
Larisa mengangguk paham. “Jadi, Papa gak tau masalah ini?”
Indah menggeleng. “Kayaknya ini terjadi baru-baru ini.”
“Kamu hubungi sekretaris dan atur jadwal agar kita bisa ketemu. Biar Dendi yang datang mewakili.”
“Siap, Buk. Ada lagi?”
Larisa mengeleng sambil tersenyum.
“Kalau begitu saya kembali ke meja. Permisi.”
“Terimakasih.”
Kepergian Indah Dendi pun membuka suara. “Mbak, yakin?”
“Soal?”
“Soal saya yang mewakili pertemuan itu nanti.”
Larisa mengajak Dendi untuk duduk di sofa. “Mbak, yakin kamu pasti bisa. Lagain kalau bukan karena kamu, mungkin Mbak juga gak bakalan tahu soal ini.”
Dendi hanya mengangguk.
“Mbak minta tolong sama kamu, Tolong bantu Mbak untuk meneruskan perusahaan ini. Mbak gak akan bisa selamanya mengurus bisnisnya Om Endra. Cuma kamu satu-satunya harapan kami dan Mbak percaya sama kamu.”
“Terimakasih kalau, Mbak, dan Om percaya sama aku. Insyaallah, aku akan jaga amanah ini.”
“Terimakasih, Mbak titip perusahaan sama kamu, ya.”
Dendi mengibaskan tangannya. “Mbak, kok ngomongnya gitu sih? Kayak orang mau pergi aja.”
“Cepat atau lambat Mbak akan pergi dari sini, Den.”
__ADS_1
Dendi pun bangkit dari duduknya. “Kalau gitu aku balik kerja lagi.”
“Iya, nanti Indah akan kabari kamu kapan jadwal ketemunya.”
Pria itu mengangguk dan melangkah pergi dari sana.
...🐯🐯🐯🐯...
“Gimana hari ini di kantor?” tanya Abi.
Usai makan malam dan menemani putri mereka tidur, Abi dan Larisa pun memutuskan untuk masuk ke kamar mereka.
“Lancar, gak ada masalah atau kendala sama sekali. Aku benar-benar terbantu banget sejak ada Dendi,” jawab Larisa.
“Bagus kalau gitu. Si dedek gimana, rewel gak?”
“Kan baru satu bulan, Kak. Belum ada pergerakan lah.”
“Maksud Kakak kamunya capek gak? Atau ada keluhan?”
“Pokoknya harus ingat, meskipun kamu kuat di kehamilan sekarang. Tetap harus hati-hati dan kalau kerja jangan terlalu dipaksakan.”
Wanita itu membelai pipi suaminya. “Iya, sayang.”
Abi pun tersenyum, ia merasa tersanjung jika dipanggil begitu oleh istrinya. “Lagi dong!”
“Apa?” Larisa tak paham dengan maksud permintaan Abi.
“Dipanggil sayang kayak tadi.
“Emang kenapa?”
“Gak papa, Kakak jadi berbunga-bunga rasanya kalau dipanggil begitu. Sekali-kali loh dipanggil begitu, biasanya dipanggil Kakak mulu. Udah jadi suami juga masih di panggil Kakak terus. Emangnya Kakak ini Kakak kamu?”
__ADS_1
Larisa pun tertawa. “Kakak, kok jadi manja gitu sih? Daru dulu tuh gak pernah protes kalau aku panggil Kakak. Kenapa sekarang jadi dipermasalahkan?”
Abi mengangkat bahunya. “Pokoknya Kakak mau panggilannya diganti!”
“Maunya dipanggil apa?” tanya Larisa lembut.
“Bagusnya apa?”
“Mas aja gimana?”
Abi menimang-nimang usulan dari istrinya. “Coba praktekin dulu. Kalau kedengarannya bagus, Kakak setuju.”
“Mas Abi, kita tidur, yuk!”
Abi menggeleng. “Kok Kakak geli, ya dengarnya?!”
“Hahahaha … Makanya, udah bagus panggil Kakak aja.”
“Iya deh, tetap panggil Kakak aja lah. Sudah biasa juga.”
Larisa mengangguk setuju. “Yuk, tidur! Besok pagi aku ada meeting di kantor.”
Abi merebahkan badannya di atas kasur lalu menepuk dada agar istrinya tidur di sana. Ditariknya selimut untuk menghangatkan tubuh mereka di malam ini.
...🐽🐽🐽🐽...
Sebelum sholat subuh Larisa membangunkan putri tercintanya untuk ikut sholat berjamaah bersama. Larisa menuntun Kyra mengambil wudhu lalu memakaikan mukenah. Setelahnya mereka berdua bersiap di belakang Abi.
“Allahu Akbar … .” Abi mulai mengangkat kedua tangan lalu melipat di bawah dada. Di ikuti oleh Larisa dan sang putri. Mereka melaksanakan sholat subuh pagi ini dengan begitu khusyuk. Kyra pun tampak sudah terbiasa, karena sedari kecil Larisa atau Abi sudah mengajarkan gerakan sholat beserta bacaannya.
“Assalamualaikum warahmatullahi … .” Diakhiri dengan salam Abi memalingkan muka ke kanan dan diikuti oleh dua jamaahnya. Setelahnya Larisa dan Kyra mencium punggung tangan imam solat mereka.
“Sekarang kita doa, ya,” ajak Larisa pada putrinya.
__ADS_1
Mereka bertiga menengadahkan tangan untuk meminta dan memohon pada yang maha kuasa. Dengan penuh keikhlasan mereka berdoa dalam hening nya pagi ini.