Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 72


__ADS_3

Larisa tersenyum dan mengangguk. Keduanya kembali bermain bersama meski sesekali mereka gagal mencetak score tapi Larisa tetap happy. Bahkan kali ini ia mencoba bermain sendiri tanpa dibantu Abi.


“Wwih istri Kakak jago juga mainnya, masuk loh bolanya,” puji Abi.


“Kan yang ajarin, Kakak. Kakak, mainnya jago baget.” Larisa memberikan dua jempol pada suaminya. Mereka juga tak lupa mengabadikan hal itu dengan kamera ponsel. Hampir tengah hari Ibu hamil itu mulai kelelahan.


“Capek?” tanya Abi.


Kepala Larisa mengangguk. “Aku juga lapar.”


“Balik, yuk. Sekalian kita cari makan.”


Abi menuntun Larisa menuju golf car yang terparkir dekat mereka. Sampai di resort keduanya memutuskan untuk memesan makanan dan di antar ke kamar. Soalnya Larisa sudah tak kuat lagi, ia ingin cepat-cepat merebahkan diri di atas kasur.


Abi pun sampai khawatir, takut terjadi apa-apa pada kandungan istrinya akibat wanita itu tadi sempat meloncat. “Ada yang sakit?”


“Gak Kak, kaki aku pegal semua sama punggung juga,” jelas Larisa.


“Istirahat bentar, ya. Habis itu mandi biar segar.”


Karena tak mau terus dihantui rasa takut, Abi pun menghubungi Dokter kandungan Larisa. Menjelasan apa yang tadi sempat dilakukan istrinya itu dan Dokter pun berusaha menenangkan Abi lewat penjelasannya. Jika hanya lompatan ringan dan tak terlalu tinggi itu masih aman. Selama Larisa tak mengalami keluhan 24 jam ke depan artinya ia baik-baik saja. 


...🐤🐤🐤🐤...


Usai mandi Abi dan Larisa menikmati makanan mereka di atas sofa bed.


“Besok aja kita jalan-jalannya, ya,” kata Abi.


 


Larisa mengangguk setuju.


“Kakak khawatir kalau kita jalan-jalan sekarang nanti kamu kecapekan.”


“Iya, Ini aja aku udah capek banget rasanya. Pegal semua kaki aku, punggung juga sakit.”


“Habis ini kita tidur siang.”


“Tapi janji, ya, besok sebelum pulang kita jalan-jalan dulu.”


“Iya, sayang. Besok seharian kita jalan-jalan di sini. Pulangnya pagi aja.”


Larisa tersenyum lebar. “Makasih, Hubby, kamu pengertian banget deh.”


“Hahaha apapun buat bumil ini, asalkan dia tetap happy. Makan lagi, ya.” Abi menyodorkan sendok yang berisi makanan kedepan mulut istrinya.


...🐽🐽🐽🐽...


Sore harinya hujan pun turun membasahi tanah yang sudah kering, karena belakangan cuaca disini sangat terik. Abi dan Larisa menikmati curah hujan lewat jendela kaca dari kamar mereka. Udara pun semakin terasa dingin membuat keduanya betah di dalam kamar dan saling memeluk satu sama lain dalam balutan selimut.


“Nyaman dan tenang banget kalau kayak gini,”ujar Larisa.


“Seru, ya. Sekali-kali tapi berkesan banget. Kita benar-benar berasa kayak pengantin baru,” tambah Abi.


“Gak perlu jauh-jauh keluar negeri aku udah happy banget loh, Kak.”


“Ternyata pilihan kamu sangat tepat untuk honeymoon dan babymoon di sini.”

__ADS_1


“Nanti kalau baby girl udah lahir, kita kesini lagi, ya.”


“Siap. Bikin adik buat baby girl,” canda Abi.


“Ih, Kakak. Tunggu baby girl gede dulu.” Larisa memukul lengan suaminya.


“Kakak bercanda, sayang.” Abi melabuhkan kecupan singkat di puncak kepala istrinya. Mereka pun semakin mempererat pelukan satu sama lain. “Dingin-dingin gini enaknya kita panasin badan deh, sayang.”


“Kakak, mau?” 


“Kalau kamu gak capek sih.”


Larisa hanya tersenyum. Ia pun mengambil inisiatif untuk memulai duluan, sesekali tak apa lah ia memanjakan suaminya. Toh kemarin-kemarin Abi selalu mampu membuatnya terbang melayang saking nikmatnya permainan yang dibuatnya. Apalagi cuaca sangat mendukung dan tujuan untuk datang kemari kan memang untuk hal ini. Bermesraan dan bercumbu, saling mencurahkan kasih sayang dan menyatukan cinta satu sama lain menuju yang namanya surga dunia.


...🦅🦅🦅🦅...


Paginya Abi dan Larisa sudah siap untuk mengunjungi beberapa tempat wisata terkenal di Bogor. Pertama mereka mengunjungi Kuntum Farm Field, agrowisata serta tempat wisata edukasi. Disana mereka bisa memberi makan ternak dan melihat berbagai macam tanaman hias. 


Udara yang sejuk dan bunyi gemericik air d kolam ikan membuat kawasan itu terasa sangat menyegarkan dan menenangkan. Puas berkeliling di sana mereka menuju tempat kedua yaitu Taman Nasional Gunung gede.


Larisa dan Abi  melihat-lihat beberapa flora dan Fauna yang ada di sana. Hanya sebentar, karena Ibu hamil itu tak sanggup lagi melanjutkan perjalanan. Jalur yang banyak mendaki, membuatnya merasa sangat lelah. Akhirnya mereka memutuskan untuk wisata kuliner saja. Bertepatan dengan waktu makan siang.


Saat sore hari pasutri itu memilih bersantai di taman sempur. Meski ramai warga dan anak-anak yang bermain di sana, mereka tetap dapat menikmati suasana yang sangat berbeda dari Bali. Hingga langit mulai gelap keduanya memutuskan segera kembali ke resort.


Malam harinya Abi pun mengemasi beberapa barang-barang karena esok pagi mereka berdua mengambil penerbangan pagi. Setelah semuanya dirasa beres, pria itu pun menyusul sang istri yang sudah terlelap duluan di atas ranjang. 


...🐞🐞🐞🐞...


“Mama sama Papa bakalan nungguin kita di bandara,” jelas Abi ketika mereka menyantap sarapan pagi.


“Jakarta, sayang. Mereka baru sampai kemarin dari Bali.”


“Ooh.”


“Kamu beneran yakin gak mau menginap di Jakarta?”


Larisa ngeleng sambil mengunyah makanan di mulutnya. “Aku mau kita langsung pulang ke Bali.”


 


“Kenapa?”


“Gak tau kenapa aku merasa berat untuk menginjakkan kaki di Jakarta,” jelasnya sambil mengangkat bahu.


 “Ya sudah, nanti Kakak jelasin ke Mama, Papa. Habisin sarapannya, ya. Kakak telpon mereka dulu.”


“Iya.”


Abi beranjak dari meja makan lalu mengecup kepala sang istri dan berlalu keluar restoran menuju tempat yang agak sepi.


Usai sarapan mereka pun turun menuju lobby resort Abi melakukan cek out dan setelahnya mereka di antar ke bandara menggunakan fasilitas dari resort tersebut. Selama perjalanan Larisa memilih untuk tidur karena tadi ia sudah bangun pagi-pagi sekali.


Sampai di bandara Endra dan Davira sudah menunggu mereka di depan terminal. Ternyata mereka tiba satu jam lebih awal dari jadwal penerbangan. 


“Kita duduk di restoran, aja,” ajak Abi.


“Iya, aku juga udah laper lagi nih,” timpal Larisa.

__ADS_1


Mereka semua menuju restoran yang ada di bandara.


“Gimana liburannya? Happy?” tanya Davira.


 


“Happy banget dong, Ma,” jawab Larisa. “Mama Ningsih gak ikut? Padahal aku mau ngucapin makasih, loh. Udah siapin semuanya.”


“Mama lagi sibuk di Rumah Sakit, sayang,” jelas Abi.”


“Ooh … Aku ada oleh-oleh buat Mama sama Papa sekalian titip buat Mama Ningsih,” kata Larisa. Ia memberikan satu kantong besar oleh-oleh khas Bogor pada sang Mama.


“Makasih, ya, sayang. Nanti Mama anterin ke rumahnya mertua kamu,” jawab Davira.


Keluarga itu pun menyantap makanan yang tadi sudah mereka pesan. Setelah itu semuanya pun beranjak menuju terminal keberangkatan karena sudah waktunya Abi dan Larisa memasuki pesawat.


“Kami mengerti kenapa kamu belum mau ke rumah,” kata Endra pada sang putri.


“Maaf, ya, Pa.”


“Gak papa, sayang. Papa bakalan tunggu sampai kamu siap untuk bisa kembali menginjak kota ini.”


Larisa pun memeluk pria yang menjadi cinta pertamanya itu. “Makasih, Papa sama Mama mengerti perasaan aku.” Kemudian wanita hamil itu memeluk sang Mama. 


“Jangan merasa bersalah, Mama sama Papa baik-baik aja.” Davira mengelus pungsung sang putri.


Giliran Abi yang memeluk kedua mertuanya sekalian salam perpisahan. “Jaga anak dan calon cucu Papa,” ujar Endra.


“Pasti, Pa.”


“Kamu juga, La, jaga Abi dan jangan lupakan tanggung jawab kamu sebagai istri,” tambah Davira.


“Iya, Mama. Titip salam dan sampaikan terimakasih aku sama Mama Ningsih,” jawab Larisa.


Lambaian tangan dari kedua orang tua itu mengiringi langkah anak dan menantu mereka berangkat menuju pulau Bali.


...----------------...


Maaf semuanya mungkin buat ke depan aku cuma bisa up date 1 bab aja. Soalnya lagi sibuk sama kegiatan di grup sesama penulis dan juga aku lagi siapin novel ke 4 dan 5 sekaligus. Semua benar-benar menyita waktu. Aku harap kalian gak kecewa dan semoga selalu support aku. 😊


Oh, ya kedepannya juga di setiap bab aku bakalan promoin karya teman" sesama penulis. Harapan kalian bisa mampir dan juga kasih dukungan di sana. Like👍 komentar 🖊 hadiah 🎁 vote 🔖 bisa kalian tinggal dan berikan karena itu semua sangat berati buat kami.


Aku kasih sedikit blurb nya biar kalian penasaran dan cus ke aplikasi dan baca novelnya.


Judul :Makmum Pilihan Michael Emerson


Penulis :SkySal


Zenwa Fahira tidak tahu harus berbuat apa ketika Micheal Emerson datang melamarnya sementara semua orang mengira Micheal memiliki hubungan dengan Arini Kamilia, yang tak lain adalah kakak Zenwa.


Namun Arini meyakinkan bahwa ia tak memiliki hubungan apapun dengan Micheal walaupun sebenernya Arini dan Micheal saling mencintai.


Blurb


Setelah desakan dari seluruh keluarganya, Zenwa menerima lamaran Micheal dan pernikahan pun terjadi. Namun di malam pernikahan, sebuah rahasia besar terbongkar yang membuat hati Zenwa hancur.


__ADS_1


__ADS_2