Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 31


__ADS_3

Abi memberikan kecupan sebagai akhir dari VC mereka. Setelah itu layar ponsel yang ada di tangan Larisa pun gelap. Gadis itu tersenyum merekah, hatinya merasa kembali menghangat setelah melihat wajah pria yang begitu ia rindukan.


“Hhhaaahh … sepertinya aku gak bisa tanpa Kak Abi,” gumamnya sendiri.


“Cie … ada yang lagi jatuh cinta nih,” goda Riri yang tiba-tiba ada di belakangnya.


“Siapa?”


“Ya, Kakak lah.”


“Emang kalau kangen sama Kakak itu namanya jatuh cinta?”


Riri mencibir. “Mana ada laki-laki dan perempuan dewasa sayangnya cuma sebatas adek, kakak.”


“Sok tau kamu.”


“Ih, beneran kok. Udah tinggal bareng dan sering sayang-sayangan, terus di kasih ciuman perpisahan. Apalagi kalau bukan tandanya saling suka dan saling cinta.”


Larisa cuma geleng-geleng kepala dan menyerahkan kembali ponsel temannya itu. “Kuotanya masih banyak tuh, kamu bisa pake.”


“Asik, makasih, ya, Kak.”


“Sama-sama.”


...🐿🐿🐿🐿...


Jajakarta …


“Gimana kondisi Mama saya Dok?” Abi bertanya pada dokter yang memeriksa Mamanya.


“Sudah membaik dan besok pagi boleh pulang. Ibu Anda cuma stres karena banyak pikiran, makanya asam lambung jadi naik,” jelas Dokter pada Abi. “Besok jangan sampai terlambat makan, ya, Buk. Kalau ada masalah dibicarakan baik-baik jangan jadikan beban pikiran,” nasehat Dokter pada Ningsih.


Tak lama Davira serta Endra pun datang. Mereka menjenguk Ningsih, karena bagaimana pun juga sekarang mereka adalah keluarga meski besannya itu tak mau menerima sang putri sebagai menantunya.


“Maaf kami baru datang sekarang. Karena kita lagi di luar kota,” jelas Davira.


Ningsih hanya diam. Ia memasang tampang tak ramah pada tamunya itu.


“Maafin sikap Mama saya,” ujar Abi. Ia merasa tak enak pada mertuanya.

__ADS_1


“Gak apa-apa kok, Bi. Kami paham, niat kami kesini baik ingin menjenguk,” jawab Endra.


Abi pun mengajak mertuanya berpindah ke sofa yang ada di ruang rawat itu. Setelah cukup lama mereka mengobrol Davira pun pamit pada Ningsih. “Cepat sembuh, ya, Buk. Jangan lupa dimakan buah-buahannya, hanya ini yang bisa kami bawakan.”


Ningsih cuma tersenyum sekilas.


“Kalau sempat, mampir ke rumah, ya, Bi,” ajak Endra.


“Baik, Pa.” Abi pun mengantar mertuanya sampai depan lift.


Malamnya Abi mengemasi barang-barang sang Mama dan dirinya, karena besok pagi mereka akan pulang ke rumah. Ningsih pun sudah lepas infus dan dia juga tampak lebih baik. Hanya saja belum boleh makan makanan yang keras, harus menyantap makanan yang lembut.


“Kapan kamu balik ke Bali?” tanya Ningsih.


“Besok siang.”


“Secepat itu? Mama, baru pulang dari rumah sakit masa langsung kamu tinggal.”


“Oke, aku berangkat sore. Jadi, masih punya waktu kan, dari pagi sampai sore buat temani Mama di rumah.”


“Kenapa gak sehari lagi kamu di sini temenin Mama?”


“Kerjaan kamu apa Larisa?”


“Dua-duanya.”


“Kenapa sih, Bi. Dia lebih penting dari, Mama?”


Abi menarik nafas dalam lalu membuangnya. Ia tak mau bicara dengan sang Mama mengunakan urat leher. Sebisa mungkin kali ini ia harus bicara dari hati ke hati agar dapat meluluhkan hati orang tuanya itu.


“Kalian berdua sama-sama penting dalam hidup aku. Buktinya aku langsung terbang kesini pas tau, Mama sakit. Karena, Mama, sudah sembuh jadi aku pun harus pulang karena istri aku juga membutuhkan disana.”


“Butuh apa? Bukannya dia sudah sembuh?”


“Dia istri aku, Ma, jadi dia adalah tanggung jawab yang harus aku utamakan.”


“Maksud kamu Mama bukan lagi yang utama buat kamu?”


Abi menggosok wajahnya dengan kasar. “Dalam islam seorang anak laki-laki yang sudah menikah memang masih menjadi hak ibunya. Namun, bukan berarti aku bebas menelantarkan istri demi seorang ibu. Kalian memiliki kedudukan yang sama pentingnya. Keduanya harus aku utamakan dan aku muliakan.”

__ADS_1


Ningsih hanya diam.


“Soal hubungan kita yang sedikit merenggang, aku rasa akan tetap baik-baik saja kalau, Mama bisa menerima Larisa. Dia sudah sembuh total, jadi gak ada alasan lagi untuk, Mama, tak menerimanya. Kalau, Mama, masih khawatir soal anak-anak aku nanti yang akan mewarisi penyakit mental, aku rasa itu bukan alasan yang logis. Bagaimana dengan Larisa? Keluarganya tak memiliki riwayat penyakit mental, lalu kenapa dia bisa?”


Dalam diamnya Ningsing bisa menjawab pertanyaan itu. Ia merupakan seorang Dokter jiwa pastinya paham penyebab seseorang bisa mengalami gangguan jiwa.


“Mama, sendiri yang membuat masalah hingga menyebabkan kondisi, Mama, seperti ini,” tambah Abi. Pria itu menghembuskan nafas panjang. “Sebaiknya sekarang, Mama, istirahat. Aku juga mau istirahat karena belakangan kurang tidur.”


...🌽🌽🌽🌽...


Paginya usai dilakukan pemeriksaan terakhir Ningsih pun akhirnya diperbolehkan pulang oleh Dokter. Tak lupa Abi menebus obat sang Mama di apotek sebelum mereka menuju rumah. Setelah itu barulah ia membimbing orang tuanya masuk kedalam mobil.


“Kalau kamu ingin berangkat siang nanti, pergilah,” kata Ningsih dengan berat hati.


“Mama, beneran? Kalau gak ikhlas aku tetap berangkat sore aja.”


“Mama ikhlas, tapi bukan berarti Mama sudah merestui pernikahan kamu. Mama hanya gak mau jadi Ibu yang berdosa karena menahan kamu di sini,” jelasnya jutek.


Abi pun cuma bisa membuang nafas kasar. Mamanya itu masih saja keras kepala. Ia segera mengabari sang istri akan pulang hari ini dan ia akan terbang nanti setelah makan siang. Larisa terdengar begitu gembira di seberang sana. Tak sabar ingin segera bertemu panggilan itu segera diakhirinya.


...🍆🍆🍆🍆...


Bali …


“Makasi, ya, Bah, Umi sudah mengizinkan aku tinggal beberapa hari di sini,” kata Larisa.


“Kami senang kalau kamu menginap disini,” jawab Umi.


“Titip salam buat Nak Abi, sampaikan nanti kalau dia sudah sampai,” tambah Abah.


“Pasti, Bah. Kalau gitu aku pulang, Assalamualaikum.” Larisa mencium punggung tangan Abah dan Umi secara bergantian.


“Waalaikumsalam,” jawab mereka.


“Ri, Kakak pulang. Nanti kita main lagi kalau Kakak ke sini.”


“Iya, Kak. Kabari kalau sudah sampai di rumah. Hati-hati di jalan.”


“Dada semua,” kata Larisa. Ia lambaikan tangan ketika sudah berada di dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2