
Sorenya mereka pun pamit pulang sebab Endra dan Davira harus ke bandara. Mereka pulang ke Jakarta hari ini juga. Sampai di villa singgah hanya untuk mengambil barang dan langsung menuju bandara.
“Kalau nanti kamu mau kuliah lagi, Mama sama Papa pasti dukung,” kata Davira.
“Pokoknya kamu bilang aja sama, Abi mau kuliah di mana. Dia pasti bakalan bantu,” tambah Endra.
“Iya,” jawab Larisa.
“Kamu gak mau ke Jakarta?” tanya sang Mama.
Gadis itu menggeleng. “Aku gak mau ke kota terkutuk itu lagi.”
“Kenapa?”
“Anggap aja pas hari ulang tahun kemarin aku terlahir kembali. Jadi, aku mau memulai hidup baru disini,” jelas Larisa.
Davira memeluk putrinya. Mereka duduk di bangku belakang sedangkan Endra duduk di depan menemani Abi yang sedang mengemudi.
“Kami pun gak akan memaksa kamu buat ke sana. Mama dan Papa juga berencana akan pindah.”
“Pindah rumah, Pa?” tanya Abi.
Mertuanya itu mengangguk. “Setelah Larisa sembuh, kami ingin meninggalkan kenangan buruk yang ada di rumah itu. Toh Larisa gak tumbuh dan besar di sana.”
“Kami juga ingin memulai hari baru,” tambah Davira.
“Kalau kita sih dukung aja. Iya gak, sayang?” tanya Abi melirik istrinya lewat kaca spion.
“Iya,” jawab Larissa tersipu malu.
Davira pun mencolek pinggang sang putri hanya sekedar menggodanya. Ternyata pipi Larisa sudah bersemu merah.
Kali ini saat mereka berpisah di bandara tak ada rasa sedih atau suasana haru. Kegembiraan terus terpancar di wajah mereka masing-masing. Toh hal ini juga sudah biasa, nanti mereka pasti akan bertemu lagi. Lambaian tangan melepas kepergian kedua orang tua itu, tapi tetap dengan senyuman yang merekah.
...🥦🥦🥦🥦...
“Mau jajan dulu atau langsung pulang?” Abi bertanya pada istrinya. Mereka sedang dalam perjalanan kembali ke villa.
“Palingan aku cuma mau beli martabak deh, Kak. Udah lama gak makan itu.”
“Oke.” Abi mencari gerobak martabak dengan matanya sambil mengemudi. Tak butuh waktu lama karena sepanjang perjalanan banyak sekali pedagang kaki lima yang menjual aneka ragam jajanan pinggir jalan.
“Mau rasa apa?” Abi memarkirkan mobilnya sebelum turun.
“Coklat keju pastinya,” jawab Larisa.
“Ada lagi? Tuh ada bakso juga di sampingnya.”
“Emang iya?”
“Iya, sayang. Atau kita makan bakso dulu.”
“Boleh.” Akhirnya Larisa pun ikut turun.
Setelah memesan martabak sesuai selera istrinya Abi pun menyusul Larisa yang sudah duduk di dalam kedai bakso. “Sudah pesan?”
Wanita itu mengangguk. “Sudah lama aku gak makan pinggiran jalan kayak gini.”
__ADS_1
“Mulai besok kita sering jalan keluar buat cari makanan,” seru Abi.
Larisa tertawa kecil. “Gak harus juga, Kak. Maksud aku itu, kok bisa sih aku mengurung diri di villa dan melupakan hal-hal seru seperti ini.”
Abi pun mencibir. “Orang depresi emang suka menyesal setelah mereka sembuh.”
Larisa menggelengkan kepalanya. “Aku buang-buang waktu aja, ya, Kak. Buang waktunya, Kakak dan Mama, Papa.”
“Gak lah. Kalau gak ada orang yang mengalami gangguan jiwa, terus Kakak kerja apa dong?” seloroh Abi.
Larisa mencubit lengan Abi.
“Aww, sakit, sayang.” Suara pria itu terdengar manja.
“Makanya, jangan bercanda.” Larisa cemberut.
Pesanan mereka pun akhirnya datang.
“Kakak, gak becanda. Kalau kamu bilang buang-buang waktu, ya, gak lah. Kan emang itu kerjaan Kakak sebagai Dokter spesialis kejiwaan.”
“Hehehe benar juga, ya.”
Abi mengelus pipi istrinya. “Yuk makan, Kakak jadi lapar karena wanginya.”
Mereka menikmati bakso pinggiran jalan itu dengan iringan canda tawa. Perut sudah kenyang Larisa mengambil pesanan martabaknya tadi dan mereka lanjut ke villa.
...🍆🍆🍆🍆...
Pagi ini seperti biasa Larisa menyiapkan sarapan dan membantu Abi bersiap-siap untuk berangkat kerja. Namun, ada yang beda, semua dilakukan dengan hati yang riang dan penuh cinta.
Larisa tersenyum. “Aku belum siap.”
“Belum siap kenapa? Sekarang aja Kakak berasa di urus sama istri, loh.”
“Nikmatin dulu masa-masa pacaran ini. Aku mau kita saling kenal dulu. Selama ini, Kakak, terlalu fokus ngurusin aku, sampai-sampai aku gak tahu soal, Kakak.”
“Soal apa?”
“Nanti malam aja dibahas. Dah siap, yuk, kita sarapan!”
Sarapan selesai Abi pun berangkat kerja dan dilepas Larisa dengan senyuman penuh kasih sayang. Wanita itu masuk kedalam villa untuk melakukan aktivitasnya yang lain.
...🍅🍅🍅🍅...
“LARISA,” panggil Kania saat tiba di vila.
“Assalamualaikum,” ujar sahabatnya yang sedang menyiapkan bekal siang untuk Abi.
“Heheheh … Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Masuk ke rumah orang itu ucap salam, bukannya teriak-teriak,” tegur Larisa.
“Iya, maaf. Lo beres masak, ya?”
“Iya. Kenapa? Pasti mau numpang makan!”
“Hehehe tau aja lo. Makanan di hotel itu kurang enak. Mumpung punya sahabat yang pintar masak kenapa gak di manfaatin aja, dari pada duit gue habis buat makan di luar.”
__ADS_1
Larisa mencibir. “Bik, tolong anter ke Pak Supir, ya.”
“Baik, Mbak.”
“Makasih, Bik.”
Ia pun menghidangkan sisa masakan di atas meja bar yang ada di dapur.
“Langsung sikat,” kata Kania.
“Kuy lah. Gue juga lapar.”
“Ayo, Bik sekalian makan bareng kita,” ajak Kania pada asisten rumah tangga Larisa yang kembali dari depan.
“Yuk, Bik. Kapan lagi kita makan bareng,” sambung Larisa.
Mereka makan sambil membahas pekerjaan Kania di hotel sedangkan Bibik hanya jadi pendengar setia. Kadang ikut tertawa akibat tingkah lucu Kania.
“Kenyang bangat gue.” Kania mengusap-usap perutnya yang buncit akibat makannya yang banyak.
“Rakus lo emang.”
“Iya karena masakan lo enak.”
Mereka baru saja selesai makan siang dan membantu Bibik membereskan dapur. Lalu beralih ke ruang tengah.
“Gimana semalam acara makan malamnya?” tanya Kania duduk di sofa.
Larisa langsung mengembangkan senyuman lebar dan wajahnya tampak berseri-seri penuh kebahagiaan. “Pokoknya semalam adalah hal yang paling indah dalam hidup gue.”
Kania mendengus kesal. “Iya gue tau, lo lagi jatuh cinta. Yang habis jadian.”
“Kok lo tau?”
“Gue lihat instastorinya Kak Abi semalam.”
“Oh, iya kita sempat bikin story.”
“Jadi, lo udah yakin sama perasaan lo ke dia?”
Larisa mengangguk.
“Terus?”
“Terus apanya?”
“Kalian masih tidur bareng? Gue saranin lo harus mulai hati-hati deh, Sa. Yang namanya cowok itu gak bisa di tebak. Maksud gue waspada aja, jangan sampai nantinya ada orang ketiga di antara kalian. Bukan pelakor loh, ya!”
“Iya, gue ngerti kok maksud omongan lo. Gue pun juga sempat khawatir kami tinggal satu atap gini. Sempat gue omongin juga ke Mama kemarin.”
“Terus tanggapan orang tua lo gimana?"
...----------------...
Lanjut lagi nanti, ya...
Sabar... 😃😁
__ADS_1