuk mencapai titik tertinggi yang namanya sebuah kenikmatan dunia.
Abi melabuhkan sebuah ciuman hangat di kening istrinya sebelum ia akhirnya menarik diri dari bawah sana. Membuat Larisa merasakan denyutan cinta serta kepuasaan yang belum pernah ia rasakan.
“Thank you and I love you,” kata Abi memeluk istrinya.
Larisa yang sudah kelelahan hanya bisa mengangguk di dada bidang itu. Setelah paru-paru mereka mampu bernafas kembali dengan normal. Keduanya memutuskan untuk membersihkan diri lalu mengistirahatkan tubuh yang sempat menegang di atas pembaringan.
...----------------...
Udah ya, cuma bisa begitu... Author gak berani nulis terlalu hot, takut gak lolos riview bab... 😄😁
__ADS_1
Like 👍 nya dong jangan lupa komen juga 🖊