
"Papa, mau makan sama apa? Tadi Bibik sudah masak makanan kesukaan, Papa Loh," kata Kyra.
“Apa aja, sayang," jawab Abi.
“Kyra ambilin, ya.”
“Biar Oma aja yang bantu Papa, Kyra makan makanannya,” sela Davira.
“Baik, Oma.”
Davira mengisi piring kosong dengan satu sendok nasi putih lalu ia pun menatap sang menantu. “Lauknya apa, Bi?”
“Itu ikan bakar, ya, Ma?” Abi bertanya sambil menunjuk ke tengah meja.
“Iya. Kamu mau makan sama itu?”
“Boleh.”
Davira mengisikan ikan bakar itu ke dalam piring menantunya. Lalu di berikan kehadapan Abi. “Kamu harus makan yang banyak, ya.”
“Makasih, Ma.”
“Sama-sama.”
Semuanya menikmati makan malam mereka dengan tatapan tak lepas dari Abi. Mereka sesekali memperhatikan pria itu yang tengah menyendok makanan kedalam mulut. Tampak Abi mengunyah makanannya dengan sangat pelan, seakan ia enggan untuk makan.
“Papa, ayo, makanannya dihabisin. Lihat aku nih, udah tinggal separo,” seru Kyra.
Abi hanya tersenyum simpul.
“Kalau Papa gak makan, besok Kyra juga gak makan deh.”
“Iya, Papa makan. Ini pasti akan Papa habiskan. “ Dengan terpaksa Abi menyumpalkan nasi kedalam mulut meski yang ditelannya terasa hambar.
Boni dan Kania pun tersenyum lebar, mereka berhasil membuat Kyra memaksa Abi menghabiskan makanannya. Jika Kyra terus berada di samping Abi, maka kemungkinan pria itu akan mudah mengikhlaskan kepergian Larisa. Tinggal menunggu waktu saja.
Dari meja makan mereka kembali menuju ruang tengah. Melakukan sholat Isya berjamaah. Setelahnya mereka semua masih duduk di sana, sedangkan Abi sudah masuk kedalam kamar.
“Papi, nanti Kyra boleh tidur sama Papa gak?” tanya anak kecil itu.
“Sebaiknya jangan,” sela Viona.
“Kenapa?” tanya Kania.
“Biasanya Abi suka mengamuk di malam hari. Apa kalian mau Kyra melihat Papanya seperti itu?”
Boni pun menatap sang istri.
“Kyra, sayang. Sekarang kayaknya belum bisa deh. Mungkin besok atau beberapa hari lagi baru kamu boleh tidur sama Papa. Kita tunggu keadaan Papa membaik, ya,” bujuk Kania.
“Yaahh … padahal aku kangen banget sama Papa,” sedih Kyra.
__ADS_1
“Malam ini tidur sama Mami aja. Kyra nanti juga bisa pegang perut Mami, rasain dedek Bayi gerak-gerak d dalam sini,” tambah Boni.
“Beneran? Dedek Bayinya bisa gerak.” Gadis kecil itu tampak antusias, ia bahkan melupakan kesedihannya tadi.
Kania dan Boni mengangguk sambil tersenyum lebar.
“Oke, deh, malam ini Kyra bobok sama Mami aja.”
Kania pun langsung memeluk Kyra. “Kalau gitu Kyra ambil bonekanya di kamar, ya. Biar Mami bicara sama Oma dan Opa dulu.”
“Oke, Mami. “ Kaki kecilnya menaiki anak tangga menuju kamar.
“Om, Tante. Sebaiknya Kyra menginap di villa kami dulu bersama Kania,” jelas Boni.
“Kalau memang itu yang terbaik menurut kamu, kami ikut saja,” jawab Endra.
“Saya harus memastikan dulu kondisi Abi seperti apa,” tambah Boni lagi.
“Apa, Tante, mau ikut sama saya dan Kyra ke sebelah,” ajak Kania.
Davira menatap suaminya.
“Terserah, Mama,” kata Endra.
“Mama di sini saja,” putus Davira.
“Oke, kalau begitu, Tante dan Om silahkan istirahat di kamar. Biar saya tidur di sofa ruang tengah. Buat jaga-jaga kalau Abi beneran bakalan histeris,” ujar Boni.
“Kenapa harus di kamar?” tanya Kania.
“Biasanya kalau Abi mulai meraung gak jelas, saya akan menyuntikkan obat penenang.”
Boni cuma menggelengkan kepala. Sepertinya ia tak suka dengan cara Viona menangani sahabatnya itu.
Kyra pun akhirnya turun dari kamarnya. Ia tampak sudah berganti pakaian dengan baju tidur.
“Siapa yang gantiin?” tanya Kania.
“Aku sendiri dong, Mami. Sejak Mama gak ada dan Papa juga gak pulang ke rumah Oma, aku jadi belajar untuk bisa ganti baju sendiri.”
Penjelasan Kyra itu membuat hati semua orang bagaikan tersayat tajamnya pisau. Meski gadis kecil ini tak lagi menampakkan kesedihan, tapi pasti hatinya juga merasakan kehilangan yang sangat mendalam. Hingga keadaan menuntutnya untuk bisa mengerti situasi yang tak lagi sama sejak tak ada Larisa.
Kania tersenyum lebar sambil menahan genangan air di pelupuk mata. “Gadis, pintar. Sini peluk Mami.”
Kyra pun memeluk wanita yang selama ini ia anggap sebagai ibu keduanya setelah sang Mama.
“Kita ke villanya Mami?” tanya Kania.
“Let’s go.”
“Om, Tante, saya antar Kania dan Kyra ke sebelah dulu,” pamit Boni.
__ADS_1
“Iya.”
“Pamit sama Oma dan Opa dulu, sayang,” kata Kania pada Kyra.
Davira dan Endra memeluk sang cucu lalu mengecup pipi yang dulu cuby kini tak lagi berisi itu. Lalu melepas Kyra dengan senyuman hangat.
Karena merasa tak dianggap, Viona memilih pergi dari sana menuju kamarnya. Ia ada hanya karena ingin membuat Abi sembuh lalu melihat dirinya yang masih mempunyai cinta. Bukan berarti ia senang jika Larisa meninggal, hanya saja ia merasa ini kesempatan untuknya.
Di saat Abi merasa kosong dan kehilangan, disitulah ia masuk. Membuat Abi menyadari kalau di sini ada satu cinta yang tulus nan dapat mengobati kesedihan hatinya. Meski sulit, ia akan terus berjuang dan berusaha.
...🦇🦇🦇🦇...
Kembali dari villanya, Boni pun menemui Abi di dalam kamar. Diperhatikan sang sahabat hanya duduk diam di atas karpet sambil menatap foto Larisa. Ia pun akhirnya ikut mendudukkan diri di sambing Abi. “Kalau mau cerita, gue siap jadi pendengar.”
“Satu hal yang paling gue sesali sampai sekarang adalah kepindahan kami ke Jakarta,” ungkap Abi. “Larisa sudah sering kali mengatakan kalau dia merasa keberatan untuk ke sana, tapi gue terus saja membujuknya.”
Boni memberikan sebuah usapan kekuatan di bahu Abi.
“Tapi gue juga sadar kalau apa yang terjadi dalam hidup ini semuanya sudah digariskan oleh Allah. Jadi, gue gak bisa balik ke belakang lagi.”
Boni mengangguk setuju serta tersenyum. Ternyata Abi masih mengingat kalau kehidupan ini pastinya atas campur tangan yang maha kuasa.
“Sekarang gue cuma butuh waktu, Bon. Hati gue masih belum bisa terima dan kadang menghasut gue untuk menyusul Larisa, tapi otak gue yang masih waras mengatakan kalau di sini masih ada Kyra yang membutuhkan gue.”
“Lo harus tetap waras, Bi.”
“Tapi rasanya sangat sakit, Bon.” Abi memukul-mukul dadanya. “Sakit banget. Setiap hari gue rindu suaranya, rindu tawanya dan gue rindu dipeluknya, tapi gue gak bisa lagi mendengar dan merasakan itu semua. Meski gue berusaha untuk memeluk bayangannya, tetap saja hal itu tak dapat mengobati kehilangan ini.”
Boni segera memeluk Abi yang kembali bercucuran air mata. “Menangislah, Bi, jika itu dapat meringankan kesedihan di hati lo.”
“Gue sudah menangis setiap hari, Bon, tapi kenapa air mata ini tak mau kering?”
“Maka cobalah untuk ikhlas.”
“Sulit sekali rasanya.”
Boni melepaskan pelukan itu. “Gue tau memang sulit, tapi lo harus mencoba, Bi. Demi Kyra, jangan sampai dia melihat keadaan lo seperti ini.”
Abi mengangguk lalu mengusap lelehan air mata di pipi. “Kyra mana?”
“Dia tidur sama Kania di villa gue. Kata Viona tiap malam lo bakalan histeris.”
“Gak tau, kalau di rumah Mama gue memang suka marah-marah untuk melampiaskan sakit hati ini. Makanya gue kadang minta dia untuk kasih obat penenang biar bisa tidur. Disini gue sedikit merasa tenang karena setidaknya kenangan Larisa masih tersimpan rapi.”
“Bagus kalau begitu. Gue yakin lo pasti bisa mengontrol diri, Bi.”
“Gue sedang berusaha, Bon. Mohon bantu gue.”
“Pasti. Gue tinggal, ya. Lo cobalah untuk istirahat, kali ini gak pakai obat penenang.”
“Insyaallah.”
__ADS_1