
Abi memenuhi permintaan istri tercintanya. Hari ini mereka melakukan Maternity Photoshoot di salah satu studio foto yang dipilih Larisa. Konsep yang diusung tentunya simpel namun tetap elegan. Larisa memakai beberapa gaun yang dapat menunjukkan perutnya nan sudah besar lalu Abi memakai kemeja dan celana dasar nan memancarkan ketampanannya.
Mereka berdua diarahkan oleh sang fotografer, keduanya mulai bergaya di depan lensa dan hasil jepretan sangat memuaskan. Pasutri itu tampak seperti pasangan selebriti, keduanya sangat pas di kamera dan gayanya sungguh memukau.
“Bagus, aku suka hasilnya,” kata Larisa. Fotografer tadi menunjukkan hasil tangkapannya pada pasangan itu.
“Bereskan?” tanya Abi.
“Sudah baju yang terakhir artinya sesi foto ini selesai,” jawab tukang foto.
“Kalau begitu kami pulang.”
“Siap, Mas. Hasilnya nanti akan kami kirim ke alamat yang ada.”
Larisa pun dibantu berganti pakaian oleh tim yang ada di studio itu. Setelahnya ia dan Abi menuju satu restoran untuk makan siang.
“Pesan apa, sayang?” tanya Abi.
“Apa aja yang penting ada nasinya.”
Abi memesankan beberapa menu dan pelayan pun mencatatnya.
“Mohon ditunggu sebentar,” ucap pelayan dan segera pergi dari meja mereka.
“Sudah happy karena keinginannya terpenuhi?” tanya Abi.
Larisa tersenyum lebar. “Happy banget. Makasih, Hubby udah mau ikut aku foto-foto. Ternyata, Kakak keren juga, bisa jadi model deh.”
“Hahahaha … Kakak gak minat.”
Larisa memanyunkan mulutnya ia kembali fokus ke layar ponsel melihat hasil foto-foto mereka tadi. “Nanti kita pajang di mana, ya?”
“Di ruang tengah kayaknya cocok deh,” saran suaminya.”
“Di ruang tamu kayaknya juga cocok.”
“Nanti kita atur lagi setelah hasilnya jadi. Yuk, makan dulu katanya lapar.” Pesanan mereka pun sampai di antar pelayan.
Keduanya menikmati makan siang dengan lahap. Setelah itu keduanya kembali pulang.
...🦛🦛🦛🦛...
“Sayang.” Abi tengah mencari istrinya yang tak ada di kamar mereka.
“Aku di kamar baby kita,” sorak Larisa.
Abi melenggang ke tempat sang istri berada. “Ngapain di sini?”
“Ini aku lagi nata baju-baju baby girl yang habis di cuci sama Bibik.”
“Kakak bantuin, ya.”
“Boleh, sekalian itu bukain kado-kado dari teman-teman Papa sama Mama.”
“Banyak banget, sayang.”
__ADS_1
“Setiap Papa sama Mama ketemu rekan bisnisnya, mereka di kasih kado karena tau aku sudah nikah dan lagi hamil. Jadi, dikirim kesini sama Mama.”
“Pas baby girl lahir kita bikin acara akikah, ya. Di vila aja.”
“Boleh. Nanti aku minat Kania cariin EO yang bisa bantu kita siapin acaranya.”
Abi menata barang-barang yang merupakan hadiah dari rekan bisnis mertuanya. Setelah semuanya beres mereka pun berdiri saling merangkul memandangi kamar bercat pink dan putih itu.
“Haaahhh … Kakak udah gak sabar rasanya,” jelas Abi mengusap perut Larisa.
“Sama, aku juga. Makin dekat harinya, kok makin lama, ya, rasanya.”
Abi mendekap erat Larisa. "Yuk, siap-siap! Katanya mau nonton ke bioskop. Kita sholat magrib dulu habis itu berangkat."
“Kania sama Kak Boni udah jalan kesini?"
"Katanya kita ketemu di bioskop aja. Mereka lagi meeting sama pihak WO sebentar."
"Ooh gitu.”
Keduanya keluar dari sana dan menuju kamar mereka.
...🦝🦝🦝🦝...
Hari pun berlalu dan kini resepsi pernikahan Kania dengan Boni sedang berlangsung. Larisa yang sedang hamil besar memilih untuk tak menghadiri acara itu sampai selesai. Ia dan suami sudah pulang sejak acara akad tadi usai digelar. Pengantin baru yang tengah bersanding itu pun paham akan kondisinya.
Mereka tak menuntut Larisa untuk hadir di resepsi. Jadi, hanya Endra dan Davira yang akan mendampingi Boni sebagai keluarganya.
“Kak,” pangil Larisa.
“Perut aku mulai mulas deh kayaknya.”
“Hh, masak sih? Ini kan belum waktunya.”
“Apa mungkin bohongan, ya? Baby girl sengaja ngerjain Mama?” Larisa bicara pada perutnya.
“Sakit banget?”
“Dikit sih, terus hilang lagi.”
“Kita tunggu aja beberapa jam kedepan, kalau sakitnya makin jadi artinya kamu emang mau lahiran.” Abi berusaha tetap tenang meski sebenarnya ia mulai dilanda rasa khawatir.
Sambil menonton TV larisa tampak mondar mandir di ruang tengah. Sesekali Abi memijat pinggang bagian belakang istrinya. Tadi ia masih terlihat santai karena sakitnya terasa ringan, tapi sekarang Larisa mulai meringis menahan sakit di bagian perutnya.
“Makin kuat kontraksinya?” tanya Abi.
Larisa megangguk.
“Kita ke Rumah Sakit sekarang?”
“Jam berapa sekarang?” Larisa masih saja terus berjalan mengelilingi ruang tengah untuk mengurangi sakit yang dirasakannya.
“Jam sembilan.”
“Kita tunggu sebentar lagi.”
__ADS_1
“Kamu yakin kuat?”
Larisa mengangguk.
Abi pun sudah menyiapkan mobilnya di depan villa dan memasukkan barang sang istri dan bayi mereka nan sudah disiapkan jauh hari dalam satu koper besar.
“Kakak telpon Mama sama Papa sekarang, ya, biar merea cepat pulang,” kata Abi.
“Nanti aja, takut acaranya resepsinya belum selesai,” jawab Larisa.
Wanita itu terus bertahan ia yakin bisa melahirkan normal. Bahkan kini kontraksi yang dirasakannya semakin kuat membuat Larisa mencengkram keras sofa sebagai pegangannya.
“Kita ke Rumah Sakit sekarang.” Abi cemas saat melihat air ketuban merembes deras dari kaki istrinya.
Ia langsung mengangkat tubuh Larisa kedalam gendongan dan segera menuruni tangga.
Tampak peluh sudah membasahi wajah istrinya, Larisa terus saja meringis kesakitan.
“Tarik nafas yang dalam lalu buang pelan-pelan,” ujar Abi.
Larisa mengikuti apa yang dikatakan suaminya. Sampai di depan mobil Abi mendudukkan sang istri di bangku belakang dan ia bergegas pindah menuju kemudi.
“Jangan buru-buru, Kak. Aku masih kuat.” Larisa masih saja mengingatkan suaminya agar hati-hati dalam berkendara.
“Iya, sayang, Kakak pasti hati-hati, tapi ngebut dikit.”
Sesekali Abi melirik sang istri yang sekuat tenaga menahan sakit di belakang sana. Wanita itu tak mengeluh sama sekali, ia bahkan tak mengucapkan apa-apa hanya berusaha tetap tenang dan mengontrol pernafasannya.
“Sabar, ya, bentar lagi kita sampai.”
“Iya, aku kuat kok, Kak.” Larisa meyakinkan suaminya.
......................
Kali ini aku datang bawa rekomendasi lagi dari salah satu author di grup. Buat semua semuanya harap mampir dan tinggalkan jejak di sana. Biar makin banyak yang baca, maka novel kami pun akan makin terkenal.
Kuy aku kasih sedikit cuplikannya
...🐞...
Kehamilan merupakan sebuah impian besar bagi semua wanita yang sudah berumah tangga.
Begitu pun dengan Arumi. Wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter bedah di salah satu rumah sakit terkenal di Jakarta. Ia memiliki impian agar bisa hamil. Namun, apa daya selama 5 tahun pernikahan, Tuhan belum juga memberikan amanah padanya.
Hanya karena belum hamil, Mahesa dan kedua mertua Arumi mendukung sang anak untuk berselingkuh.
Di saat kisruh rumah tangga semakin memanas, Arumi harus menerima perlakuan kasar dari rekan sejawatnya, bernama Rayyan. Akibat sering bertemu, tumbuh cinta di antara mereka.
Akankah Arumi mempertahankan rumah tangganya bersama Mahesa atau malah memilih Rayyan untuk dijadikan pelabuhan terakhir?
Kisah ini menguras emosi tetapi juga mengandung kebucinan yang hakiki. Ikuti terus kisahnya di dalam cerita ini!
Langsung ke novelnya ya dan beri dukungan.
Terimakasih 🥰
__ADS_1