
“Sudah puas mainnya?” Larisa bertanya pada sang putri yang datang menghampiri.
Kyra mengangguk.
“Kita cari makan, yuk!” ajak Abi.
“Jangan jauh-jauh, ya, Pa. Aku udah lapar banget nih,” jelas Kyra.
Abi mengangguk. “Dekat sini ada restoran enak. Ayo!”
Mereka bertiga berjalan beriringan keluar dari tempat itu.
\=\=\=\=\=\=
Pesanan mereka sudah terhidang diatas meja restoran. Larisa pun membantu sang putri yang tampak kesulitan menggunakan sendoknya. Di meja lain terjadi keributan antara orang tua dan anak laki-lakinya yang kira-kira berusia tujuh tahun. Semua makanannya di tumpahkan ke atas lantai.
Tampak anak laki-laki itu sedang mengamuk dan berkata tidak jelas. Ibunya berusaha menenangkan sang putra.
“Ma, Kakak itu kenapa, ya?” tanya Kyra.
Larisa hanya menggeleng.
“Jangan perhatikan orang lain, sayang. Makan-makanan kamu, ya,” kata Abi.
Mereka bertiga kembali menikmati makanan masing-masing tak lama seorang pria tampak masuk dengan terburu-buru dari arah luar. Dia segera menghampiri anak laki-laki tadi yang bersama Ibunya. Terlihat mereka sedang memperdebatkan sesuatu, sepertinya mereka adalah satu keluarga. Lalu dengan wajah marah serta menahan malu pria itu meletakkan uang cas di atas meja dan segera menyeret anak dan istrinya keluar dari sana.
Larisa yang sedari tadi menundukkan wajah kini dapat kembali menegakkan kepala.
“Kamu kenapa?” tanya Abi.
Istrinya menggeleng.
“Kamu sakit?”
__ADS_1
“Habis ini kita pulang aja, ya.”
“Yaah … Kyra masih mau jalan ke mall,” rengek putri mereka.
“Mama mungkin lagi gak enak badan, sayang. Kasian dedek bayi dalam perut Mama kalau Mama sakit.” Abi berusaha membujuk sang putri.
Kyra akhirnya mengalah, ia juga tampak khawatir dengan kondisi sang Mama. Dari restoran mereka segera pulang ke rumah, padahal tadi berencana akan jalan-jalan di mall. Sebab putri kecil itu ingin mencari boneka untuk hadiah teman barunya yang berulang tahun.
“Kita beli online aja nanti pas sampai di rumah,” kata Abi.
“Oke, Papa.”
...🐦🐦🐦🐦...
Sampai dirumah Larisa langsung menaiki tangga dan masuk ke kamarnya. Abi yang bersama Kyra pun di tingal begitu saja.
“Kok, udah pulang aja? Terus bonekanya mana?” tanya Davira.
“Larisa kayaknya lagi gak enak badan, Ma. Aku bisa titip Kyra gak? Mau lihat Larisa di kamar,” kata Abi.
“Kyra mau beli boneka, Oma.”
“Tolong, Mama, bantu Kyra cariin boneka di Online shop, ya. Aku sudah janji tadi soalnya,” ungkap Abi.
“Iya. Sana kamu susul Larisa. Siapa tau dia butuh bantuan. Kyra biar Mama yang urus,” balas Davira.
“Makasih, ya, Ma. Sayang, sama Oma dulu, ya. Papa mau lihat Mama.”
“Oke, Papa.”
Abi melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menyusul sang istri yang berada di kamar. Sampai disana Larisa tampak sedang merebahkan badannya di atas kasur. Ia pun mendekat dan duduk di samping Larisa. “Kenapa?”
Wanita itu segera memeluk sang suami.
__ADS_1
“Cerita dong sama Kakak! Kenapa tiba-tiba kamu berubah jadi murung gitu sih?”
Larisa mengajak Abi untuk duduk di sampingnya agar ia bisa menyandar di dada pria itu. “Kakak lihat anak laki-laki dan Ibunya tadi gak?” tanya Larisa.
“Maksud kamu yang di restoran?”
Istinya megangguk.
“Lihat, kenapa emang?”
“Kayaknya itu Luna deh istrinya Bayu dan anaknya.”
“Tau dari mana?”
“Soalnya tadi pas ada yang masuk dengan buru-buru aku pikir siapa, ternyata Bayu. Dia menghampiri perempuan dan anak laki-laki itu.”
Abi membelai kepala Larisa. “Terus kenapa? Apa hubungannya dengan perubahan suasana hati kamu?”
“Kakak, lihatkan kalau anak laki-laki tadi sepertinya mengalami keterbelakangan mental?!”
Abi menganggukkan kepala sambil mengingat kembali kejadian di restoran tadi. “Dari sekilas nampaknya begitu.”
Kemudian Larisa duduk menghadap suaminya. “Sebelumnya mau minta maaf karena aku gak cerita sama, Kakak.”
“Soal?”
“Kalau Bayu belakangan ini berusaha menemui aku. Katanya dia ingin minta maaf dan ingin menebus kesalahannya.”
“Terus?”
“Aku sudah menghindar, tapi dia terus saja memaksa. Aku sampai peringatkan dia untuk menjauh dan mengancam akan memutuskan kontrak kerja sama perusahaan.”
“Hubungannya dengan kejadian tadi di restoran apa?”
__ADS_1
“Apa aku terlalu berlebihan sudah membencinya? Siapa tau dia benar-benar merasa bersalah karena sudah mendapatkan hukuman.”
Abi pun kini paham dengan jalan pikiran Larisa. “Maksud kamu, Bayu mendapatkan hukuman dari Allah atas perbuatannya lewat anaknya yang mengalami keterbelakangan mental?!”