Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 60


__ADS_3

Hari jumat pun tiba, seperti biasa ini sudah minggunya Davira dan Endra akan datang berkunjung ke villa. Larisa pun tampak semangat menyiapkan makan malam untuk kedua orang tuanya itu. Pasti mereka sudah sangat merindukan hasil masakannya.


“Istirahat dulu, La,” kata Abi.


“Tinggal dikit lagi, Kak."


“Kamu masak banyak banget sih.”


“Ada tamu psesial yang mau datang.” Larisa pun tersenyum lebar.


“Siapa?”


“Ada deh.”


“Duduk dulu, ya, kamu udah dari tadi masaknya loh.”


“Iya, Mbak, istirahat aja. Ini biar saya yang selesaikan,” tamba Bibik.


“Iya deh, Kaki aku juga udah pegal, dari tadi berdiri terus.”


“Yuk, sini, Kakak pijitin.”Abi membawa istrinya menuju sofa ruang tengah.


“Habis ini kita mandi, ya Kak. Mama sama Papa udah terbang satu jam yang lalu.”


“Iya, sayang. Kita mandi bareg,” goda Abi.


“Hhhuuu katanya kemarin kuat tahan sebulan.” Larisa mencibir.


“Kayaknya gak sanggup deh.”


Larisa hanya tertawa lebar. 


“Kamu kenapa sih? Dari tadi ketawa mulu, happy banget kayaknya.”


“Emang salah kalau aku happy?”


“Ya, bagus dong. Ibu hamil itu emang harus happy.”


“Terus ngapain tanya-tanya.”


“Gak kayak bisanya gitu,” jelas Abi.”


“Nanti, Kakak, juga tau. Yuk, ke atas kita siap-siap.”


“Sini, Kakak gendong.”


Sampai di kamar Abi merebahkan sang istri di atas kasur.


“Kak, nanti keburu Mama sama Papa sampai,” jelas Larisa.


“Masih lama, sayang. Kakak, mau jenguk anak kita dulu, boleh, ya.” Abi manatap Larisa dengan tatapan penuh harap dan damba. Membuat wanita yang ada di bawahnya itu tak sanggup untuk menolak, karena jujur ia pun merindukan sentuhan sang suami.


...🧆🧆🧆🧆...


“Mama sama Papa udah jalan ke sini,” kata Larisa.


Mereka baru saja selesai memberikan kepuasan batin satu sama lain yang belakangan tak pernah dilakukan mengingat kandungan Larisa yang harus dijaga.


“Mandi, yuk,” ajak Abi.


“Ayok. Takutnya nanti kita telat lagi menyambut kedatangan mereka.” 


“Gak akan.” mereka berdua segera bersihkan diri di kamar mandi.


Tak lama kemudian terdengar Bibik mengetuk pintu kamar. “Mas, Mabk, Ibuk sama Bapak sudah sampai.”


“Iya, Bik, kami bakalan segera turun,” jawab Abi di ambang pintu kamar.


“Mereka sudah di ruang tengah.”


“Makasih, Bik.”

__ADS_1


“Kalau gitu saya ke bawah,” pamit ART itu.


“Cepetan, yang. Mama sama Papa sudah sampai,” kata Abi pada istrinya.


“Gara-gara, Kakak, kan aku jadi lama.”


“Hehehe, maaf sayang. Kakak, bantu keringkan rambutnya, ya.”


Larisa pun bergegas memakai pakaiannya. 


Pasutri itu segera keluar dari kamar dan menuruni anak tangga satu persatu. Abi sesekali menggoda istrinya membuat pipi Larisa jadi bersemu merah.


“Abi.”


Panggilan itu membuat Abi mengalihkan matanya dari sang istri


“Mama?”


Pria itu mempercepat langkahnya menuruni anak tangga ia bahkan sampai melupakan Larisa. 


“Maafin Mama,” ujar Ningsih memeluk sang putra. 


Abi sempat bingung kenapa sang Mama bisa ada di sini bahkan bersama Endra dan Davira.


“Kok gak bilang sama aku kalau mau datang. Jadi aku bisa jemput ke bandara,” tanya Abi.


Ningsih menggeleng. Dibelainya pipi sang anak. Terakhir mereka bertemu sekitar beberapa bulan yang lalu. Tapi kini sudah banyak perubahan pada diri Abi, membuatnya meneteskan air mata.


“Ma.” Larisa pun datang menghampiri dan ia raih tangan Ningsih lalu diciumnya punggung tangan wanita yang sudah melahirkan suaminya itu.


Tak kuasa menahan rindu, Ningsih meraih sang menantu ke dalam dekapan. “Maafin, Mama, ya.”


“Justru aku yang harusnya minta maaf sama, Mama. Karena sudah memisahkan, Mama dengan, Kak Abi.”


Ningsih menggeleng lalu di labuhkan sebuah kecupan penuh kasih sayang di dahi menantunya itu. “Kita duduk dulu,” ajaknya membawa Larisa duduk di sofa. Sedangkan Abi masih bingung dengan apa yang terjadi.


Enda dan Davira hanya diam menikmati suasana haru yang tercipta akibat pertemuan menantu dan mertua itu. Pastinya mereka sangat bersyukur karena kini Ningsih sudah memberikan restu pada pernikahan anaknya.


“Sehat, Ma. Sekarang aku gak perlu bedrest lagi,” jelas Larisa.


“Mama kamu sudah cerita sama Mama soal kondisi kehamilan kamu. Makanya, Mama ikut mereka kesini.”


“Tunggu! Kayaknya aku di sini satu-satunya orang yang ketinggalan cerita deh,” sela Abi.


Semua orang pun tertawa. 


“Kemarilah,” kata Ningsih pada sang putra.


Abi pun berpindah duduk ke samping mamanya.


“Waktu itu Larisa menitipkan surat pada Mama mertua kamu buat Mama. Awalnya, Mama ragu untuk membaca, tapi rasa penasaran terus mengusik ketenangan Mama. Akhirnya Mama membaca surat yang ditulis oleh istri kamu. Sekali lagi maafkan Mama karena terlalu memaksakan keinginan sama kamu. Sampai Mama lupa dengan kebahagiaan kamu,” terang Ningsih.


“Artinya?”


“Artinya, Mama merestui pernikahan kalian. Gak ada lagi alasan Mama untuk meminta kamu menceritakan Larisa. Karena sepertinya kamu sangat bahagia. Lihatlah, sekarang putra Mama terlihat semakin tampan, bahkan wajahnya menggambarkan betapa sempurnanya hidup kamu sekarang.”


Abi langsung mendekap Ningsih. Akhirnya hati wanita itu luluh juga, menerima Larisa dengan lapang dada dan merestui pernikahan mereka. Abi pun mengucapkan syukur pada yang maha Esa dalam dada. Doa yang selama ini ia panjatkan akhirnya terkabul juga.


“Ngobrolnya dilanjut nanti. Sekarang kita makan malam dulu. Aku sudah masak,” sela Larisa.


“Boleh, tuh. Papa udah kangen sama masakan kamu,” ujar Endra.


“Mari, Buk, kita ke meja makna. Cicipi masakan menantunya, pasti ketagihan,” tambah Davira.


“Ayo, Ma,” ajak Abi.


Para orang tua itu sudah jalan duluan sedangkan Abi dan Larisa mengiringi di belakang. “Thank you,” bisik Abi di telinga istrinya.


“Apapun demi kamu akan aku lakukan,” balas Larisa berbisik.


...🧃🧃🧃🧃...

__ADS_1


Di meja makan dua keluarga itu akhirnya menjadi satu. Tak ada lagi halang rintang yang dapat membuat mereka menahan tawa nan sangat lebar untuk merayakan kebahagiaan ini. 


“Jadi, gimana? Mau langsungkan pesta pernikahan sekarang atau nunggu Larisa lahiran?” tanya Endra.


“Sekarang aja,” jawab Larisa.


“Sayang, apa gak tunggu kamu lahiran aja?” sanggah Abi.


“Sekarang aja, Kak biar kita bisa honeymoon sekalian baby moon.”


“Kita tunggu kandungan kamu beberapa bulan lagi, ya.”


“Iya. pastinya kita harus mempersiapkan pernikahan dulu dong, Kak. Kan gak mungkin langsung besok.”


“Sudah punya konsepnya?” tanya Ningsih.


“Sudah, Ma. Kita berdua pengennya yang simpel. Acaranya itu di hutan pinus atau di taman gitu,” jawab Larisa.


“Bukannya pernikahan impian kamu itu kayak princess, ya, sayang?” tanya Davira.


“Itu dulu, Ma.  Membosankan. Sekarang aku sama Kak Abi sukanya yang simpel tapi elegan. Kita undang keluarga besar aja sama beberapa teman dan sahabat terdekat. Biar lebih intimate,” terang Larisa.


“Papa sih setuju aja. Toh ini pernikahan kalian,” balas Endra.


“Kalau, Mama, gimana,” tanya Abi pada Ningsih.


“Terserah kamu sama, Larisa. Benar apa kata, Pak Endra ini kan pernikahan kalian.”


“Makasih, ya, Ma.”


“Di sini atau di Jakarta?” tanya Davira.


“Disini aja,” jawab Larisa cepat. 


“Nanti, Papa minta sekretaris Papa untuk cari WO buat kalian. Biar Larisa gak ribet  cari sendiri,” kata Endra.


“Kalau itu aku setuju, Pa. Aku kayaknya juga gak punya waktu untuk mengurus pernikahan kami.” jelas Abi.


“Semua sudah oke sama konsepnya. Bagaimana dengan tanggal? Kapan tepatnya?”


“Satu bulan lagi? Gimana?.” Larisa meminta pendapat yang lainnya.


“Kecepatan, La. Dua bulan lagi aja, ya. Tunggu kandungan kamu benar-benar kuat,” sanggah Abi.


“Abi protektif banget sama, Larisa, ya,” ujar Ningsih.


“Sama anaknya, Ma,” sela Larisa.


“Sama aja, sayang,” jelas Abi.


“Papa, setuju sama Abi,” ujar Endra.


“Mama juga,” tambah Davira.


“Oke, kalau gitu dua bulan lagi fix, ya. Nanti tanggalnya biar aku sama Kak Abi cari dulu,” jawab Larisa.


Mereka pun segera menyudahi makan malam itu dan segera ke kamar masing-masing. 


...****************...


Yuhu... mulai besok author gak akan crazy up lagi..


karena tabungan bab udah menipis, jadi di stok dulu, ya..


Tapi tenang aja... akan author usahakan up date 2 bab 1000 kata setiap hari...


Terimakasih banyak buat kalian semua yang sudah meninggalkan jejaknya dan juga memberikan dukungan... 😍😍😍🥰🥰🥰😘😘😘


Terus pantau kisah Abi dan Larisa, tunggu kejutan lainnya, ya.. 😉


Like 👍 komen 🖊 hadiah 🎁 serta Vote 🔖 jangan lupa.

__ADS_1


__ADS_2