
Hal itu membuat para orang tua hanya mampu mendekap mulut dan menegakan kepala. Agar tak lagi mengeluarkan tangisan.
Endra dan Davira pun juga mencium jenazah sang putri sebelum disemayamkan. Terakhir Ningsih. “Terimakasih karena sudah menepati janji sama Mama. Meski sebenarnya kamu tak perlu melakukan hal ini. Sekarang Mama sadar kalau kamu memang wanita yang pantas untuk anak Mama.” Tak sanggup lagi menahan bulir-bulir air mata Ningsih pun segera beranjak dari samping menantunya.
Abi pun kembali mendekati Larisa. Ia memandangi wajah istrinya sambil menutupkan kain putih tadi hingga ke ujung kepala jenazah wanita yang sangat dicintainya.
...🦇🦇🦇🦇...
Satu Bulan Kemudian …
Tanpa menunggu lama, Bayu dinyatakan bersalah dan dihukum penjara seumur hidup oleh pengadilan. Semua karena pengakuannya yang ingin mencelakai Abi tapi malah akhirnya membuat Larisa terbunuh. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada sebagai bentuk rasa penyesalan.
Sebelum memasuki mobil tahanan, ia menghampiri Endra dan Davira yang menghadiri sidang putusan tuntutan mereka.
“Sekali lagi maaf kan saya. Sungguh saya sangat menyesal telah melakukan hal itu, hingga membuat Larisa harus pergi dari dunia ini,” ucap Bayu tertunduk.
Endra dan Davira hanya memaksakan senyum di bibir. Sebenarnya hati masih berkata tak rela jika pria yang ada dihadapan mereka ini masih bisa hidup.
“Tak mudah untuk memaafkan, tapi kami akan mencoba,” jawab Endra akhirnya.
“Terimakasih, Om. Meski kalian kecewa dengan hasil putusan yang tak menghukum mati saya, tapi percayalah rasa sesal ini yang akhirnya nanti akan membunuh saya secara perlahan. Karena bagaimana pun saya masih mencintai Larisa.”
Davira mendengus kesal mendengarnya. “Semoga penyesalan itu juga membuat kamu menderita.”
Bayu tak mampu menegakkan kepala. Hingga Endra dan Davira pergi dari hadapannya barulah ia menatap punggung dua orang tua itu dengan tetesan air mata.
...🦊🦊🦊🦊...
Kini Endra dan Davira tengah menunggu kedatangan Boni dan Kania di bandara bersama Kyra. Ketika pesawat dari Bali mendarat, ketiganya menuju pintu kedatangan untuk menyambut para sahabat anak dan menantunya itu.
“Mami,” sorak Kyra mengejar Kania.
Kania pun merentangkan tangan. “Anak Mami.” Ia langsung memeluk erat gadis kecil nan tampak sedikit kurus itu. Sebulir air mata jatuh dari sudut mata, tapi Kania segera menghapusnya.
“Om, Tante,’ sapa Boni.”
“Bagaimana perjalanannya?” tanya Endra.
“Baik, Om.
“Kamu gimana, Kania? Lancar kehamilannya?” tanya Davira.
“Lancar kok, Tante. Dokter juga mengizinkan aku untuk terbang jadi gak perlu khawatir,” jawab Kania.
“Kalau begitu ayo kita berangkat ke rumah, biar kalian bisa istirahat dulu,” ajak Endra.
Mereka segera menuju mobil yang terparkir di luar bandara. Sampai di rumah, Endra dan Davira pun mengantarkan Kania ke kamar tamu yang sudah disiapkan. “Silahkan kamu istirahat dulu, Tante mau kedepan bicara sama Om dan suami kamu.”
__ADS_1
"Kyra boleh di sini gak Oma?” tanya sang cucu.
“Boleh, sayang.Temani Mami, ya.” jawab Kania.
Davira pun senang ketika Kania mampu membuat sang cucu melepaskan rasa rindunya pada sosok sang Mama.
Dari sana Davira melangkah menuju ruang tengah dimana Endra dan Boni tengah berbincang.
“Ibu Ningsih menyerahkan Abi sepenuhnya pada Viona. Dia gak sanggup jika melihat Abi yang mengalami depresi,” kata Endra.
“Jadi, apapun metode pengobatan yang diberikan Viona, Ibu Ningsih gak tau sama sekali?” tanya Boni.
“Sepertinya beliau memang sepenuhnya percaya pada Viona. Bahkan Kyra yang tak diizinkan bertemu dengan Ayahnya, Ningsih pun tak masalah. Katanya ini semua demi kebaikan Kyra.”
Boni menghembuskan nafas kasar. “Secepatnya kita bawa Abi pindah ke Bali, Om. Di sana saya bisa memantau keadaannya.”
“Ingin kami juga begitu, tapi Viona selalu melarang dan dia sangat yakin kalau mampu menyembuhkan Abi.”
“Kapan kita ke rumahnya Ibu Ningsih? Saya sudah tak sabar ingin bicara empat mata dengan Abi.”
“Sebaiknya kamu istirahat dulu, nanti sore kita kesana pas Ibu Ningsih pulang bekerja.”
“Baik, Om.”
...🐷🐷🐷🐷...
Sorenya mereka tiba di rumah Ningsih. Ibu dari Abi itu tampak tak baik-baik saja, bahkan tubuhnya jauh lebih kurus dari terakhir mereka bertemu.
Membuat Boni dan keluarga Larisa yang baru datang tercengang mendengarnya.
“Abi kenapa?” tanya Boni.
“Begitulah kondisinya sejak Larisa meninggal,” jelas Ningsih.
“Gak mungkin! Abi pasti bisa mengontrol dirinya.”
“Kalau kamu gak percaya, mari kita lihat,” ajak Viona. Kebetulan wanita itu ada di sana ketika mereka tiba.
Boni mengikuti langkah kaki Viona dari belakang. Tiba di kamar dekat sudut ruangan, Viona membukakan pintu lalu mengajaknya masuk.
“Boni,” panggil Abi.
Membuatnya sedikit kaget melihat penampilan sang sahabat yang sangat jauh berbeda dari terakhir kali mereka bertemu. Yaitu saat pemakaman Larisa. Tubuh kekar yang dulu kini tampak kurus, wajah yang dulu bersih dan tampan kini ditumbuhi bulu-bulu halus yang mulai tebal. Mata yang dulu bersih dan tampak penuh cinta kini terlihat merah dan kosong.
“Saya ingin bicara dengan Abi empat mata,” kata Boni.
“Silahkan,” jawab Viona.
__ADS_1
“Bisa tinggalkan kami berdua?”
“Baik.” Dengan berat hati Viona pergi dari sana.
Kepergian Viona Abi langsung mendekap sang sahabat yang duduk di lantai sambil menekuk lutut. “Kenapa bisa begini, Bi?”
“Gue gak bisa menerima kepergian Larisa, Bon,” jawab Abi.
“Tapi gak harus sampai seperti ini. Apa lo gak kasihan sama Kyra?”
Abi mengangguk. “Makanya gue mau bawa Kyra pulang ke Bali, tapi Mama dan Viona malah mengurung gue disini.”
“Kenapa lo di kurung?”
“Mereka pikir gue depresi, Bon. Padahal gue cuma butuh waktu. Gue hanya gak bisa memilih antara pergi menyusul Larisa atau tetap bertahan disini demi Kyra.” Abi pun lalu menautkan jari jemarinya lalu diletakkan di depan dada. “Gue mohon sama lo, Bon, bawa gua dan Kyra pulang ke Bali.”
Boni mengangguk lalu kembali dipeluknya sang sahabat. “Lo mau ketemu Kyra?”
Abi menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Cuci muka dan rapikan rambut lo ini.Jangan sampai Kyra melihat keadaan lo yang berantakan gini.”
Boni pun kembali menuju ruang tamu. Di sana seluruh keluarga tengah menunggunya. “Kyra, sini ikut Papi.”
Kyra yang tengah asik mewarnai bersama Kania segera berlari menghampiri Boni.
“Mau apa kamu?” tanya Viona.
“Bukan urusan kamu!” tegas Boni. Setelahnya dia pergi membawa Kyra.
Masuk kedalam kamar di mana Abi di tempatkan, Boni pun menurunkan Kyra di sana.
“Kyra,” sapa Abi.
“Papa,” gadis kecil itu segera memeluk sang Ayah yang selama ini tak bisa di gapainya.
“Papa kangen banget sama kamu.”
“Kyra juga kangen sama Papa. Kenapa Papa gak pulang ke rumahnya Oma sama Opa? Kyra kesepian di sana.”
Abi memegangi wajah sang anak. Kyra pun tampak tak baik-baik saja.” Papa minta maaf, ya. Tapi kali ini Papa janji kita akan pulang ke Bali dan tinggal disana sama Mama.”
“Kyra mau, Pa.”
Ayah dan anak itu kembali berpelukan.
“Kalau gitu gue tinggal keluar dulu. Lo di sini sama Kyra lepas kangen,” ujar Boni.
“Makasih, Bon,” ucap Abi.
__ADS_1
Boni hanya tersenyum lebar setelahnya ia keluar untuk menemui keluarga Larisa dan Abi yang tengah menunggu di ruang tamu. Tiba di sana ia pun mendudukkan diri di sofa. “Siapa yang bilang kalau Abi depresi?” Boni bertanya sambil menatap Ningsih dan Viona secara bergantian.
“Abi itu gak depresi, dia masih bingung antara menuruti kata hati atau logikanya, cuma itu. Lalu kenapa dia diperlakukan seperti orang depresi? Bahkan Tante yang Ibunya lepas tangan begitu saja?” Boni sedikit emosi pada Ningsih.