
Larisa sendiri sepertinya asik bersama Riri. Ternyata gadis itu memang pintar mengambil hati seseorang untuk berteman dengannya. Sore mulai menampakkan diri, Abi dan keluarga pun pamit pada Abah serta Umi. Larisa juga mengatakan kalau jumat besok Abah tak perlu lagi datang ke Villa karena dia dan Abi akan datang ke sini setiap minggu.
Gadis itu sepertinya menemukan kenyamanan disini. Ia bahkan sudah akrab dengan Riri juga dengan adik-adik lainnya.
“Hati-hati di jalan, nanti kalau ke Bali lagi jangan lupa kesini,” kata Abah pada Endra.
“Pasti itu, Bah. Terimakasih atas jamuannya juga terimakasih sudah membantu putri saya.”
“Sebagai sesama umat islam kita wajib membantu, Pak.”
Larisa pun berpamitan dengan teman-teman barunya. “Minggu besok aku akan bawa kamera dan kita bakalan bikin video.”
“Kami tunggu,” jawab Riri.
Mereka semua masuk kedalam mobil sedan warna putih milik Abi. Tak lupa melambaikan tangan sampai Abah dan yang lainnya tak terlihat lagi.
...🐸🐸🐸🐸...
Malam harinya mereka melakukan BBQ-an di halam rumah sambil menikmati pemandangan. Abi membantu istrinya memanggang daging sedangkan Davira juga Endra duduk manis di atas bangku.
“Gimana kalau besok kita ajak Mama dan Papa jalan-jalan? Sebelum mereka pulang ke Jakarta,” tanya Abi pada Larisa.
“Hhmmm … .”
“Ayo lah, La,” bujuk Abi.
“Kemana?”
“Kakak belum tahu. Nanti kita tanya sama mereka, maunya kemana.”
Larisa mengangguk setuju dan Abi tersenyum senang.
Daging yang mereka panggang sudah masak, Abi dan Larisa menghampiri orang tua mereka.
“Sudah matang rupanya,” seru Endra.
Mereka semua mulai mencicipi daging panggang itu.
“Gimana kalau besok kita jalan-jalan setengah hari di sini,” tawar Abi.
“Boleh, Papa setuju.”
“Kemana?” tanya Davira.
“Terserah Mama dan Papa aja.”
__ADS_1
“Kita sih terserah kalian juga, maunya kemana,” jawab Endra.
“Ok, gimana kalau kita pakai jasa paket tour. Soalnya aku gak familiar sama jalanan sini,” usul Abi.
Endra dan Davira setuju.
Abi pun mulai mencari agen penyedia jasa paket tour di ponselnya. Setelah dapat ia langsung memilih paket wisata yang akan mereka kunjungi. “Oh, ya, Mama sama Papa mau langsung pesan tiket pesawat buat pulang?”
“Kita kan belum tahu pulang dari jalan-jalannya jam berapa,” kata Endra.
“Rute perjalanan kita sudah diatur oleh agennya, Pa. Jadi, kita sampai di rumah sekitar jam empat sore.”
“Ok kalau begitu kami pesan penerbangan jam lima sore. Sebelum jalan-jalan Mama bisa beres-beres dulu. Jadi, nanti pulang dari jalan-jalan kita bisa langsung berangkat ke bandara,” jelas Endra.
Abi pun setuju. Ia memesankan tiket kepulangan untuk mertuanya itu.
Selesai bercengkrama dan udara laut terasa semakin dingin menembus kulit. Mereka memutuskan untuk kembali kedalam dan segera beristirahat.
“La.” Abi memanggil Larisa di depan pintu kamarnya.
“Ya, Kak?”
“Besok dandan yang cantik lagi, ya! Kakak, suka lihatnya.”
“Ya sudah, Kamu mau tidur sama Mama, Papa kan? Kalau gitu, Kakak ke kamar dulu. Good night dan mimpi indah.” Terakhir abi memberikan kecupan hangat di dahi istrinya.
Larisa cuma bisa diam mematung sampai Abi menghilang. Ia tak tahu harus bersikap seperti apa, ia juga bingung akan arti kecupan itu. Seakan merasakan sesuatu di dalam dirinya namun, ia tak tahu itu apa.
...🐛🐛🐛🐛...
Pagi-pagi selesai olahraga dan sarapan mereka semua bersiap karena tepat pukul setengah sembilan mobil jemputan akan datang. Abi tampaknya bersemangat sekali karena ini adalah pertama kalinya ia akan jalan keluar bersama sang istri.
Ia malah sudah siap terlebih dahulu dari pada yang lainnya.
“Kameranya bawa aja buat foto-foto." Abi berkata pada sang istri yang sudah tampil cantik.
Gadis itu kembali ke kamar untuk mengambil kameranya.
Berangkat menaiki mobil bus mini yang pas untuk keluarga mereka. Abi dan Larisa duduk di bangku belakang sedangkan Endra dan Davira duduk di bagku tengah. Selama perjalanan Abi tak bosan-bosannya menggoda wanita yang dicintainya itu. Sesekali ia mengambil foto sang istri menggunakan kamera.
“Kak, udah dong.” Larisa merasa kesal.
“Oke, ini Kakak balikin kameranya.”
Larisa memonyongkan bibirnya karena cemberut dan Abi pun membalas dengan kecupan jarak jauh. Membuat Larisa jadi salah tingkah.
__ADS_1
Tepat pukul 9.30 mereka sampai di tempat wisata yang pertama yaitu menonton pertunjukkan tari barong. Larisa pun segera menyiapkan kameranya untuk mengabadikan gambar yang bagus. Abi selalu mendampingi sang istri, kadang ia juga mengarahkan Larisa pada objek lainnya yang sayang jika dilewatkan.
Pukul sebelas siang waktunya menikmati makanan khas Bali di salah satu restoran. Karena semua menu yang mereka pesan memang sangat enak, mereka menyantapnya dengan lahap. Larisa pun bahkan sampai nambah kali ini, ia merasa sedang dalam surganya makanan.
Selesai makan siang mereka berangkat ke wisata Tegalala atau sawah terasering. Pemandangan yang sangat menakjubkan, membuat Larisa tak henti-hentinya membidikkan kamera ke segala arah.
Abi begitu asik dengan istrinya, Endra dan Davira pun juga asik berdua. Mereka seolah mengerti jadi sengaja tak mau berbaur dengan sang putri meski ini adalah hari terakhirnya di sini. Biarlah, mereka memberikan waktu pada menantunya untuk mendekati Larisa.
Terakhir mereka mengunjungi Monkey Forest. Di sana Larisa tak henti-hentinya tertawa melihat tingkah monyet yang merebut pisang dari tangan Abi dan kedua orang tuanya. Baginya hal itu sangat lucu serta menggemaskan. Tak lupa ia juga mengabadikan momen itu dengan kameranya.
Udara yang segar serta pepohonan yang tinggi terasa seperti kembali ke alam. Hal itu membuat Larisa semakin merasakan kenyamanan. Ia sepertinya jadi betah tinggal di Bali di bandingkan kalau tinggal di kota besar Jakarta.
Pukul tiga sore mereka pun pulang ke rumah diantar kembali oleh mobil dan supir jasa paket tour. Sesuai perkataan Abi semalam mereka sampai di rumah tepat pukul empat sore.
“La, Mama dan Papa pulang dulu. Satu bulan lagi kami akan ke sini. Mama harap kamu semakin membaik,” ucap Davira pada putrinya.
“Iya, Ma.”
“Satu lagi. Cobalah untuk belajar menerima Abi.”
“Maksud, Mama, bagaimana?”
“La, kalian itu dua orang dewasa. Masak kamu gak ngerti maksud Mama?”
“Oh. Aku masih butuh waktu, Ma. Untuk saat ini aku ingin mencintai diri sendiri dulu.”
“Silahkan! Tapi kamu juga bisa kan belajar untuk membuka hati.”
Larisa mengangguk ragu.
“Jangan sampai kamu menyesal nantinya.”
Selesai mengambil barang di kamar, Davira dan Larisa turun dari lantai dua menghampiri Abi dan Papanya.
“Sudah siap?” tanya Abi.
“Siap,” jawab Davira.
Mulai hari ini aku akan up date dua bab per hari...
Jadi, jangan lupa like 👍 dan komentarnya 🖊 di setiap bab, biar aku makin semangat nulisnya ☺😄😁
Jadikan novel ini favorit ❤ kalian ya, biar dapat notif kalau bab baru sudah up date...
Terimakasih 🥰
__ADS_1