Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 96


__ADS_3

Abi memang sengaja mengajak istrinya untuk liburan dan jalan-jalan di kota ini. Ia hanya ingin membuat Larisa merasa nyaman dan melupakan soal kekhawatiran yang dirasakan. Seakan Abi ingin menyatakan, dimanapun mereka berada semua akan baik-baik saja dan Ia akan selalu ada dan menemani.


Endra pun mendukung ide dari menantunya itu, maka ia sudah mengatur segalanya. Setelah Larisa melihat-lihat ruang kerja, Indah pun diminta untuk memenuhi permintaan Larisa. Mulai dari menganti sofa, wallpaper dinding serta furniture lainnya.


Keesokan hari, Mereka semua berangkat menuju rumah Ningsih. Rencananya bukan hanya Larisa, Abi dan Kyra saja yang akan menginap, tapi Endra dan Davira juga ikut menginap di sana. Mereka benar-benar menikmati momen langka ini. Sebab jarang sekali mereka semua bisa berkumpul seperti ini.


...🐸🐸🐸🐸...


Malamnya mereka semua berkumpul di ruang keluarga.


“Papa sudah pesankan satu hotel buat kalian berdua liburan. Anggap aja honeymoon yang kedua,” kata Endra.


“Maksud, Papa, aku sama Kak Abi?” tanya Larisa.


“Iya, terus siapa lagi?”


“Terus Kyra gimana?”


“Kyra kan bisa sama kami, sayang. Dua atau tiga hari pasti gak akan masalah sama dia. Nanti kami bisa ajak dia keliling Jakarta,” jawab Davira.


Larisa pun menatap suaminya.


“Kalau Kakak sih terserah kamu aja,” terang Abi.


“Tanya Kyra dulu deh.”


“Kalau gitu Papa ke kamar mau istirahat. Silahkan kamu pikir-pikir dulu atau mau pergi bertiga sekalian juga gak papa,” ujar Endra.

__ADS_1


Larisa mengangguk setuju lalu ia pun menghampiri sang putri yang tengah mewarnai di atas karpet. “Kalau Mama sama Papa pergi berduaan boleh, gak?”


“Boleh. Mau bikin dedek bayi, ya? Biar Mama bisa hamil kayak Mami Nia.”


Larisa menatap tajam pada sang Mama. “Siapa yang ngomong kayak gitu ke kamu?”


“Oma sama Eyang.”


Davira dan Ningsih mengalihkan pandangan mereka, seolah-olah tak tau apa-apa dan Abi pun hanya tertawa melihat tingkah kedua para Nenek itu


“Dengerin Mama. Apa yang dikatakan oleh Oma sama Eyang itu gak benar. Intinya Mama sama Papa butuh waktu berdua buat nenangin pikiran, sebelum kami kembali bekerja. Kamu tau kalau Papa sibuk terus kan, Mama nantinya juga bakalan sibuk kerja di kantor Opa. Jadi, sebelum itu Mama dan Papa butuh refreshing.”


Kyra pun mengangguk paham.


“Setuju? Kamu gak akan nangis nanti kalau Mama sama Papa gak ada?”


“Gak, cuma dua hari aja.”


“Tiga hari,” sela Davira.”


“Ya udah tiga hari, gak boleh nambah lagi,” jawab Kyra.


Akhirnya Larisa pun setuju untuk pergi liburan bersama Abi dan meninggalkan sang putri bersama para Kakek-Nenek.


...🦋🦋🦋🦋...


Larisa memutuskan untuk berangkat ke hotel saat sore hari. Sebelum itu ia menjelaskan pada sang Mama apa saja yang harus dilakukan untuk putrinya. Ini adalah kali pertama Ibu muda itu meninggalkan sang anak. Jadi, pastinya ia merasa berat hati dan sedikit khawatir tapi ia harus pergi karena suaminya juga butuh waktu untuk berduaan dengannya.

__ADS_1


Sejak ada Kyra perhatian dan kasih sayangnya sudah terbagi dan Abi kadang suka mengalah kalau Larisa lebih memperhatikan sang putri. Meski anaknya itu kadang tampak lebih dekat dengan Papanya, ia tak merasa cemburu.


Habis solat azhar Larisa dan Abi turun dari kamar membawa satu koper kecil. Sebelum masuk mobil, Larisa kembali memeluk sang putri. “Jangan nangis dan jangan bikin Oma sama Opa repot.”


“Iya, Mama,” jawab Kyra.


“Papa sama Mama pergi, ya. Kalau kangen nanti telpon aja,” tambah Abi.


Gadis kecil itu mengangguk lalu memeluk sang Papa.


“Igat, ya, Ma, jangan ajarin Kyra hal-hal yang belum pantas untuk di dengarnya.” Larisa mengingatkan kedua para Nenek untuk menjaga bicara mereka terhadap sang putri.


“Iya, kita janji gak akan ngomong yang aneh-aneh lagi sama Kyra,” jawab Ningsih.


“Kami berangkat.” Abi berkata sambil menurunkan putrinya dari gendongan.


“Iya, have fun pokoknya,” balas Davira.


Pasangan itu pun segera masuk mobil dan terakhir Larisa melambaikan tangan saat mobilnya bergerak meninggalkan halaman rumah. Tampak sang putri membalas lambaiannya.


“Langsung ke hotel atau mau cari makan dulu?” tanya Abi.


“Kita ke Monas dulu, yuk. Sudah lama kita gak kesana.”


“Oke.” Abi pun memutar mobilnya ke jalur menuju Monas.


Sampai di sana mereka hanya jalan-jalan sore menikmati suasana kota Jakarta serta Larisa membeli beberapa jajanan yang ada. Karena waktu sangat singkat sebab sholat magrib akan segera masuk, mereka pun bergegas menuju hotel.

__ADS_1


__ADS_2