
Hari ini acara lamaran Kania dan Boni dilaksanakan di hotel tempat wanita itu bekerja. Acara berjalan dengan sangat hikmat dan lancar. Pernikahan mereka akan digelar kurang dari tiga bulan lagi. Keluarga Abi dan Larisa menepati janjinya, mereka mendampingi Boni sebagai keluarga karena pria itu sudah tak mempunyai keluarga lagi.
“Gimana kabarnya?” tanya Abi pada saudara laki-laki Kania.
“Baik, Bang,” jawab Sadi.
“Kata Kania kamu belum nikah? Kenapa?”
Sadi hanya tersenyum simpul.
“Masih ingat Mina? Sudahlah, kamu ikhlaskan saja, dia sudah tenang di alam sana.”
Sadi tertunduk ia sempat menyeka ujung matanya dengan Ibu jari. “Sekali lagi saya minta maaf, Bang.”
Abi menepuk pundak pria itu yang dulu hampir menjadi saudara iparnya. “Kami tidak menyalahkan kamu dan keluarga. Kami pun sudah bisa menerima kepergian Mina.”
Sadi menegakkan kepala lalu memberikan sebuah senyuman yang seolah mengatakan kalau ia baik-baik saja. “Kania pernah kirim foto USG anaknya, Abang, ke saya. Mirip sekali sama Mina, saya jadi rindu dia.”
“Datanglah ke Jakarta dan kunjungi makamnya.”
“Insyaallah, habis dari sini saya akan ke sana.”
“Nanti pas istri saya lahiran, datang juga. Saya sama Mama juga merasa rindu ketika melihat hasil USG itu. Mengingatkan kami padanya, semoga nanti kehadiran bayi itu dapat mengobati kerinduan kita.”
“Pasti, Bang. Saya juga mendoakan semoga istri dan anak, Abang sehat sampai lahiran. Juga pas lahiran nanti keduanya bisa cepat sembuh.”
“Aamiin.”
“Jangan duduk saja, yuk, sapa para tamu. Siapa tau nanti bertemu seseorang yang dapat membuat kamu melupakan Almarhum adik saya.” Abi berdiri dari duduknya dan mengajak Sadi menghampiri tamu yang hadir.
Acara lamaran itu pun selesai hingga sore hari. Larisa yang sudah merasa lelah izin dahulu untuk pulang ke villa.
“Mama sama Papa di sini dulu temanin Boni,”ujar Endra ketika Abi pamit ingin pulang.
“Maafin Ibuk, ya Neng udah bikin kamu repot,” kata Ibu Kania.
“Gak papa, Buk. Namanya juga lagi hamil jadinya gampang capek,” jawab Larisa
“Sok atuh, silahkan pulang duluan. Sisanya biar kami yang urus.”
“Makasih, ya, Sa, Kak Abi, sudah hadir di acara kami,” tambah Kania.
“Santai, kita udah jadi keluarga juga,” jawab Abi.
“Yuk, gue anter kalian sampai lobby,” ajak Boni.
Mereka bertiga menuju lobby. Sampai di sana mobil Abi pun sudah terparkir di depan hotel dan pasutri itu segera menuju villa.
__ADS_1
...🧃🧃🧃🧃...
Sampai di villa Abi dengan sabar membimbing istrinya berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Larisa tampak kesulitan bernapas karena perut yang sudah makin membesar membuatnya gampang sesak.
“Akhirnya sampai kamar juga,” gumam Larisa.
“Mau mandi sekarang?”
“Bentar lagi, Kak. Aku istirahat sebentar, sekalian bantuin aku ganti baju.”
Abi membantu sang istri melepaskan kebaya yang dikenakannya. “Mau berendam di bathup sama air hangat? Biar capeknya berkurang.”
“Boleh deh. Baju ganti aku mana?”
“Nanti aja pakai bajunya, mau mandi juga kan.” Abi berlalu ke kamar mandi menyiapkan air hangat untuk mandi Larisa.
“Nanti yang ada aku malah di polosin semua sama Kakak,” kata Larisa di atas kasur.
Abi tertawa sekembalinya dari kamar mandi. “Gak lah. Kakak gak tega kamunya kecapekan gitu.”
Larisa mengulurkan tangannya. “Bantuin aku berdiri, udah susah nih.”
Abi menarik tangan sang istri untuk bisa berdiri dari duduknya. Pria itu pun berlutut di depan perut buncit Larisa. Ia mengusap perut besar nan tanpa tertutup kain itu dengan kedua tangannya sesekali Abi memberikan kecupan di sana. “Sehat-sehat, ya, Nak. Papa udah gak sabar ketemu kamu.”
Larisa tersenyum bahagia ia pun membelai kepala suaminya dengan penuh cinta. “Dia makin besar di sana, aku jadi gampang lelah dan bikin, Kakak kerepotan.”
“Kalau gitu sekarang temenin aku mandi, kita berendam berdua.”
“Jangan deh, nanti Kakak malah kepengen.”
“Gak papa, aku juga pengen. Yuk!”
Mereka pun menghabiskan waktu sore ini berdua di dalam kamar mandi.
...🧆🧆🧆🧆...
Karena kesibukan mereka semua apa lagi juga ikut membantu mempersiapkan acara pernikahan Kania dan Boni, tak terasa kandungan Larisa sudah memasuki bulan kedelapan. Artinya satu bulan lebih lagi wanita itu akan melahirkan buah cintanya bersama Abi.
Sesuai perhitungan mereka, pernikahan Kania dan Boni akan digelar satu bulan lagi sebelum HPL Larisa. Jadi, ibu hamil itu masih dapat menemani dan menghadiri acara pernikahan sahabatnya.
Perlengkapan bayinya pun sudah dilengkapi oleh Larisa pas kehamilannya kemarin menginjak tujuh bulan.
Kini ia dan Abi hanya tinggal menunggu waktu saja, semua sudah mereka persiapkan untuk menyambut kelahiran sang cabang bayi. Keduanya juga mempersiapkan mental meski semakin hari rasa gugup, cemas, takut serta khawatir makin bertumbuh besar di dada. Tetapi keduanya saling menguatkan dan meyakinkan kalau mereka bisa melewati momen menegangkan itu nantiya.
“Lo mau honeymoon kemana?” tanya Larisa.
“Kita gak kemana-mana, cuma di Bali aja. Karena HPL lo satu minggu setelah kami menikah, gue sama Kak Boni mutusin untuk tetap di sini. Palingan kita cari penginapan yang pas untuk honeymoon aja,” jelas Kania.
__ADS_1
Larisa merasa terharu ternyata sahabatnya sangat pengertian akan kondisinya. Apalagi sang Mama tak bisa menetap di Bali sebelum waktu lahirannya tiba, karena mereka harus menyelesaikan urusan bisnis di luar kota agar saat sang cucu lahir ke dunia mereka bisa menikmati waktu libur panjang di sini.
“Makasih banyak, loh. Gue sempat takut lo pergi honeymoon jauh-jauh,” ujar Larisa.
“Gak, lah. Kita bakalan nemenin lo sama Kak Abi menunggu si baby donat lahir.”
“Kapan kalian pindahan?”
“Palingan habis nikah, itu villa udah bisa langsung ditempati. Perabotannya sudah lengkap, palingan gue kesana bawa pakaian aja.”
Larisa meluruskan kakinya di atas sofa halaman lalu dihembuskannya nafas panjang. “Gak nyangka, ya, sekarang kita tinggal dekatan. Suami kita juga temen dekat.”
Kania ikut tersenyum. “Satu hal yang gue sesali sejak kita sahabatan dari awal kuliah dulu sampai sekarang.
“Apa?”
“Gue gak ada saat lo lagi ada masalah, gue gak ada di saat-saat terburuk lo, di saat masa sulit dalam hidup lo. Gue benar-benar nyesel banget kenapa saat itu gue gak berjuang sangat keras untuk nemuin lo di rumah.”
Larisa meraih jari-jemari sahabatnya itu dan digenggamnya dengan erat. “Udah, masa lalu gak usah dibahas. Yang penting sekarang kita bisa sama-sama sampai tua nanti.”
Keduanya berpelukan seolah menguatkan dan mengungkapkan kalau mereka saling sayang dan tak akan meninggalkan lagi satu sama lain.
...----------------...
Hari ini aku bawa cerita lain lagi dai novel sesama Author. Mungkin genre nya sedikit berbeda tapi aku rasa kalian mungkin bisa tertarik dan mau membacanya.
aku kasih cuplikan babnya sedikit biar bikin penasaran
...🍒...
"Where is, Minerva Bee?" tanya Austin menyeruak kumpulan orang yang sedang mengelilingi Minerva.
"Here is Me." ucap Minerva membuat seorang Austin Wycliff terpana.
Gadis yang tadi ditabraknya ternyata yang mengalahkannya kali ini. Tidak hanya itu, Minerva juga akan makan malam gratis di cafenya selama satu minggu. Austin berjalan ke arah Minerva dan bertanya siapa dia sebenarnya. Karena selama ini Austin memang tidak terkalahkan.
"Who are you?" tanya Austin sambil menatap kedua netra Minerva.
"Bukankah kau lebih tahu siapa yang kini menjadi lawan mainmu?" tanya Minerva menantang Austin.
Austin sedikit terkejut mendengar jawaban Minerva kali ini. "Baiklah, kau berhak makan malam gratis di cafeku selama satu minggu penuh. Dengan syarat kita akan tetap bermain selama itu. Kita lihat siapa yang lebih unggul di antara kita." ucap Austin sambil meninggalkan Minerva.
...🍒...
Cus langsung ke novelnya dan dapatkan sensasi baru. Jangan lupa tinggalkan jejaknya juga ya 😉
__ADS_1