
Davira dan Endra pun akhirnya tiba di Villa. Mereka sempat mengobrol sebentar dengan Boni dan Kania di ruang tamu. Setelah melepas penat sebentar akhirnya Abi mengajak semuanya beralih ke meja makan.
“Pantesan Abi gak suka makan diluar kalau lagi jam makan siang,” celetuk Boni. “Ternyata masakan istrinya enak sekali.”
“Nak Boni, sendiri sudah punya pasangan?” tanya Davira.
“Belum, Tante. Lagi nyari sih, kalau ada yag mau langsung di nikahin aja,” kekeh Boni.
“Punya kriteria gak?” tanya Larisa.
“Kayaknya harus pintar masak deh.”
“Masak itu bisa belajar. Saya dulu gak bisa masak, loh. Tapi ikut les setiap hari, makanya sekarang jadi jago,” terang Larisa.
“Oke, kalau gitu dia mau belajar masak buat saya.”
“Kalau itu kayaknya Kania bisa deh,” seloroh Larisa. Membuat orang yang dimaksud tersedak makanan.
Larisa pun hanya tersenyum mendapatkan tatapan tajam dari sahabatnya. Sedangkan Boni memilih diam dan menikmati makanannya.
Usai menghabiskan hidangan yang ada di meja makan, mereka beralih ke ruang tamu, lebih tepatnya hanya Abi dan Boni. Sedangkan Larisa dan Kania duduk di ruang tengah, lalu Endra dan Davira memilih ke kamar.
“Ngapain sih lo tadi bawa-bawa nama gue,” kesal Kania.
“Yaelah, Nia. Gue cuma bercanda kali. Kalaupun dia mau ya, gak papa kan. Sama-sama jomblo juga,” jelas Larisa.
“Jangan, deh.”
“Kenapa?”
Kania menggeleng. Ia tak menceritakan kejadian tadi pada Larisa karena baginya itu sangat memalukan dan itu adalah aib yang harus ditutupinya. “Udah malam. Gue pulang, ya.”
Larisa mengangguk. “Yuk, gue antar sampai mobil.
Mereka berjalan beriringan. Sampai ruang tamu Kania pun izin pulang duluan pada Abi. Sampai di halaman dua sahabat itu saling berpelukan dan Kania segera masuk kedalam mobilnya. Tapi entah kenapa mobil itu tak mau menyala.
“Kenapa?” tanya Larisa.
“Mobil gue gak mau nyala,” jelas Kania dari dalam mobil.
“Bentar, gue panggil Kak Abi dulu.” Larisa masuk kedalam meminta bantuan suaminya untuk melihat kondisi mobil Kania.
“Habis bensin ini,” jelas Abi.
“Kok gue sampai lupa isi bensin, ya,” gumam Larisa menggaruk kepalanya.
“Lo pulang kemana?” tanya Larisa.
“Gue balik ke hotel.” Kania tampak mengotak atik layar ponselnya.
“Bareng saya aja kalau gitu,” timpal Boni. “Hotel tempat kita tabrakan tadi kan?”
Kania menyengir sambil mengangguk.
“Maksudnya gimana?” tanya Larisa.
“Lo mau pulang juga?” tanya Abi pada Boni.
“Iya, udah malam gak enak gue sama keluarga lo.”
“Kan, bareng, Boni, aja kalau gitu,” kata Abi.
Sebenarnya Kania merasa canggung jika harus satu mobil dengan Boni. Tapi mau gimana lagi, sepertinya taxi online malam ini udah gak ada yang mau jalan.
Dengan terpaksa Kania pun masuk kedalam mobil Boni setelah mereka berpamitan dengan Larisa dan Abi.
__ADS_1
...🥐🥐🥐🥐...
"Maaf soal yang tadi," pinta Kania.
"Yang mana?" tanya Boni.
"Soal menuduh kamu ngikutin saya." Kania merasa sangat malu ia sampai menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.
Boni hanya tersenyum. "Kamu tinggal di hotel?"
Kania menggeleng. "Saya kerja di sana."
"Sebagai?"
"Manager."
Boni tampak sedikit kagum. "Hebat!"
"Biasa saja. Saya masih baru di sana."
"Maksud saya, kamu itu masih mudah dan jarang sekali ada manager hotel se usia kamu ini."
Kania hanya tersenyum. Tanpa terasa mereka pun sampai di parkiran hotel.
"Terimakasih atas tumpangannya. Sekali lagi saya minta maaf," ujar Kania. Ia pun segera turun dari mobil Boni.
"Tunggu," tahan Boni.
"Iya, ada apa?" Kania menjulurkan kepalanya di pintu.
"Saya akan memaafkan kamu kalau kamu mau mengirimkan makan siang besok ke klinik Abi."
"Oh, oke. Itu gampang."
Boni menggeleng. "Kamu harus masak sendiri makanannya."
Boni menantikan jawaban dari wanita itu.
"Gue gak bisa masak soalnya."
"Kan bisa belajar kayak istrinya Abi."
"Duh, masalahnya belajar masak itu gak gampang. Butuh waktu lama. Larisa aja sampai berbulan-bulan loh."
"Ya udah kalau gitu mulai besok kamu belajar masak setiap hari. Kalau perlu saya yang bayarin guru lesnya."
"Kalau saya gak mau?"
"Saya akan laporkan kamu ke pihak hotel. Bilang kalau kamu sudah memperlakukan saya dengan sangat tidak baik bahkan sampai merusak nama baik saya."
Kania menggoyangkan kesepuluh jarinya di depan Boni. "Oke, gue bakalan belajar masak sama Larisa aja. Tapi besok gue belum bisa kirim makanan buat lo."
Boni pun menggelengkan kepala. Seolah ia tak mau menerima alasan Kania.
"Tapi-."
Laki-laki itu pun menunjuk bagunan hotel yang ada di depan mereka.
Kania menghembuskan nafas kasar sambil melorotkan bahunya. "Iya deh."
Setelahnya Kania keluar dari dalam mobil. Ia berjalan dengan gontai memasuki hotel membuat pria tadi merasa terhibur akan tingkahnya.
...🐣🐣🐣🐣...
__ADS_1
Pas jam makan siang Kania buru-buru ke ke villa Larisa. Sampai di sana ia menceritakan kejadian semalam di mana ia pertama kali bertemu dengan Boni. Bahkan hal yang dianggapnya sangat memalukan pun juga diceritakan pada sang sahabat.
Larisa tertawa ngakak. "Pantesan lo kemarin itu kayak menghindari Kak Boni."
"Iya lah. Gue malu tau. Apalagi pas pulang sebenarnya gue males kalau harus satu mobil sama dia. Tapi mau gimana lagi, gue harus balik ke hotelkan."
"Terus ngapain lo kesini? Gak mungkin cuma buat ceritain hal yang memalukan itu.”
“Gue mau belajar masak sama lo.”
“Hah? Buat apa?”
Kania menghembuskan nafas kasar lalu ia pun menceritakan permintaan Boni semalam pada Larisa.
“Hahaha terus lo mau belajar masak setiap hari sama gue di sini?”
Kania mengangguk. “Please, bantuin gue, ya.”
Larisa tampak berpikir. “Bisa sih, tapi ada bayarannya.”
Kania menekuk wajahnya.
“Hahaha gak lah gue cuma becanda. Yuk, kita ke dapur!”
Dua wanita itu beralih menuju dapur. Sampai di sana Larisa meminta kania mengikuti apa yang dilakukannya. Jadi apa yang dimasak ibu hamil itu maka itu pula yang akan dimasak Kania.
...🍒🍒🍒🍒...
“Gimana?” tanya Kania setelah Larisa mencicipi hasil masakannya.
“Lumayan, agak asin dikit.”
“Terus?”
“Artinya kamu pengen kawin,” celetuk Davira yang baru tiba di sana.
“Iih, Tante,” cemberut Kania.
“Besok belajar lagi,” kata Larisa.
“Terus makanan ini gimana?”
“Makanlah.”
“Tapi kata lo asin.”
“Itu kan di lidah gue, siapa tau di lidah lo gak. Makanya lo cobain dulu.”
Kania pun menyendok sedikit makanan yang dimasaknya tadi. “Gak asin kok.”
“Berarti benar lo pengen kawin,” cemooh Larisa.
“Sini Tante cobain.” Giliran Davira yang mencicipi masakan Kania.
Dua sahabat tadi menantikan pendapat dari wanita itu. “Asin dikit,” jelasnya.
“Tuh kan, benar. Lo emang pengen kawin,” ledek Larisa lagi.
“Itu cuma mitos orang-orang dulu.” Kania merasa sebal.
“Hahaha jangan ngambek gitu. Terus itu makanan mau di kirim ke klinik atau mau belajar lagi aja?”
“Gimana, ya? Tapi kata lo sama Tante Davira ini ke asisinan.”
“Masak lagi aja terus kamu tambahin sedikit micin biar asinnya berkurang,” saran Davira.
__ADS_1
Larisa pun setuju.
Akhirnya Kania memutuskan kalau masakan perdananya itu dikirim juga ke klinik Abi untuk Boni sekalian dengan Larisa yang mengirim bekal untuk suaminya.