Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 78


__ADS_3

Lima tahun kemudan...


Kehidupan Larisa dan Abi berjalan sempurna. Rumah tangga mereka selalu diwarnai dengan tawa dan canda sejak hadirnya sang putri kecil kedunia.


Larisa kembali memulai kuliahnya sejak Kyra berumur tiga bulan. Wanita itu sudah menyelesaikan S2 nya dua tahun yang lalu. Menyandang predikat cumlaude, membuat Abi dan kedua orang tuanya serta sang mertua merasa bangga. Bagaimana tidak, ia bisa mengatur waktunya antara menjadi seorang istri, ibu sekaligus menggapai cita-citanya. 


Kini ia tengah fokus mengurus buah hati yang makin butuh perhatian. Mendidik dan menemaninya dalam belajar berbagai hal yang ingin diketahui oleh sang putri. Apalagi Kyra semakin hari semakin bijak dalam berkata-kata, ia akan protes jika Larisa mulai sibuk sendiri. Sedangkan Abi tentunya sibuk mengurus RSJ bersama Boni. Mereka terbilang sukses dalam membangun Rumah Sakit itu menjadi Rumah Sakit Jiwa terbaik di pulau Bali. 


Berbeda dengan kehidupan Larisa dan Abi yang tampak sempurna, kehidupan Kania dan Boni bisa dibilang belum lengkap tanpa kehadiran buah hati. Lima tahun pernikahan mereka, Kania belum juga dipercaya untuk mengandung benih cinta dari suaminya.


Sudah melakukan pemeriksaan dan keduanya dinyatakan subur dan sehat oleh dokter. Berbagai macam usaha atau program hamil juga sudah dijalani, mungkin memang Tuhan belum berkehendak. Jadinya, Kania dn Boni sangat menyayangi Kyra layaknya putri mereka sendiri. Hal itu membuat keinginan mereka untuk memiliki seorang anak sedikit terobati.


...🍌🍌🍌🍌...


Sepasang kaki kecil menapaki lantai kamarnya, membawa boneka kelinci di pangkuan, ia segera melangkah keluar menuju kamar kedua orang tuanya. Daun pintu berwarna coklat kemerahan itu segera di buka dan ia bergegas menghambur ke atas kasur menghimpit tubuh sang Papa yang masih tertidur lelap bersama sang Mama.


“Bangun, Papa. Ayo, bagun ini sudah pagi, kita harus siap-siap.” Kyra mengguncang badan Abi yang tengah memeluk Larisa.


“Hhhmm … .” Pria itu menggeliat dan mengerjapkan matanya saat terkena silau sinar matahari.

__ADS_1


“Bbbaanngguunn.” Kyra melonjak di atas perut Papanya.


“Iya, sayang ini Papa udah bangun. Abi mengambil posisi duduk dan menyandar di kepala ranjang. “Ada apa, kenapa pagi-pagi kamu sudah berisik, hhmm?”


“Hari ini Ulang tahun aku dan kita gak boleh terlambat ke pestanya,” jelas Kyra.


“Ini masih jam delapan pagi, sayang. Acara kamu nanti siap jam makan siang,” kata Larisa. Ia ikut terbangun karena desakan sang putri.


“Artinya masih lama, ya?”


“Ini kepagian, kamu ganggu Papa dan Mama.”


“Ini sudah hampir siang, Papa, dan bangun siang itu gak bagus.”


“Ya, sudah sana, kamu turun duluan dan sarapan. Pasti Oma, Opa dan Eyang udah nungguin,” ujar Abi sambil merapikan rambut putrinya.


“Mama sama Papa gak ikut turun?”


“Sini Papa bisikin!” Kyra memberikan sebelah telinganya pada Abi lalu mata gadis itu tampak membulat sempurna seakan ia terkejut dengan apa yang diucapkan sang Papa.

__ADS_1


Larisa pun penasaran ia ingin tahu, tapi Abi dan Kyra sepertinya sepakat untuk merahasiakan hal itu darinya.


“Tos dulu, dong,” ujara Abi dan sang putri membalas uluran tangannya.


“Oke, kalau gitu aku sarapan dulu.” Kyra segera turun dari atas tubuh Papapnya.


“Jangan masuk kamar lagi, ya,” sorak Abi.


“Oke,” jawab Kyra menutup pintu kamar.


...----------------...


Aku bawa rekomendasi novel lain lagi nih.


Novel ke 2 ku, tolong hargai ya.


Kisah seorang gadis yang terjebak dengan perjanjian bos-nya... Ia sudah janji kepada diri sendiri agar tidak jatuh kepada sang bos namun sayang ia mengingkari janji-nya sendiri dan jatuh kepada sang bos-nya.


Bagaimana kisah mereka? Apakah cinta Nesa terbalas?

__ADS_1


Yuk langsung baca aja



__ADS_2