Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Tamat & Terima kasih


__ADS_3

Seiring waktu berjalan luka yang tadinya begitu lebar kini mulai menyatu. Rasa sakitnya lambat laun mulai menghilang. Meski meninggalkan bekas, tapi itu cukup sebagai pengingat kalau dulu kita pernah merasakan yang namanya terluka. Namun, bukan berarti luka itu tak bisa sembuh.


Begitu pula dengan jiwa yang terasa pedih, pasti akan ada obatnya. Perlu waktu untuk bisa menerima, perlu waktu untuk bisa mengikhlaskan dan perlu waktu untuk bisa melepaskan. Dan kini mungkin kepedihan jiwa Abi sudah berhasil disembuhkan oleh waktu. 


Berkat dukungan teman, saudara, sahabat dan keluarga. Abi bisa kembali menjalani hidupnya seperti sedia kala, meski tak ada lagi sang istri di sisi. Pastinya akan ada banyak perbedaan, tapi dengan Kyra ia akan membuat hidup ini terus berjalan seperti saat dulu adanya Larisa.


Kini Abi dan Viona tengah menunggu kepulangan Kyra di sekolah. Mereka akan segera menuju rumah sakit sebab Kania baru saja melahirkan seorang putra. 


“Papa,” sorak Kyra berlari sambil merentangkan tangan.


Abi pun berjongkok agar dirinya dapat menangkap sang putri. “Anak Papa.”


“Ayo, ayo, kita ke Rumah Sakit. Aku gak sabar mau ketemu dedek bayi,” desak Kyra.


“Iya, sayang. Kita jalan sekarang.”


Viona tersenyum melihat Abi dan Kyra akhirnya bisa kembali seperti dulu. Mereka bertiga segera masuk kedalam mobil dan Abi pun melajukan roda empat itu.


Tiba di rumah sakit Kyra langsung berlarian memasuki ruang inap Kania. Ia sudah tak sabar ingin segera melihat sosok bayi mungil yang selama ini terus bergerak-gerak di dalam perut sang Mami.


“Mana dedek Bayi nya Pi,” desak Kyra.


“Sabar, sayang. Kita tunggu dulu susternya ambil dedek bayi,” jawab Boni.


Tak lama suster pun datang membawa Babi boy yang diberi nama Faiq Harsa Maulana.


“Wwaahh ganteng, ya,” puji Kyra.


“Kakak juga cantik,” balas Kania.


Abi dan Viona ikut merasakan kebahagian keluarga kecil itu. “Selamat buat kalian berdua,” kata Abi. 


“Terimakasih,” jawab Boni. “Lo juga bisa menganggap anak kami seperti anak lo sendiri.”


Abi tersenyum. Ia menatap bayi Boni dan Kania yang terlelap pulas dalam pangkuannya. Seakan teringat pada permintaan terakhir sang istri yang ingin kembali hamil. Mungkin ini jawabannya, meski mereka tak mampu mewujudkan hal itu, bukan berarti Abi tak bisa memiliki seorang anak lagi.


“Dia adiknya Kyra dan sudah Pasti dia juga anak Papa Abi.”


“Yyyeeeaaa…” Kyra Bersorak bahagia.


Tak lama Endra dan Davira pun tiba di sana. Keluarga Kania menyambut kedatangan mereka dengan penuh kehangatan.


...🦛🦛🦛🦛...


Malam ini Abi mengajak Viona untuk makan malam di salah satu restoran. Wanita itu pun tak sabar hingga membuatnya mempersiapkan diri di sebuah salon. Dari sana mereka pun bertemu di tempat yang sudah di pesan Abi.


“Kyra sudah tidur?” tanya Viona.


“Belum,” jawab Abi. 


“Makasih, ya, Bi, atas makan malamnya.”


“Sama-sama, Vi. Ini sebagai bentuk rasa terimakasih aku buat kamu.”


Wanita itu tersenyum hambar. “Bi, boleh aku bertanya.” 


“Apa itu?”


“Bagaimana perasaan kamu sekarang?”


Hembusan nafas panjang keluar dari mulut Abi. “Jauh lebih baik.”


“Apa kamu masih merindukan Larisa?”


“Setiap hari aku selalu merindukannya.”


“Lalu sekarang bagaimana?”


“Aku dan Kyra akan terus melanjutkan hidup kami bersama kenangan Larisa.”

__ADS_1


“Bagaimana dengan aku?”


Abi menatap Viona yang duduk di hadapannya. “Maksud kamu?”


“Bagaimana dengan hubungan kita?”


Abi mengangguk paham, lalu ia tersenyum. “Aku pikir kamu datang dan mau membantu dengan hati yang tulus. Tapi ternyata kamu mengharapkan balasan atas perasaan kamu itu.”


“Bukan itu maksud aku, Bi. Aku hanya bertanya, jika aku punya peluang, maka aku akan selalu ada disini sampai kamu benar-benar bisa melupakan Larisa.”


Abi menyudahi makannya lalu meneguk segelas air putih. “Vi, aku mengajak kamu ke sini hanya untuk mengatakan terimakasih, karena selama ini kamu ada dan mau menamani aku melewati hari-hari yang sulit. Terimakasih juga atas waktu yang sudah kamu korbankan. Jika selama ini kedekatan kita membuat kamu berharap lebih, maaf aku gk bermaksud seperti itu.”


“Tapi, Bi, apa kamu tak mau mencoba?”


Abi tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Maaf, Vi. Hati aku sudah dibawa pergi oleh Larisa.”


Penolakan itu kembali membuat harapan Viona hancur lebur tak bersisa. Ia tertunduk menyadari sebuah kesalahan yang sudah dilakukannya. “Kamu gak perlu minta maaf, Bi. Aku yang salah karena terlalu berharap dan secara tidak langsung aku yang membuat diri ini merasa kecewa. Padahal kamu tak pernah meminta aku untuk tetap di dekat kamu.”


“Terimakasih sudah menyadarinya, Vi. Sekali lagi aku benar-benar minta maaf karena tak bisa membalas perasaan tulus itu.”


Viona tersenyum lebar meski sebenarnya dalam hati ia menangis. “It’s Ok. Aku baik-baik saja kok. Mungkin setelah ini aku akan kembali ke Jakarta.”


“Semoga kamu bisa menemukan seorang pria yang baik di sana. Hingga kamu bisa saling mencintai dan dicintai.”


“Aamiin.”


“Kalau begitu kita pulang sekarang? Biar aku antar.”


Viona menggeleng. “Aku masih mau di sini. Kamu bisa pulang duluan, Kyra pasti sudah menunggu Papanya.


“Hahaha … iya. Nih dia sudah menghubungi aku.” Abi menunjukkan layar ponselnya pada Viona. Tampak panggilan dari nomor Davira yang pasti itu adalah Kyra.


Sambil mengangkat telpon, Abi meninggalkan Viona dan berjalan menuju parkiran. 


Saat punggung lebar itu bergerak jauh, luruh sudah bendungan yang sejak tadi berusaha ditahan Viona. Jatuh dengan derasnya meski ia sudah berusaha untuk menyusut air mata. Begitu sakit hingga membuat dada terasa sesak membuatnya sulit untuk bisa bernafas normal.


...🐣🐣🐣🐣...


“Ini waktu Mama lagi hamil Kyra.” Abi menunjukkan foto sang istri ketika tengah mengandung.


“Kalau ini?” Gadis kecil itu menggeser layar ponsel untuk melihat foto lainnya.


“Ini waktu Mama wisuda. Kyra masih kecil waktu itu.”


“Papa?”


“Iya, sayang?”


Tanpa sadar gadis kecil itu pun menjatuhkan sebulir air mata. “Aku kangen Mama.”


Abi segera memeluk sang anak dan mengusap punggungnya. Selama ini putrinya itu tampak begitu kuat ternyata sangat rapuh. Menutupi luka dan kesedihannya dengan tawa yang riang sungguh itu sangat menyakitkan.


Sebenarnya ia pun juga merasakan hal yang sama, tapi kali ini Abi ingin jauh lebih kuat untuk sang putri. “Kyra mau ke makamnya Mama?”


Gadis itu mengangguk di dada sang Papa.


“Besok Papa bicara sama Opa, ya. Sekarang kita tidur.” Abi mengusap pipi sang anak yang basah lalu merapikan bantal agar gadis itu bisa berbaring.


“Selamat malam, Papa.”


“Malam juga, sayang.”


...🐌🐌🐌🐌...


“Makanm Larisa sudah Papa pindahkan ke Bali,” jelas Endra. “Saat kami memutuskan untuk tinggal di sini, itu artinya kami juga akan membawa Larisa.”


Abi merasa lega mendengarnya.


“Kalau kamu dan Kyra ingin ke makamnya Larisa, nanti Papa dan Mama akan temani.”

__ADS_1


“Gak papa, Pa. Biar Aku dan Kyra saja yang pergi.”


“Kamu yakin?”


“Aku yakin, Pa.


Endra pun menatap sang istri dan Davira mengangguk setuju.


“Ya, sudah.”


...🦋🦋🦋🦋...


Abi dan Kyra kini tengah diperjalanan menuju komplek pemakaman umum. Sebelumnya mereka pun sempat membeli serangkai bunga segar untuk diletakkan di makam Larisa nantinya. Tiba di parkiran ayah dan anak itu segera turun dari mobil. Sebelum melangkah keduanya saling menatap satu sama lain seolah saling memberikan kekuatan.


Tak kan pernah habis airmataku


Bila ku ingat tentang dirimu


Mungkin hanya kau yang tahu


Mengapa sampai saat ini ku masih sendiri


“Assalamualaikum, sandaran jiwa, apa kabarmu?” sapa Abi. Ia dan Kyra menekuk lutut agar bisa sejajar dengan gundukan tanah yang menyimpan jasad sang istri.


“Mama, Kyra dan Papa datang,” tambah sang anak.


Abi pun tersenyum lalu merangkul sang anak agar merapat padanya. “Semoga kamu tenang di surganya Allah.” Abi menarik nafas dalam untuk melepaskan sesak di dada yang mulai terasa. “Kakak dan Kyra kesini untuk melepas rasa rindu akan kehadiran kamu disisi. Mungkin kita tak lagi bisa bersama, tapi yakinlah doa kami akan selalu sampai untukmu. Berbahagialah sayang, karena sekarang kamu sudah berada di tempat yang abadi. Bisa melihat kami di dunia fana ini, sedangkan kami hanya bisa membayangkanmu dengan mata terpejam. Maafkan aku jika sempat membuatmu bersedih di sana, tapi sekarang aku akan membuatmu tak hentinya tersenyum melihat kami bisa hidup seperti sedia kala meski tanpa kehadiranmu.”


Adakah di sana kau rindu padaku


Meski kita kini ada di dunia berbeda


Bila masih mungkin waktu kuputar kan kutunggu dirimu


Setelahnya Kyra dan Abi meletakan bunga yang tadi mereka bawa di atas batu nisan yang bertuliskan nama wanita yang paling berarti dalam hidup mereka. “Kita baca doa buat Mama, ya,” ajak Abi.


Kyra mengangguk lalu menengadahkan kedua tangannya dan berdoa bersama sang Papa. 


“Pamit sama Mama.” Abi berkata selesai mengaminkan doa mereka.


“Ma, Kyra sama Papa pulang dulu, ya. Kami pasti bakalan sering-sering kesini. Dada, Mama, mampir ke mimpi aku ,ya.”


Abi pun tersenyum pada sang anak. “Assalamualaikum bidadari surgaku, tunggu aku di sana.”


Kemudian ayah dan anak itu segera melangkahkan kaki menjauh dari makan Larisa dengan gandengan tangan yang tak pernah lepas.


Biarlah ku simpan sampai nanti aku kan ada di sana


Tenanglah dirimu dalam kedamaian


Ingatlah cintaku kau tak terlihat lagi


Namun cintamu abadi


Kerispatih ; Mengenangmu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terima kasih buat pembaca setiaku yang masih bertahan sampai akhir yang mungkin bisa dibilang tidak sesuai harapan kalian. Namun, author berharap dari kisah ini ada sedikit hikmah yang dapat kita petik bersama.


Novel atau sebuah kisah karangan tak harus melulu tentang dunia mimpi yang indah, tapi sesekali ada kalanya penulis mengisahkan sedikit cerita yang terinspirasi dari dunia nyata. Agar orang-orang tahu kalau dunia khayalan pun kadang juga tak selalu seindah.


Author gak tau lagi mau ngucapin apa, sekali lagi terima kasih banyak 😊😍🥰😘🤩🥳💐 atas like 👍 komen 🖊 hadiah 🎁 serta vote 🔖 dari kalian semua. Termasuk dukungan yang selalu bikin aku terus semangat untuk terus menulis.


Jangan kapok baca karya-karya aku selanjutnya. Karena aku jamin setiap kisah yang aku suguhkan memiliki cerita yang berbeda.



Semoga kalian semua bisa mampir di novel ke-4 author, terus mendukung dan menjadi saksi dari perjuangan dan perjalanan author menjadi penulis hebat.

__ADS_1


Aamiin.


__ADS_2