Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 144


__ADS_3

“Tante gak tau harus berbuat apa pada Abi. Kadang-kadang dia diam duduk termenung lalu tiba-tiba emosi, melempar dan menghancurkan semua barang-barang yang ada. Dia juga pernah membongkar makam Larisa lalu membawa Kyra pergi tanpa sepengetahuan kami, ” jelas Ningsih.


“Itu karena dia sedang berusaha untuk tetap waras. Di satu sisi hatinya mengatakan untuk ikut menyusul Larisa, tapi logikanya mengatakan kalau di sini masih ada Kyra yang membutuhkannya. Lalu mengapa dia harus dipisahkan dengan anaknya?”


“Itu demi kebaikan Kyra sendiri. Saya takut Abi nanti bisa melukai Kyra,” jawab Viona.


“Omong kosong apa yang kamu bicarakan? Kira itu putrinya, gak mungkin Abi akan melukai anaknya sendiri,” tegas Boni.


“Apa Besan gak kasihan melihat Kyra yang begitu kesepian? Setelah dia kehilangan Larisa lalu dia juga harus dipisahkan dengan Papanya?” tanya Davira.


Ningsih tertunduk lalu ia pun menangis. “Maafkan saya, saya hanya gak tau harus berbuat apa. Kepergian Larisa mengubah Abi sepenuhnya.”


“Maka dari itu saya datang kesini untuk membawa Abi dan Kyra ke Bali,” kata Boni.


“Kenapa harus ke Bali?”


“Karena ini permintaan Abi. Di sana saya juga bisa membantunya untuk tetap waras.”


“Tapi di sini ada Viona.”


“Apa dengan memisahkan Ayah dan Anak yang sedang terluka, itu cara yang baik untuk keduanya? Saya rasa tidak! Tante dan Viona juga sepertinya tak satu tujuan,” tekan Boni.


Pertanyaan dari Boni membuat Ningsih terbungkam. Benar, selama ini ia terlalu percaya begitu saja pada Viona. Hingga lupa bagaimana perasaan anak dan cucunya. Yang ada di pikirannya hanya Abi harus sembuh, bagaimana caranya itu terserah pada Viona. 


“Baik kalau begitu terserah kalian. Jika ingin membawa Abi ke sana, silahkan, tapi saya tidak bisa ikut.”


“Biar aku yang ikut, Tante,” sela Viona.


Ningsih pun mengangguk setuju. Ia tak ikut menemani Abi di Bali bukan karena tak peduli, tapi ia tak sanggup menerima keadaan dimana kedua anaknya mengalami depresi. Hal itu membuatnya berpikir apakah selama ini ia banyak melakukan kesalahan sehingga anak-anaknya yang menanggung derita.


Akhirnya Endra dan Davira memutuskan untuk tinggal di Bali. Menemani Abi dan Kyra di sana. Mereka yakin kalau Abi mampu bangkit kembali, dia hanya butuh waktu dan dukungan sama seperti Larisa dulu.


“Mau ke kamar?” tanya Boni pada Abi.


“Iya, pasti Larisa sudah menunggu di sana,” jawab Abi.

__ADS_1


Boni hanya tersenyum lalu menemani sahabatnya menaiki tangga. Sampai di depan kamar, Boni membukakan pintu dan menyuruh Abi masuk. “Gue tau lo masih waras, Bi. Lo hanya cuma berusaha untuk menyangkal kenyataan. Lepaskanlah kesedihan dan kerinduan lo dalam kamar ini, setelahnya terima kepergian Larisa dan kembali seperti Abi yang semula.”


Sahabatnya itu hanya mengangguk, setelah Abi masuk Boni pun menutup pintu kamar.


Viona yang ikut bersama mereka di ajak Kania menuju kamar tamu. “Silahkan masuk. Maaf kalau kamarnya kecil.


“Gak papa, ini sudah cukup buat saya,” kata Viona.”


Kania hendak pergi dari sana, tapi ia kembali berdiri di ambang pintu. “Saya tau, Mbak, pasti masih mencintai Kak Abi. Dengan situasinya yang seperti ini, Mbak, tengah berusaha merebut hatinya. Tapi saya yakin apa yang, Mbak, lakukan itu akan sia-sia. Cintanya Kak Abi hanya untuk Larisa, jadi selamat berjuang.” Kania tersenyum lalu ia pun membantu Viona menutup pintu kamar.


...🐤🐤🐤🐤...


Di dalam kamarnya dengan Larisa, Abi mencoba merebahkan diri di atas kasur. Di pejamkannya mata mencoba membuka memori dan memutar kembali kenangan mereka. Tawa dan senyuman Larisa tergambar jelas dalam benaknya membuat ia ikut tersenyum. 


Hanya pelukan hangat dari sang istri yang tak bisa lagi dirasakannya. Kembali membuat Abi menumpahkan air mata sambil memeluk bingkai foto Larisa. “Kakak kangen kamu, sayang. Kenapa  kamu harus pergi? Bukankah kita ingin mempunyai anak lagi?”


Ia meringkuk di atas pembaringan, menatap sisi yang biasanya ditempati Larisa. “Apa Kakak salah menginginkan kamu kembali di sisi ini?”


Dibelainya kasur dan bantal kosong itu kembali menyadarkan Abi bahwa kini relung hatinya benar-benar hampa tanpa kehadiran Larisa. Ia pun semakin menangis sejadi-jadinya menumpahkan rasa sakit juga rasa rindu yang menjadi satu di dalam hati nan terus menyiksanya selama ini. Tak sadar mata sembabnya akhirnya terpejam menuju alam mimpi.


...🐨🐨🐨🐨...


“Bi, bangun, ini sudah mau magrib,” ujar Boni. Tubuh kurus Abi di guncangnya hingga pria itu terabangun. “Mandi dan ganti pakaian, kita solat berjamaah di bawah.”


Abi hanya mengangguk. 


“Jangan ikuti hasutan setan, kamu harus bisa melawannya demi Kyra.”


“Iya.”


Selepas kepergian Boni Abi menatap pantulan dirinya di cermin, tempat biasa Larisa mematut dirinya. “Kamu pasti ketawa lihat Kakak kayak gini, kan?! Suami kamu ini sekarang sudah tak lagi terurus sejak kamu tinggalkan.” Ia lalu tertawa, tapi air matanya kembali jatuh. 


“Kamu pasti juga mau bilang kalau Kakak cengeng.” Abi mengangguk. “Iya, sekarang Kakak memang cengeng karena kamu. Karena kamu pergi ninggalin Kakak begitu saja.”


Tak sanggup lagi menahan tangis yang kian deras, Abi segera masuk kedalam kamar mandi. Di bawah guyuran air shower ia kembali menumpahkan kepedihan hatinya. Hingga dadanya sedikit terasa ringan barulah ia keluar dari sana memakai baju koko yang biasanya disiapkan Larisa untuk nya sholat.

__ADS_1


Ketika membuka pintu kamar ternyata sang putri sudah menunggunya di depan sana. “Papa, sudah siap?” tanya Kyra.


Abi menganggukkan kepala.


“Ayo, kita sholat dan kirim doa buat Mama.” Sang putri menarik tangannya menuruni anak tangga. Tampak di bawah Endra, Davira, Boni, Kania dan juga Viona sedang menunggunya. Menatap ke arahnya dengan tatapan sendu.


“Aku gak papa, Ma, Pa.” Abi berkata saat tiba di depan mertuanya.


Boni tersenyum lebar untuk mengurai suasana tegang yang ada di sana. “Yuk kita sholat habis itu kita baca Al-quran.”


Di ruang tengah Boni sudah menyiapkan sajadah dan beberapa kitab suci untuk mereka semua. Kania pun membantu Kyra memakaikan mukena nya. 


“Mami, nanti ajarin Kyra baca Al quran, ya. Kyra mau kirim doa  buat Mama,” pinta gadis kecil itu.


“Iya, sayang,” jawab Kania sedikit tercekat.


Endra pun mempersilahkan Boni untuk memimpin shalat jamaah keluarga mereka. Abi pun setuju. Setelah iqamat dikumandangkan seluruh makmum di minta untuk bersiap.


“Allahu Akbar .”


Sholat magrib kali ini berjalan dengan begitu khusyuk. Usai salam Boni menuntun semuanya untuk berzikir. Setelahnya mereka semua menengadahkan tangan meminta dan memohon pada yang maha kuasa. Semoga diberikan kekuatan, kesabaran serta ketabahan terutama untuk Abi. Semoga pria itu segera mampu mengikhlaskan kepergian Larisa.


Boni memberikan satu Al Quran pada sahabatnya. “Bacalah dan minta petunjuk pada Allah.”


Abi menerima kitab suci itu lalu ia pun berdoa di dalam hati. Selesai berdoa ia mencoba membuka Al Quran secara acak. Tiba di salah satu surat QS Al-Baqarah: 216  


 وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ


“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”


Hatinya merasa sedikit tersentil ketika membaca arti dari ayat tersebut. Lama dirinya duduk termenung di atas sajadah hingga panggilan Davira membuyarkan lamunan.


“Kita makan malam dulu, yuk!” ajak Mama mertuanya.


“Iya, Ma.” Abi melipat sajadah dan kain sarung yang dikenakan lalu kakinya melangkah menuju meja makan.

__ADS_1


“Papa, sini duduk dekat aku,” ajak Kyra.


Abi tersenyum sambil menarik kursi di samping sang putri dan duduk di sana.


__ADS_2