
Abi mengurai pelukan mereka dan ia tampak mengerutkan dahi.
“Dulu waktu Larisa kirim surat dia sangat memuji kamu. Ternyata benar, Mama sudah melahirkan seorang anak laki-laki yang sangat baik. Bertanggung jawab pada keluarganya tapi tak melupakan baktinya pada orang tua.”
“Lalu Larisa tulis apalagi?” Abi pun jadi penasaran.
“Mama lupa. Tapi nanti Mama akan coba cari lagi surat itu.”
“Harus karena aku sangat penasaran dengan isinya. Lalu bagaimana dengan RS, Mama?”
Wanita yang hendak menginjak usia 60 tahun itu menghembuskan nafas panjang. “Mungkin Mama akan cari pengganti kamu.”
“Sudah dapatkan orang yang tepat?”
“Mungkin Mama akan coba tawarkan pada Viona.”
“Kenapa harus Viona?”
“Karena dia masih muda dan Mama bisa membimbingnya. Kalau Mama tunjuk Dokter lain yang hampir sepantaran dengan Mama, sama saja bohong. Beberapa tahun kedepan pasti akan ganti lagi.”
Abi mengangguk . “Kalau itu yang terbaik menurut, Mama, aku setuju.”
Akhirnya pembicaraan Ibu dan Anak itu berakhir, Ningsih pun di antar Abi sampai memasuki mobilnya. Setelah kepergian Ningsih, ia pun kembali masuk kedalam rumah.
...🐸🐸🐸🐸...
Pas makan malam Abi membawa sepiring makanan dan segelas air minum ke dalam kamar. Ia akan makan satu piring berdua dengan sang istri.
“Kakak tadi sudah bicara dengan Papa dan Mama Ningsih soal kepulangan kita ke Bali,” ujar Abi.
Larisa yang tengah menerima suapan dari suaminya itu hanya mengangguk.
“Mereka setuju dengan keputusan kita, tapi Papa minta kita menunggu sampai serah terima jabatan di kantor pada Dendi,”tambah Abi.
__ADS_1
“Gak papa, soal itu aku setuju,. Aku pun akan merasa lega dan tenang jika Papa sudah mendapatkan penggantinya.”
“Kakak juga bilang begitu tadi pada beliau.”
“Baguslah.”
“Oh, ya, apa kamu cerita pada Kania soal kondisi kamu sekarang?”
Larisa menggelengkan kepalanya. “Aku cuma bilang kalau lagi butuh istirahat saja. Sengaja gak cerita musibah ini, takut nanti mereka khawatir dan malah menyusul kesini.”
“Kakak juga mikirnya gitu.”
Suasana hening sekejap.
“Besok Kakak akan bikin laporan di kantor polisi.”
“Soal?”
“Bayu. Kakak akan tuntut dia dan jebloskan dia ke penjara. Bagaimana menurut kamu?”
“Kakak hanya ingin memberi hukuman saja.” Meski sebenarnya dalam hati kecil ia juga ingin membalaskan dendam, tapi Abi berusaha menyangkal. Dengan menjebloskan laki-laki tak bertanggung jawab itu, mungkin hatinya akan sedikit merasa lega. Sebab ia masih belum bisa menerima kejadian di tangga darurat kemarin.
...🐨🐨🐨🐨...
Pagi ini Abi ditemani Indah menemui pengacara yang akan mendampinginya untuk membuat laporan di kantor polisi. Setelah bercerita panjang lebar, pengacara tersebut pun paham. Dia menyebutkan beberapa pasal yang dapat menjerat Bayu.
“Terserah mau pakai pasal yang mana. Yang penting dia bisa masuk penjara,” kata Abi.
“Baik, kalau begitu saya siapkan dulu surat dan berkasnya,” ujar pengacara itu.
Dari sana mereka pun menuju kantor polisi. Abi menyerahkan semuanya pada si pengacara. Ia hanya tinggal duduk manis sambil menjawab pertanyaan dari polisi jika diminta. Laporan selesai diproses ia pun segera keluar dari sana.
“Jika nanti ada perkembangan, saya akan hubungi, Bapak,” ucap pengacara bernama Rian itu.
__ADS_1
“Baik, terimakasih sudah membantu saya.” Mereka pun saling berjabat tangan dan setelahnya menuju mobil masing-masing.
Dari kantor polisi, Abi menuju RSJ milik sang Mama. Meski ia dan Larisa akan kembali ke Bali, tapi ia masih memiliki tanggung jawab di sana. Ia akan tetap bekerja sampai lima hari sebelum keberangkatan.
“Abi,” panggil Viona.
Yang dipanggil pun menghentikan langkahnya dan berbalik.
“Bisa bicara sebentar?”
“Kita bicara di ruangan saya,” ajak Abi.
Tiba di ruang kerjanya Abi mempersilahkan Viona duduk di sofa bersamaan dengannya.
“Kemarin Tante Ningsih menawarkan aku untuk menggantikan posisi kamu di sini,” jelas Viona.
“Iya, Mama memang sudah bicara sama saya dan saya pun setuju,” jawab Abi.
“Kenapa kamu gak tetap disini aja sih, Bi?”
“Saya dan Larisa lebih nyaman tinggal di Bali dan kami pun sudah mencoba menetap di sini. Tapi sepertinya istri saya tidak nyaman.”
Viona terdiam sejenak. “Oh, iya aku turut prihatin atas musibah yang menimpa kalian. Maaf aku gak datang menjenguk. Bagaimana kondisi Larisa? Apa dia bisa menerima?”
“Larisa kondisinya baik, cuma tangannya yang terkilir belum bisa digerakkan. Kalau untuk soal menerima kehilangan calon anak kami, dia sudah ikhlas.”
“Syukurlah.”
Abi tersenyum simpul. “Saya harap kamu bisa menjaga amanah dari Mama saya dan saya titip Rumah Sakit ini.”
“Pasti! Aku akan menjaga kepercayaan Tante Ningsih. Aku juga akan membuat Rumah Sakit ini jauh lebih baik dari sekarang.”
“Terimakasih.”
__ADS_1
Viona menganggukkan kepalanya. “Ya, sudah kalau begitu aku kembali bekerja.” Ia pun beranjak dari sofa dan keluar dari ruang kerja pria yang masih dicintainya itu.