Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 124


__ADS_3

Abi sudah mengambil tindakan, ia membuat laporan atas perbuatan Bayu yang menguntit istrinya. Pria itu pun ditangkap oleh polisi kala tengah mendekati Larisa di depan kantor saat jam pulang kerja. Abi  pun tersenyum mengejek ke arahnya.


“Kamu pikir saya gak bisa melakukan apa-apa kan?! Sekarang kamu terima akibatnya karena sudah menantang saya,”  ucap Abi.


Bayu cuma bisa diam seribu bahasa karena sadar sudah menantang orang yang salah. 


Di kantor kepolisian ia terpaksa harus menandatangani surat perjanjian kalau akan menjauhi Larisa dan keluarganya. Karena Luna hanya mau membebaskannya jika sudah menandatangani surat itu.


“Ini yang pertama dan terakhir kalinya aku membantu kamu, Bay. Setelah perceraian kita selesai, aku gak akan mau tau lagi soal kamu jika menghadapi masalah,” kata Luna.


Dengan kesalnya Bayu menjawab, ” Iya.”


“Ingat, Bay, kamu gak boleh lagi datang ke perkantoran Larisa.”


“Iya, bawel banget sih.”


“Aku harus bawel, karena nanti kamu pasti akan mencari celah untuk menemui Larisa lagi,” marah Luna.


Bayu yang tengah mengemudi, menghentikan mobil itu di tengah jalan. Ia memilih keluar dari sana dan meningaka Luna sendirian. 


“Dasar gak tau terima kasih, sudah dibantu malah pergi begitu saja.” Umpat Luna meneriaki suaminya itu.


“Terimakasih banyak Ibuk Luna yang terhormat.”  Bayu kembali menghampiri mobil istrinya.


“Dasar gak tau diri.” Luna pun melajukan mobilnya dari sana meninggalkan Bayu seorang diri di jalanan. Tak  peduli dengan apa pria itu akan pulang. Lebih baik ia kembali ke kantor menyelesaikan pekerjaan yang menanti

__ADS_1


...🐛🐛🐛🐛...


Sejak dilaporkan pada polisi, Bayu pun tak lagi berani menampakkan batang hidungnya di depan Larisa. Abi merasa tindakan yang dilakukannya sangat tepat membuat sang istri menjadi nyaman dalam menjalani hari-harinya di kantor.


“Sayang.” Larisa tengah membujuk Abi.


“Tumben, ada apa?” tanya suaminya. Abi yang sedang sibuk dengan laptopnya di atas kasur mengangkat kepala melihat sang istri.


“Kita ke mall, yuk! Katanya minggu besok mau ke Bali. Kita beli oleh-oleh dulu buat Kania sama Kak Boni.


“Besok aja gimana?”


“Pulang kerja?”


“Iya, kalau sekarang sudah malam, sayang.”


“Gak baik Ibu hamil kena udara malam. Besok, aja, ya.”


“Ya udah deh, beneran besok, ya. Kyra sama Mama sama Kyra juga ikut.”


“Iya.Sekarang kita tidur, Kakak capek banget hari ini.”


Mereka pun membaringkan tubuh di atas kasur. Keduanya masih bercengkrama sampai mata terpejam.


...🦋🦋🦋🦋...

__ADS_1


Sorenya pas waktu pulang kerja, Abi menghubungi Larisa kalau ia sudah dekat dengan kantor. Wanita itu pun buru-buru membereskan meja kerjanya dan segera keluar ruangan. 


“Loh, buk, sudah mau pulang?” tanya Indah.


“Iya, kenapa?” tanya Larisa.


“Barusan saya dapat telepon dari resepsionis, katanya Pak Bayu mau ketemu, Ibuk. Sudah janjian lewat jalur pribadi sama, Ibuk,” jelas Indah.


Larisa menggeleng. “Gak ada, saya gak pernah janjian sama dia.”


“Kalau gitu dia bohong dong, Buk. Mana sudah naik ke atas lagi.”


“Ya sudah, kalau dia tiba di sini kamu bilang saja saya gak ada. Saya turun lewat tangga darurat saja.”


“Baik, Buk.”


Pas pintu lift terbuka Bayu melihat Larisa masuk ke pintu tangga darurat. Indah pun tak dapat menahannya.


“Sa, tunggu. Aku mau bicara sebentar.” Bayu berkata saat mengejar mantannya itu.


“Ada apalagi sih, Bay? Kenapa kamu bisa naik, sih? Kamu bohongin resepsionis, ya?” Larisa merasa kesal. Niat hati ingin menghindar tapi akhirnya bertemu juga.


“Aku cuma mau pengen ngobrol aja sama kamu,” jawab Bayu.


Larisa memilih mengabaikan lalu menuruni anak tangga. Sudah terlanjur jadi gak mungkin kalau ia balik lagi ke atas, sudah separuh lantai dituruni. Tinggal mencari pintu lainnya. “Bukannya Kak Abi sudah memperingatkan kamu untuk menjauhi aku?!”

__ADS_1


“Aku sudah coba, tapi aku gak bisa.” Bayu terus mengekori Larisa.


Larisa mencoba menghubungi suaminya. Ia tak tahan jika Bayu terus mengejarnya.


__ADS_2