
Sampai di villa ,Larisa langsung menuju dapur ia dibantu Kania menyiapkan bahan masakan yang tadi di beli. Karena hari sudah sore langsung saja dia masak makan malam. Abi juga kayaknya masih lembur lagi.
“Wwwaah gue kalah nih sama lo. Sampai sekarang gue cuma bisa masak mie rebus sama nasi goreng aja,” kata Kania.
“Gue kan ikut les, Nia. Kalau lo mah cuma belajar otodidak aja saat masih kos,” kekeh Larisa.
“Namanya juga anak kos jadi, kalaupun bisa masak yang gampang-gampang aja buat hemat waktu.”
“Orang tua lo apa kabar? Gue sampai lupa saking kita asiknya cerita tentang gue.”
“Baik kok. Mereka sekarang udah enak, gak perlu kerja lagi. Gue pasti kirim uang bulanan ke mereka, Kakak gue juga udah kerja di satu PT.”
“Terus uang kuliah lo gimana?”
“Dibayarin sama hotel tempat gue kerja. Jadi, gue harus mengabdi seumur hidup disana nantinya.”
“Emang gak salah mereka mengikat lo kayak gitu, secara otak lo itu encer banget. Gue aja kalah.”
“Ah lo bisa aja.” Kania tersipu malu ia pun sampai mendorong bahu Larisa.
Masakan Larisa pun matang Kania membantunya menata di meja makan. Terdengar suara mobil Abi memasuki garasi.
“Itu Kak Abi pulang. Gue ke depan dulu. Bik, tolong dibantu, ya,” ujar Larisa.
“Baik, Mbak.”
Larisa pun menyambut Abi di pintu utama. “Kok, malam lagi pulangnya, Kak?”
“Ada anak magang baru jadi Kakak ngasih pengarahan dulu sedikit sekalian menjelaskan soal klinik ke mereka.”
Larisa mengambil alih jas putih dan tas kerja Abi dari tangan pria itu.
“Ada tamu?” tanya Abi. Melihat ada tas besar di atas sofa ruang tengah.
“Teman aku yang kemarin mau menginap disini. Gak papa kan?”
“Gak papa. Kakak langsung ke kamar mandi, ya.”
“Aku udah siapin bajunya di atas kasur.”
Abi tersenyum. “Makasih, sayang.”
“Jangan keseringan panggil aku sayang, nanti aku melayang loh,” goda Larisa.
“Kakak, pegangin.”
Mereka pun tertawa.
...🍦🍦🍦🍦...
Saat di meja makan Abi pun di kenalkan Larisa pada Kania.
“Ternyata benar dugaan gue, kalau Kak Abi lo ini adalah Kak Abi yang gue kenal dulu,” terang Kania.
“Kalian saling kenal?” tanya Larisa.
“Kita dulu bakalan sempat jadi keluarga?” jelas Abi.
“Maksudnya?” tanya Larisa dengan mata melotot.
__ADS_1
“Eh, lo jangan salah paham dulu,” sanggah Kania. “Maksudnya dulu Kakak gue sempat mau nikah sama adiknya, Kak Abi.”
“Kakak, punya adik? Kok aku gak tau?”
“Nanti aja kita bahas, sekarang makan dulu. Kamu harus cicipi masakan Larisa, enak banget,” kata Abi pada Kania.
Mereka mulai menyantap makan malam yang sudah terhidang. Kania kaget bukan main, ternyata hasil olahan sahabatnya itu benar-benar enak.
“Masakan restoran hotel gue aja kalah,” terang Kania.
“Bisa aja lo.” Larisa mendorong bahu sahabatnya itu.
“Eh, ini gue seriusan. Gak bohong, sumpah demi Allah. Gue boleh tambah, ya?”
“Silahkan,” balas Abi.
Makan malam beres Kania membantu Larisa membereskan meja makan dan mencuci piring. Setelah itu mereka beralih ke ruang tengah.
“Gimana kabar Kakak kamu?” tanya Abi pada Kania.
“Baik, dia sekarang lagi gila-gilanya kerja.”
“Sudah menikah?”
Kania menggeleng pelan. “Dia belum bisa move on dari Mbak Mina. Dia nyesel gak bisa memperjuangkannya.”
Abi hanya tersenyum simpul.
“Hhhmm sekali lagi maafin kedua orang tua aku,ya, Kak.” Kania tertunduk.
“Kakak sudah ikhlas dan kami sekeluarga gak pernah menyalahkan keluarga kamu.”
“Makasih, Kak.”
Kania mengangguk.
“Kalau gitu, Kakak duluan ke kamar.Kalian kalau mau lanjut ngobrol silahkan. Tapi jangan sampai kemalaman.”
“Iya,” jawab Larisa.
Mereka memandang punggung Abi sampai menghilang setelah itu barulah mereka kembali buka mulut.
“Gue benar-benar gak tau loh kalau Kak Abi itu punya adik. Gimana ceritanya sih?” tanya Larisa kepo.
“Lo tanya aja nanti sama Kak Abi. Gue takut salah menceritakan.”
“Oke deh.”
“Eh, bentar orang hotel nelpon gue. Ada apa, ya?”
“Angkat aja, siapa tau penting.”
Kania menjawab telpon itu ia pun tampak serius dan memeriksa beberapa laporan dalam laptopnya. Setelahnya ia tutup sambungan telepon itu.
“Sa, kayaknya gue harus balik ke hotel deh. Ada masalah dan harus diselesaikan malam ini. Maaf, ya, gue gak jadi nemenin lo cerita,” jelas Kania.
“Gak papa kok. Kerjaan lo emang labih penting sekarang. Yuk, gue antar ke depan!”
Kania menahan sahabatnya itu. “Gak usah, gue sendiri aja. Makasih makan malamnya yang super duper enak. Sampaikan maaf gue ke Kak Abi karena udah ganggu malam kalian.”
__ADS_1
“Gak kok,” jelas Larisa.
Setelah mengemasi barangnya Kania pun segera pergi.
...🧁🧁🧁🧁...
“Kak.” Larisa memanggil Abi di depan kamarnya.
“Masuk aja,” seru Abi.
“Kakak, belum tidur?”
“Gak bisa kalau gak ada kamu. Udah biasa tidur bareng kamu kayaknya.”
Gadis itu langsung menghambur naik ke atas kasur setelah menutup pintu.
“Kania mana?”
“Dia balik ke hotelnya, ada emergency.”
“Oh.”
Larisa menghimpit dada Abi dengan separuh badannya ia menatap wajah tampan itu. “Sekarang cerita sama aku soal Mina.”
“Kamu mau tau banget?” Abi membelai kepala istrinya.
“Harus dong! Aku mau tau juga soal, Kakak, dan keluarga.”
Abi menghembuskan nafas panjang. “Mina itu adik Kakak yang sudah meninggal kira-kira empat tahun yang lalu.”
“Kenapa?”
“Dia lompat dari gedung kampus.”
Larisa kaget dan langsung menutup mulutnya.
“Dia dulu pernah depresi sama kayak kamu, gara-gara kehilangan Papa,” jelas Abi.
“Papa, Kakak, meninggal?”
Abi menganggukkan kepalanya.” Meninggal karena sakit jantung.”
“Terus?”
“Mina itu sangat dekat sama Papa. Papa tuh bisa jadi temannya bahkan sahabatnya, tempat cerita banyak hal deh pokoknya. Cara Papa mendidik kami itu berbeda dengan Mama. Kalau Papa dia akan mendukung setiap hal yang di pilih oleh anak-anaknya dalam kehidupan mereka, sedangkan Mama dia lebih suka menentang apa yang kami lakukan. Hal itu yang buat Mina sayang bangat sama Papa di bandingin sama Mama.”
“Terus?”
“Karena hal itu, Mina merasa sangat kehilangan pas Papa udah gak ada. Dia jadi lebih sering bertengkar sama Mama karena Mama selalu gak suka sama apa yang dilakukannya. Hingga Mina merasa gak ada orang yang bisa ngertiin dia.”
“Emangnya, Kakak kemana?”
“Ada, tapi dia juga gak begitu dekat sama Kakak. Sebab Kakak sibuk sama kuliah. Sempat Kakak coba dekati dia, tapi dianya malah menutup diri. Mina akhirnya depresi berat. Sama kayak kamu. Makanya pas kita ketemu, Kakak langsung ingat sama Mina dan mau bantu kamu.”
“Terus kenapa bisa dia loncat dari gedung kampus? Kakak, gak jagain dia?”
“Kakak sama Mama berjuang buat dampingi Mina sampai dia sembuh. Mama pun belajar untuk menahan egonya, apa pun yang di mau Mina dia turuti. Akhirnya kondisi Mina makin hari makin baik.”
...----------------...
__ADS_1
Ayo, siapa yang kemarin mikir kalau Kania itu calon-calon pelakor...??
Jujur di komen 🖊 tpi tinggalin like 👍 juga...