
Di kamar, Endra dan Davira sama-sama belum memejamkan mata. Keduanya seakan larut dalam pemikiran masing-masing.
“Pa, kalau memang Viona suka sama Abi lalu dia ingin menggantikan posisi Larisa gimana?” tanya Davira.
Endra menghembuskan nafas panjang. “Kalau memang dia dapat membuat Abi kembali seperti dulu, Papa ikhlas, Ma.”
Ningsih menggeleng. “Mama kayaknya gak terima deh, Pa. Gak rela kalau dalam waktu dekat Abi bisa melupakan putri kita.”
“Lalu apa, Mama, mau melihat Abi terus seperti itu? Hidup tak tau arah dan tujuan, bahkan anaknya saja kadang diabaikan. Bagi Papa yang penting sekarang adalah Abi bisa menjalani hidupnya dengan normal kembali karena Kyra sangat membutuhkan kasih sayangnya.”
“Kyra gak akan kekurangan kasih sayang, Pa. Ada kita.”
“Mama, yakin kita bakalan umur panjang sampai cucu kita itu tumbuh dewasa?”
Nigsih pun terdiam. Benar apa yang dikatakan suaminya, mungkin nanti atau besok bisa saja mereka ikut menyusul Larisa karena umur yang tak lagi muda.
“Sudah malam. Ayo kita istirahat,” ajak Endra. Ia pun membaringkan tubuh memunggungi sang istri. Jujur saja hatinya juga ikut merasa tak rela jika sang menantu bisa menggantikan posisi sang putri dalam waktu dekat. Namun, jika itu memang yang terbaik untuk menantunya dan sang cucu, ia akan berusaha menerima dengan lapang dada.
...🐦🐦🐦🐦...
Paginya selesai sarapan Kania membantu Kyra bersiap-siap di kamar untuk pergi mendaftar sekolah baru. Sedangkan Abi masih di lantai bawah.
“Gak siap-siap?” tanya Viona.
“Kemana?” tanya Abi.
“Katanya mau nganterin Kyra cari sekolahan.”
Abi mengangguk lalu ia pun berdiri dari sofa menaiki anak tangga. Sampai di dalam kamar ia melihat satu setelan baju dan celana sudah tersedia diatas meja rias. Persis seperti yang biasa dilakukan Larisa.
“Sayang? Kamu pulang,” panggil Abi. Ia pun mencari-cari keberadaan Larisa di dalam kamar itu.
“Larisa, kamu di mana, sayang? Jangan sembunyi dari Kakak dong.”
Suaranya yang begitu keras membuat Endra dan Davira menghampiri.
“Ada apa, Bi?” tanya Davira.
__ADS_1
“Ma, Larisa pulang, Ma, Dia baru aja siapin baju buat aku di atas meja riasnya,” seru Abi dengan wajah yang bahagia.
Davira hanya bisa terpana lalu menatap ke arah sang suami. Ia tak tahu harus apa.
“Bi, apa kamu yakin? tanya Endra. “Bisa saja Bibik yang menyiapkannya untuk kamu.”
“Gak mungkin, Pa. Aku yakin itu pasti Larisa dan sekarang dia bersembunyi dari kita,” sanggah Abi.
Kania yang mendengar perdebatan itu ikut menghampiri bersama Kyra. “Ada apa?”
Abi segera mengangkat sang putri dan membawanya ke dalam kamar. Menunjukkan bajunya yang ada di atas meja rias tadi. “Lihat, sayang, Mama pulang.”
Kyra menatap bingung sang Papa.
“Mama kembali.”
“Pa.” Gadis kecil itu menangkup kedua pipi Abi. “Mama udah gak ada, Mama sudah di surganya Allah.”
“Terus siapa yang naruh baju Papa di sana kalau bukan Mama?”
“Itu aku, tadi aku minta bantuan Mami Nia sebeum mandi.”
Nafas Abi mulai memburu menahan sesak di dada membuatnya tak lagi dapat berpikir jernih. Ia pun berdiri dan mengibaskan semua barang-barang yang ada di atas meja rias sang istri. “Aaaaarrrggghhhh … !” Erangan Abi membuat Kyra terkejut.
“Papa,” panggil gadis itu dengan raut wajah takut.
“Kenapa kamu melakukan itu?” Tanpa sadar Abi menatap sang putri dengan mata yang membesar dan memerah.
“Aku cuma mau bantu Papa aja, sama kayak yang dilakukan Mama. Apa itu salah?” tanya Kyra dengan cemas.
“Salah! Papa gak suka. Mulai sekarang jangan pernah kamu melakukan hal yang dilakukan Mama untuk Papa,” teriak Abi.
“Abi,” panggil Boni yang tiba-tiba masuk. Ia pun segera meraih Kyra.
Abi yang kembali sadar atas apa yang sudah dilakukannya pada sang anak, memukul cermin meja rias di hadapannya. Membuat Kyra menangis histeris kala melihat tangan sang Papa mengeluarkan darah.
“Mama,” seru Kyra menyembunyikan wajahnya di samping Boni.
__ADS_1
Kania, Endra dan Davira pun akhirnya ikut masuk.
“Bawa Kyra pergi.” Boni menyerahkan gadis kecil itu pada istrinya.
Tanpa banyak tanya Kania membawa Kyra ke villanya.
“Apa yang sudah lo laukan ini sangat keterlaluan,” berang Boni.
Abi yang frustasi cuma bisa mengelengka kepala. Ia pun menjatuhkan diri ke lantai, menangis meraung di sana. Menyesali perbuatannya tadi pada sang putri.
“Kenapa lo bisa lepas kendali sih, Bi?” tanya Boni.
Viona yang tadi mencari kotak P3K, kembali untuk mengobati luka di tangan Abi.
“Sebaiknya kita bahas lagi nanti. Biarkan Abi tenang,” katanya pada Boni.
Boni tak terima. Abi bukan lah orang yang mengalami gangguan jiwa yang harus dimengerti atas kesalahan yang sudah dilakukannya. “Apa yang ada di otak lo itu hah?” geram Boni. “Kyra hanya ingin membantu tapi dengan kasarnya lo bilang gak suka atas perhatian yang sudah diberikannya buat lo.”
Abi menggigit bibir bawahnya bukan karena menahan perih akibat tangan yang terluka, tapi karena hati yang begitu sakit mengingat raut wajah sang putri yang tadi merasa takut akan kemarahannya. “Gue gak sadar, Bon. Gue benar-benar marah karena hal yang dilakukannya membuat gue menganggap Larisa ada disini.”
“Terus harus lo bentak Kyra? Sampai kapan lo bakalan kayak gini?" Boni mengguncang bahu sahabatnya itu.
Air mata terus saja meleleh di pipi Abi. “Tolong bantu gue, Bon. Kasih gue obat-obatan yang bisa membuat gue lupa pada Larisa. Cuma ini satu-satunya cara. “Abi bersimpuh di kaki Boni.
Tak tau harus apa lagi Boni pun melayangkan satu pukulan keras di pipi Abi, membuat sahabatnya itu terlempar ke lantai. “Kalau lo terus seperti ini, gua akan bikin surat keterangan yang menyatakan kalau lo mengalami depresi. Gue dan Kania akan mengambil hak asuh Kyra dan menjauhkan lo dari dia.”
Setelah berkata seperti itu Boni pergi dari sana. Dengan langkah lebar ia pun mengabaikan panggilan Abi yang terus mengejarnya. Tiba di lantai bawah Abi berhasil meraih tangannya.
“Gue mohon jangan lakukan itu,” pinta Abi.
Hembusan nafas kasar keluar dari mulut Boni. “Sebelum lo bisa mengendalikan diri, jangan harap bisa bertemu Kyra.”
Abi menganggukkan kepalanya dengan cepat.
“Om, Tante, sebaiknya untuk sementara waktu Kyra tinggal bersama saya dan Kania di sebelah. Jika dia terus di sini, saya takut nanti mental Kyra bisa terguncang oleh tingkah Papanya yang begitu egois.” Boni berkata pada Endra dan Davira tapi matanya menatap tajam pada Abi yang tertunduk. “Seolah-olah hanya dia yang merasa sakit karena kehilangan."
“Baik, kami setuju. Terimakasih sudah mau menjaga Kyra,” jawab Endra.
__ADS_1
“Kyra sudah seperti putri kandung bagi kami, Om. kalau begitu saya permisi. Mau lihat keadaannya Kyra,” pamit Boni.
Endra pun mengantarkan Boni hingga pintu depan sedangkan Davira menatap sang menantu dengan mata yang sudah mengembun. Lalu satu tamparan didaratkan di pipi yang dulu selalu dibelai lembut. “Sungguh Larisa akan sangat tersiksa di alam sana melihat kamu seperti ini.”