
Larisa memeluk sang Mama ia merasa lebih tenang dan hati kecilnya mengatakan kalau dia tidak salah dalam menilai Abi.
“Sepertinya mereka pulang.” Davira mendengar suara Abi dan Endra dari arah depan. Larisa melepaskan pelukannya.
“Langsung sarapan?” tanya Davira pada dua laki-laki itu.
“Boleh,” jawab Endra. Mereka pun duduk di kursi meja makan.
“Bentar ,ya, Kak, aku bikinin teh dulu.” Larisa beranjak dari posisinya.
“Air putih aja, La. Kakak haus banget,” sela Abi.
Larisa menuangkan air minum kedalam gelas dan memberikan pada suaminya.
“Larisa akan ikut sama kita,” ujar Davira membuka obrolan.
“Oh, ya?” tanya Abi.
“Benarkan, sayang, tadi kamu sudah janji sama Mama mau membuka diri?”
Larisa tampak ragu tapi ia pun akhirnya mengangguk setuju.
Abi mengacak rambut istrinya. “Akhirnya kamu mau juga diajak keluar villa. Artinya kita bisa jalan-jalan bareng dong?”
Larisa terpaksa tersenyum. Sang Mama sengaja menjebaknya.
Selesai sarapan Endra dan Davira melihat-lihat taman kecil Larisa. Sedangkan gadis itu tadi sengaja belum memakan sarapannya karena ingin olahraga bersama Abi di ruang gym. Entah kenapa ia merasa ada yang kurang kalau tak olahraga pagi ini. Sepertinya ia merasakan manfaat dari olahraga itu.
Setelahnya mereka segera membersihkan diri dan bersiap untuk menuju pondok pesantren Abah. Sebelumnya Larisa sarapan dulu, setelah itu baru berangkat. Pemandangan di perjalanan tak kalah indah dari villa. Sawah yang terbentang hijau, udara yang lumayan sejuk serta daerah yang asri membuat Larisa merasa tenang.
Ternyata keluar dari villa tak seburuk yang dibayangkannya. Sesekali Abi yang duduk di bangku kemudi memandang wajah cantik sang istri yang sedang menikmati hembusan angin menyentuh kulitnya.
“Lihat apaan, Neng?” tanya Abi.
“Pemandangan lah, Kak. Apa lagi.”
“Emang pemandangannya lebih indah, ya, dari yang di samping Kakak?”
“Maksud, Kakak?”
“Kamu itu lebih indah dari pemandangan itu,” jelas Abi. Membuat Larisa tersipu malu.
“Apaan sih.”
__ADS_1
“Loh, emang benar. Tanya aja sama, Papa.”
“Benar kata, Abi. Kamu itu sekarang makin cantik.”
Larisa kembali mengalihkan pandangan keluar jendela, menyembunyikan wajahnya yang merona.
Tiga puluh menit perjalanan mereka pun sampai di pondok pesantren milik Abah. Mereka langsung disambut oleh beliau dan istrinya.
“Selamat datang,” kata Abah menyalami orang tua Larisa. Sedangkan Abi menurunkan barang-barang yang mereka bawa sebagai buah tangan.
“Ayo masuk,” ajak istri Abah. “Nak, biar anak-anak yang bantu bawain barang-barang, ayo masuk.”
“Baik, Umi,” jawab Abi.
Mereka pun naik ke rumah panggung Abah. Beranda rumah beliau seperti gazebo jadi mereka pun duduk lesehan. Pemandangannya juga langsung mengarah ke pantai yang ada di belakang pondok.
“Kenapa repot-repot segala bawain oleh-oleh?” tanya Abah.
“Maaf, Bah. Kami dari Jakarta, masak gak bawa apa-apa. Gak enak kalau datang jauh dengan tangan kosong,” jawab Endra.
“Terimakasih banyak loh, Pak.”
“Sama-sama, Bah.”
“Di paksa Mama, Bah.”
“Mau jalan-jalan di sini? Abah panggilin teman, ya. Riri,” panggil Abah.
“Ya, Bah,” jawab Riri muncul dari dalam rumah.
“Ini Larisa, kamu ajak jalan gih! Lihat-lihat aktifitas pondok. Kalau perlu ajak ke kebun biar dia bisa petik sayur atau buah.”
“Ayo, Kak, kita lihat adek-adek pada mancing di pantai.”
Larisa tampak ragu ia malah menatap Abi yang di pegang erat.
“Gak papa, pergi aja. Siapa tau kamu happy, sekalian cari teman baru.”
Riri tersenyum ramah dan pada Larisa. “Ayo, Kak! Di sini seru loh. Kakak, pasti ketagihan deh pengen main lagi ke sini.”
Akhirnya gadis itu pun mau ikut dengan Riri yang sepertinya lebih muda dua tahun dari dia.
“Saya sudah ceritakan tentang Larisa pada Riri,” jelas Abah. “Dia anaknya pintar dalam berteman, saya yakin Riri bisa membuat Larisa betah di sini. Soalnya dia rame dan asik, setiap tamu yang datang selalu di sambutnya dengan ramah.”
__ADS_1
Orang tua Larisa serta Abi mengangguk paham.
“Saya pikir pondok pesantren Abah ini besar, ternyata sangat sederhana. Kenapa mau bikin pondok di sini, Bah? Bukannya orang-orang datang kesini lebih banyak ingin berwisata?” tanya Endra.
“Hahaha memang, Pak. Saya bikin pondok tujuannya hanya untuk orang-orang yang mau wisata batin atau bisa dibilang ingin menenangkan hati dan pikiran serta belajar agama. Siapa saja bisa datang dan menginap di sini,” jelas Abah. “Saya dulu punya pondok di Bandung. Karena anak satu-satunya punya jodoh orang sini, maka kami pun pindah. Awalnya memang sempat ragu mau buka pondok pesantren, ternyata malah rame. Yang datang banyak dari kota-kota besar.”
“Ngapain mereka kesini, Bah?” tanya Abi.
“Mencari ketenangan hati dan pikiran. Sekalian bisa liburan.”
“Maksud, Abah mereka ingin berobat?” jelas Abi.
Abah mengangguk. “Anak-anak muda sekarang mereka lebih cepat stres dan depresi gara-gara tuntutan hidup, pekerjaan, belum lagi masalah cinta dan keluarga. Karena kurang dekat pada sang pencipta membuat mereka lupa kalau hidup ini sudah ada yang ngatur. Makanya mereka sulit untuk menerima cobaan.”
“Maksud, Abah ikhlas?” tanya Davira.
“Benar, Buk. Kalau dari kecil anak-anak kita tak dibekali ilmu agama yang kuat maka akan semakin banyak anak-anak muda yang mengalami gangguan mental."
Davira dan Endra merasa tersindir akan ucapan Abah. Mereka sadar kalau dari Larisa kecil mereka hanya menyuguhkan hal-hal yang berbau dunia.
“Ikhlas itu memang sulit, tapi kalau dari awal kita percaya pada sang pencipta pasti bisa,” tambah Abah.
“Benar kata, Abah. Sejak saya hidup bersama Larisa banyak pelajaran yang dapat dipetik. Kita ini cuma manusia biasa, tanpa Allah maka kita gak akan bisa apa-apa, contohnya saja kesembuhan Larisa. Awalnya saya begitu yakin bisa membuatnya sembuh, tapi saya sadar kalau bukan karena izin Allah hal itu gak akan terjadi,” tambah Abi.
“Mereka kini sudah mendekatkan diri pada sang pencipta. Saya juga sering berikan nasehat-nasehat sesuai kitab suci Al quran,” terang Abah pada Endra dan Davira.
“Pantas, Bah, perkembangan Larisa jauh lebih pesat. Ternyata inilah yang disebut keajaiban,” ujar Endra.
“Awal mereka pindah kemari dan mengetahui Larisa tak ada perubahan sama sekali, kami pun semakin putus asa,” lanjut Davira.
“Bersyukurlah kalian punya menantu sesabar dan sekuat, Nak Abi. Dia benar-benar mengikuti semua yang saya sarankan termasuk meminta dan berserah diri pada pemilik alam.”
“Kami jadi malu, Bah. Sudah setua ini kadang masih melupakan Tuhan, malah sibuk mengejar dunia yang ternyata tak ada habisnya,” sesal Endra.
“Tak ada kata terlambat, Pak. Allah akan menerima taubat umatnya yang bersungguh-sungguh meski di akhir hayatnya.”
“Sudah dulu ngobrolnya, nanti dilanjut lagi. Kita makan dulu, ini semua hasil kebun kami,” sela Umi.
“Mi, tolong panggil Larisa,” pinta Abah.
“Ada kebun juga di sini, Bah?” tanya Endra.
“Ada, buat mengisi waktu luang murid-murid pondok. Ayo, kita kedalam,” ajak Abah
__ADS_1
Selesai makan siang mereka pun beralih ke masjid untuk melaksanakan sholat Dzuhur. Setelah itu Abah dan Umi mengajak tamunya berkeliling pondok dan melihat kebun sayur juga kebun buah mereka. Terakhir mengambil ikan yang di jala para anak-anak pondok dekat pantai.