Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 54


__ADS_3

Sudah tiga hari ini Larisa selalu muntah-muntah di pagi hari. Setelah sarapan dan mengantar suaminya berangkat kerja, maka perutnya itu akan langsung bergejolak untuk mengeluarkan segala makanan yang sudah di santapnya semalam. Setelah itu ia akan baik-baik saja.


Namun, beda kali ini, di kampus Larisa merasakan kepalanya sangat pusing bahkan ia tak berhenti muntah sejak dari rumah tadi. 


“Kita ke kantin aja, yuk,” ajak Kania.


“Mau ngapain?” tanya Larisa.


“Siapa tau lo mau makan, jadi mualnya bisa hilang.”


“Boleh deh, gue emang laper.”


Sampai di kantin Kania memesankan makanan untuk Larisa. Mereka pun duduk di salah satu meja kosong menunggu pesanan datang.


“Hay,” sapa Viona.


Larisa hanya menyunggingkan senyuman.


“Boleh gabung gak?”


“Silahkan duduk.”


“Kita ketemu lagi.”


“Iya. Mbak kuliah di sini? Bukannya udah lulus, ya? Kan kemarin sedang menyusun skripsi.”


“Skripsi saya di tolak. Jadi, saya belum sidang.”


“Oh.” 


Makanan mereka pun datang. 


“Nia, ini apa?” seru Larisa menutup hidungnya.


“Makanan lah. Gue pesanan ayam rica-rica buat lo. Gak mau?”


Wanita itu menggeser jauh makanan itu dari hadapannya. “Gue mual cium wanginya, mau muntah. “


“Kamu sakit?” tanya Viona.


“Huek … .” Larisa bergegas menuju wastafel yang ada di dekat kantin. Ia pun muntah meski hanya air saja yang dikeluarkan. 


Viona dan Kania segera menghampiri wanita itu. 


“Lo gak papa?” Kania sampai khawatir melihat wajah Larisa yang sudah pucat. 


“Bawa ke klinik kampus aja,” saran Viona.


Baru tiga langkah, Larisa akhirnya jatuh pingsan. Mahasiswa yang ada di sana segera membopong wanita itu menuju klinik.


...🌽🌽🌽🌽...


Kania sudah menghubungi Abi. Kini dia dan Viona sedang menunggu Larisa yang tengah di periksa di depan ruang tunggu klinik.


“Duh, lama banget sih Dokternya keluar,” gumam Kania.


“Sabar, mereka pasti melakukan pemeriksaan menyeluruh," jelas Viona.


“Mereka bukan dokter yang lagi praktek kan?” Kania sempat takut kalau klinik itu jadi tempat malpraktek mahasiswa kedokteran.


Viona pun berusaha menahan tawanya. “Gak, lah. Mereka itu Dokter yang sudah lulus dan biasanya lagi kuliah pasca sarjana di sini. Jadi bisa sekalian tugas di klinik.”


Kania mengurut dadanya ia pun menghembuskan nafas lega. 


“Keluarga pasien,” panggil Dokter.


“Saya,” jawab Kania bangkit dari duduknya.

__ADS_1


“Keluarga!”


“Ee, bentar lagi sampai. Saya temannya.”


“Sepertinya teman kamu sedang hamil,” jelas dokter wanita itu.


“APA?”  kaget Kania dan Viona 


“Kania,” panggil Abi mendekat ke arah mereka. “Gimana Larisa?”


“Anda siapanya pasien?” tanya Dokter tadi.


“Saya suaminya,” jawab Abi.


“Oke, kalau gitu mari ikut dengan saya.”


Abi dan Dokter tadi pun masuk kedalam ruang pemeriksaan sedangkan Kania dan Viona kembali duduk di kursi tunggu.


“Apa benar mereka sudah menikah?” tanya Viona pada Kania.


“Saya gak tau. Sebaiknya Mbak tanya aja sama Kak Abi, dia lebih berhak menjelaskan.”


Viona pun mengangguk dan tersenyum simpul. Tak lama Abi keluar membawa Larisa dalam gendongannya. Kania pun berpamitan pada Viona setelah itu ia menyusul pasangan tadi.


...🥕🥕🥕🥕...


“Kehamilannya jalan lima minggu. Istri anda kelelahan dan kurang cairan akibat muntah-muntah yang berlanjut, serta tekanan darahnya rendah. Nanti akan saya resepkan obat anti mual,” jelas Dokter kandungan.


Dari kampus tadi Abi melarikan sang istri ke Rumah Sakit terdekat karena ia ingin tahu pasti tentang kondisi kandungan Larisa.


“Harus bedrest, dong, Dok?” tanya Abi.


“Harus. Kalau bisa trimester pertama ini dirumah saja dan jangan terlalu sibuk. Takutnya nanti terjadi pendarahan.”


Abi mengangguk paham selesai melakukan pemeriksaan ia mendorong kursi roda yang diduduki sang istri keluar dari ruangan itu. 


“Larisa harus bedrest,” jawab Abi.


“Tapi kandungannya baik-baik saja kan?”


Pria itu mengangguk.


“Oke. Selamat buat kalian berdua. Semoga bayinya sehat sampai lahiran. Kalau begitu aku balik ke hotel.”


“Makasih, lo udah bantuin dan temenin gue sampai sini,” ujar Larisa lemah.


“Santai aja. Kak Abi, aku duluan.”


“Iya. Sekali lagi terimakasih”


Kania pun mengangguk


...🦴🦴🦴🦴...


Sampai di villa Abi menggendong istrinya sampai ke dalam kamar. Ia tak menyangka jika kondisi Larisa bisa separah ini. Padahal belakangan ia terlihat baik-baik saja. Sebagai seorang Dokter ia merasa bodoh karena sudah terkecoh. Dibaringkannya tubuh kecil itu di atas kasur tak lupa Abi menyusun bantal agar sang istri merasa lebih nyaman.


“Kenapa gak bilang dari kemarin?” tanya Abi membelai pipi istrinya. 


“Aku pikir cuma masuk angin gara-gara kita di roof top malam itu," jelas Larisa. “Lagian muntahnya cuma pagi-pagi aja setelah sarapan, siap itu aku gak papa.” 


Abi membuang nafas panjang lalu ia pun tersenyum dan meletakkan kepalanya di atas perut sang istri. "Anak, Papa jangan bikin susah Mama, ya."


Larisa membelai surai hitam suaminya. Ia pun merasakan kebahagiaan yang sangat dalam. Hidupnya sekarang bisa dibilang hampir sempurna. Tinggal menunggu kelahiran si cabang bayi maka lengkap sudah kebahagiaan itu. 


"Sekarang, kamu mau makan apa? tanya Abi. 


" Apa aja yang penting di suapin."

__ADS_1


"Ya, udah tunggu di sini. Kalau mau ke mana-mana bilang sama, Kakak."


Larisa mengangguk dengan wajah penuh kegembiraan. 


Abi bergegas turun meminta Bibik agar memasak bubur serta sup untuk makan sang istri. Setelah itu ia kembali ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian. 


Tak lama Bibik pun datang mengantarkan makanan untuk Larisa. 


"Makan dulu, sayang, habis itu kamu minum obat dan istirahat," ajak Abi.


Larisa pun duduk dari baringnya. "Gimana sama klinik, Kakak?"


"Aman kok. Untung ada teman Kakak yang mau stay di sana."


"Maaf, ya, aku ngerepotin."


"Gak lah, sayang. Justru kamu begini gara-gara, Kakak kan."


Larisa menyengir. "Iya, juga sih."


"Mudah-mudahan besok keadaan kamu lebih baik."


"Aamiin."


"Mau kasih tau Mama, Papa sekarang atau nanti pas mereka kesini aja."


"Nanti aja pas mereka kesini. Takutnya nanti mereka khawatir dengan kondisi aku dan malah buru-buru terbang ke sini.”


“Kalau menurut kamu begitu, Kakak setuju.”


“Hhmm artinya kita gak jadi ke Jakarta dong, buat ketemu Mama Ningsih."


Abi menghembuskan nafas kasar dan melorotkan bahunya. "Nanti biar Kakak coba bicara sendiri, ya."


"Tapi-."


"La, sekarang kandungan kamu lebih penting buat Kakak juga kondisi kesehatan kamu. Jadi, jangan mikirin hal-hal lain yang dapat mengganggu kesehatan kamu dan anak kita. Mengerti?! "


Larisa akhirnya cuma bisa mengangguk pasrah. Suaminya itu tampak sangat protektif pada kehamilannya. 


Selesai menyuapi Larisa makan Abi membantunya meminum obat. 


"Kak, aku boleh nonton TV di luar gak? Bosan dikamar terus."


"Kakak beresin sofa dulu biar kamu nyaman istirahatnya di sana."


" Iya, Makasih."


...🌰🌰🌰🌰...


Abi akhirnya mengatur jadwal baru di klinik. Ia memilih akan bertugas dari pagi sampai siang hari sedangkan temannya akan menggantikan ia dari siang hingga sore. Untung saja temannya itu sangat pengertian dan ia tak masalah jika harus menggantikan Abi.


“Pokoknya, lo santai aja. Klinik bakalan aman ditangan gue,” jelas Boni. Mereka dulu teman satu kampus saat di Ausi. Kebetulan Boni sedang mencari pekerjaan akhirnya ia pun menerima tawaran yang diberikan Abi.


“Makasih banget pokoknya. Gue gak tau kalau gak ada lo, mungkin pasien gue bakalan terlantar,” kata Abi.


Boni pun tertawa lebar. “BTW villa lo enak juga.”


“Mau beli satu?”


“Boleh. Ada rekomendasi?”


“Nanti coba gue tanya-tanya.”


...****************...


Maaf ya up date nya cuma dikit-dikit. Pada pelit sih... gak mau kasih like 👍 jadinya author sedih 😟🥺😭

__ADS_1


Lanjut besok lagi, ok.. 😉


__ADS_2