Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 149


__ADS_3

Abi pun berlutut. “Ma, maafin aku. Aku gak bermaksud untuk menyakiti Kyra. Semua diluar kendali, Ma.”


“Benar kata Boni, kamu itu egois. Merasa sangat terluka tapi kamu lupa kalau di sini Kyra-lah yang paling terluka. Setelah dia kehilangan Larisa, sekarang ditambah dengan sikap kamu yang membuatnya kehilangan sosok Papa.”


“Gak, Ma, Kyra gak akan kehilangan Papanya. Aku janji akan berusaha mengendalikan diri dan belajar mengikhlaskan Larisa.”


Tak sanggup menahan kesedihan, Davira pun memilih pergi meninggalkan sang menantu. Abi pun beralih pada Papa mertua. Berharap Endra bisa bijak memahami situasinya tadi, tapi nyatanya pria tua itu juga ikut merasa kecewa atas sikapnya. 


“Maaf, Bi. Papa butuh waktu sendiri,” kata Endra berlalu dari sana. 


 


Merasa putus asa, Abi pun bersujud di atas lantai. Menyesali semua yang sudah terjadi bahkan ia sangat merasa bersalah pada Almarhum sang istri yang pasti melihatnya dari surga. Ia pun menangis sejadi-jadinya membuat Viona yang mendengarkan ikut merasakan kepedihan hati Abi yang di sayat sembilu.


Dirangkulnya pria itu. “Menangislah dan setelah ini coba kamu harus kuat.”


Tersedu-sedu Abi menganggukkan kepala di bahu Viona. “Tolong bantu aku, Vi. Bantu aku mengikhlaskan kepergian Larisa.


“Iya, aku akan bantu kamu melupakan Larisa,” gumam Viona pelan.


...🌲🌲🌲🌲...


Meski ia merupakan seorang spesialis jiwa yang sudah memiliki banyak pengalaman. Bukan berarti Abi bisa baik-baik saja jika jiwanya terasa tak seimbang. Ia hanya seorang manusia biasa yang bisa pincang kala satu kaki penopang telah patah. Kini dengan terpincang-pincang ia berusaha untuk berjalan normal.


Memang terasa sulit tapi ia terus berusaha demi sang putri yang membutuhkannya. Viona yang berjanji akan membantu, dengan setia berada di sisi Abi. Menjadi teman cerita yang siap mendengarkan kapan saja. Sedangkan Boni dan Kania memilih fokus merawat dan memberikan kasih sayang pada Kyra.


“Kyra.” Abi berusaha mendekati sang putri kembali. Setelah kejadian waktu itu. Kyra sempat tak mau untuk bertemu dengannya, karena masih merasa takut jika nanti ia kembali dimarahi dan dibentak. Membuat Abi tak kuasa menahan air mata kala merasakan sakitnya relung hati kala sang anak seakan menganggapnya bagaikan orang asing.


“Ayo, sayang, peluk Papa. Papa gak akan marah lagi sama Kyra,” bujuk Kania.


Gadis kecil itu menatap penuh tanya ke arah Kania dan Boni.


“Ada Papi dan Mami di sini, kamu gak perlu khawatir,” jelas Boni.


Akhirnya Kyra pun turun dari pangkuan Kania lalu mendekati sang Papa dengan keragu-raguan. Hingga akhirnya ia pun memeluk ayahnya membuat Abi menghembuskan nafas panjang karena akhirnya ia dapat mendekap kembali sang anak yang sangat di rindukan.


“Maafin Papa, ya, maafin Papa karena sudah kasar sama Kyra,  maafin Papa karena sudah bentak Kyra, maafin Papa karena jahat sama Kyra,” isak Abi.


“Kyra maafi Papa, kok. Tapi janji, ya jangan kayak gitu lagi,” jawab Kyra ikut menangis.


Abi mengecup kedua pipi sang putri. “Papa janji, Papa gak akan melakukan hal itu lagi. Mulai sekarang Papa akan berusaha untuk lebih baik lagi demi Kyra.”


Sang anak pun kembali memeluk erat Ayahnya itu.  “Kyra sayang, Papa.”


“Papa juga sayang, Kyra.”


Akhirnya kini tak lagi ada jarak antara ayah dan  anak itu. Keduanya larut dalam rasa haru dan rindu yang dilebur menjadi satu. Bersama Kyra, Abi mulai menjalani hari dengan penuh perjuangan. 

__ADS_1


Endra dan Davira pun selalu menemaninya begitu pula dengan Boni dan Kania yang selalu ada saat gadis kecil itu membutuhkan kasih sayang dari mereka. Sedangkan Viona yang merasa tak dianggap oleh keluarga itu memilih pergi dari sana dan tinggal di sebuah apartemen.


Harapanlah yang membuatnya masih betah tinggal di Bali. Yakin jika suatu saat nanti Abi pasti akan bisa melupakan Larisa dan membuka hati untuk cintanya yang selama ini tak pernah terkikis oleh waktu.


Namun, setiap hari ia akan berkunjung ke villa hanya untuk sekedar bertemu dengan Abi. Membuktikan pada pria itu kalau dia akan selalu ada disisinya. 


Ketika hari libur, mereka semua berkumpul di villa untuk menemani Abi dan Kyra menghabiskan waktu agar keduanya merasa tak kesepian meski Larisa sudah tak lagi ada. Mereka ingin membuat Abi dan Kyra merasakan kalau semuanya akan tetap sama.


“Oh, ya, Bon, mulai besok gue mau balik kerja,” kata Abi.


Hal itu membuat Boni mengembangkan senyuman yang lebar. Begitu pula dengan Endra dan Davira. “Bagus kalau begitu. Artinya lo emang benar-benar mau melanjutkan hidup.”


“Harus! Ini demi Kyra. Gue gak mau terus terpuruk dalam kehilangan. Secepatnya gue harus bangkit.”


“Oke, kalau begitu besok pagi kita berangkat sama-sama.”


Abi mengangguk setuju.


“Aku boleh ikut?” sela Viona yang kebetulan juga ada di sana.


Membuat Boni mengerutkan dahi.


“Boleh. Kamu bisa bantu-bantu di sana. Siapa tau kamu bisa kerja juga,” jawab Abi


Viona tersenyum senang. Tapi tidak dengan Endra dan Davira yang seakan tak suka begitu pula dengan Kania. Tapi mereka memilih untuk diam karena bagaimana pun Viona ada disini atas permintaan Ningsih untuk terus menemani Abi.


Pagi-pagi sekali Viona tiba di Vila. Ia pun segera naik ke lantai atas untuk menemui Abi yang akan berangkat kerja.


“Bi, boleh aku masuk?” Viona bertanya di depan pintu kamar.


Tak lama Abi pun muncul dari balik pintu. “ Iya?”


“Mau aku bantu siap-siap?”


Abi tersenyum hangat. “Gak perlu, aku sudah dibantu Kyra. Tunggu saja di bawah.”


Jawaban itu membuat Viona tersenyum untuk menutupi rasa kecewa. Abi menutup pintu kamar dan ia memilih turun menuju meja makan.


“Cocok dasi yang ini apa yang ini?” Abi bertanya pada sang putri yang tengah duduk di pinggir kasur.


“Yang di tangan kanan Papa,” jawab Kyra.


“Kenapa?”


“Karena Mama pasti akan memasangkannya dengan kemeja yang, Papa, pakai.”


Abi tersenyum simpul.

__ADS_1


“Maaf, kalau aku … .” Kyra pun tertunduk.


Abi mendekati anaknya lalu berlutut. “Papa gak marah, kok. Papa senang kalau putri kecil Papa ini bisa mengurus Papa seperti yang Mama lakukan.” Lalu di belainya surai hitam sang anak. “Makasih, ya, kamu bisa kuat demi Papa.”


Kyra tersenyum lebar dan mengangguk.


“Maafin Papa yang terlalu lemah. Seharusnya Papa yang urus Kyra, bantu Kyra siap-siap ke sekolah, menyiapkan segala keperluan Kyra, me-.”


“Kyra gak papa kok,” potong gadis itu segera memeluk ayahnya dengan sangat erat dan Abi pun membalas.


“Sekarang Papa pakai dasi dulu, ya.” Abi mengurai pelukan mereka.


“Mau aku batu?”


“Emang Kyra bisa?”


“Bisa dong. Soalnya kemarin aku belajar sama Mami Nia.” Gadis kecil itu berdiri di atas kasur agar dapat menjangkau sang Papa.


“Papa ketinggian, ya?” kekeh Abi.


“Iya, Papa, nunduk dikit,” pinta Kyra. 


“Kalau Mama dulu suka jinjit pas mau pasangin dasi buat Papa.”


“Aku sekarang masih kecil, Pa. Tapi nanti kalau sudah besar pasti akan tumbuh tinggi.”


Abi mengangguk. Setelah dasi terpasang rapi di kerah bajunya ia pun mengangkat sang anak dan menggendongnya keluar dari kamar.


“Selamat Pagi,” sapa Endra dan Davira.


“Pagi Ma, Pa,”jawab Abi saat tiba di meja makan.


“Pagi juga Oma, Opa,” balas Kyra.


Tak lama Boni dan Kania pun tiba. “Wah, sudah rapi aja lo,” ujar Boni.


“Semua berkat Kyra,” jawab Abi.


Kania pun tersenyum bangga lalu menghampiri gadis kecil itu. “Kerja yang bagus.”


“Terimakasih, Mami,” balas Kyra.


“Sama-sama, sayang. Sekarang Mami rapikan rambutnya, ya.”


“Oke.”


Kania membantu Kyra mengepang rambut panjangnya. Barulah setelah itu mereka menikmati sarapan yang sudah terhidang di atas meja.

__ADS_1


__ADS_2