
Sampai di villa keduanya buru-buru membersihkan diri secara bergantian setelah itu mereka segera melakukan kewajiban sebagai muslim. Tak lupa pasangan itu menengadahkan tangan mengucap syukur pada yang maha kuasa atas kebahagiaan yang telah dilimpahkan dalam rumah tangga mereka.
Juga pastinya mereka meminta semoga kebahagiaan ini akan terus berlanjut dan tak ada lagi cobaan yang terlalu berat kedepannya.
“Mau makan sekarang?” tanya Larisa pada suaminya.
“Boleh. Bawa ke atas aja, Yang. Kita makan di ruang tengah sambil nonton.”
“Minumnya mau apa?”
“Kakak, air putih aja.”
Larisa turun ke dapur memanaskan makanan yang tadi mereka beli. Sambil menunggu ia pun menghubungi Kania. Sebab dari tadi pagi panggilan dan pesan dari sahabatnya itu tak ia jawab atau di balas.
📞LARISA ...
Pekik Kania di balik telpon, ia merasa jengkel karena dicuekin seharian.
📞Sorry.
📞Mentang-mentang lagi asik berduaan lo lupain gue, ya.
📞Bukan lupa, tapi gak sempat pegang ponsel.
Kania berdecak. 📞Terus gimana?
📞Lancar.
📞Gak sakit?
📞Awalnya, tapi, Kak Abi melakukannya dengan pelan jadi gue nya nyaman.
📞Hahaha selamat, ya.
📞Buat apa?
📞Lo gak perawan lagi
📞Sialan lo. Udah, ya, gue lagi manasin makanan ini.
📞Oke. Pastinya lanjut lagi kan?
📞Kania, kepo deh.
📞Hahaha gue becanda. Yaudah, Daa.
Larisa menutup panggilan mereka sambil menggelengkan kepala akan tingkah sahabatnya itu.
...🥥🥥🥥🥥...
Entah kapan mereka selesai makan malam. Kini keduanya sedang melakukan pemanasan di atas sofa ruang tengah, bahkan acara TV yang tadinya menarik kini tak lagi jadi tontonan. Karena bercumbu jauh lebih menarik sekarang.
“Kamu di atas, ya,” kata Abi.
Larisa tampak ragu.
“Ikuti saja naluri kamu.”
Akhirnya wanita itu meyakinkan diri untuk mengambil alih permainan mereka malam ini. Abi pun menuntun dirinya memasuki Larisa. Ia memastikan hal itu berjalan dengan pelan namun, pasti. Agar sang istri dapat merasa nyaman serta juga ikut merasakan nikmat yang dirasakannya.
Benar apa yang dikatakan oleh suaminya. Larisa mulai bergerak sesuai nalurinya. Ia pun melakukan hal-hal lain yang dapat membuat Abi melayang. Dan Ia pun merasa bangga ketika melihat laki-laki itu seperti akan meledak.
__ADS_1
“Faster, baby,” kata Aki dengan suara parau.
Larisa mempercepat gerakannya hingga mereka berdua merasakan ledakan yang sama di dalam sana. Ia pun langsung ambruk di atas dada Abi karena sudah lelah berjuang membuat suaminya bahagia.
“Are you oke?” tanya Abi menutupi tubuh polos mereka berdua dengan selimut yang dibawa Larisa tadi.
Istrinya mengangguk. Nafasnya tampak masih memburu. “Capek.”
“Istirahat dulu sebentar, habis itu kita ke kamar buat bersihin diri.”
“Aku mau langsung tidur aja.”
“Gak baik buat kesehatan. Harus dibersihkan dulu, baru habis itu tidur.”
“Gendong tapi,” rengek Larisa.
Abi pun bangkit dan mengendong istrinya kembali ke kamar.
...🍒🍒🍒🍒...
Waktu pun bergulir dengan cepat. Larisa dinyatakan lulus sesi wawancara di kampus tempatnya mendaftar. Wanita itu pun sudah menyelesaikan registrasi terakhir. Kini ia mulai kuliah dari pagi hingga siang hari. Ia meminta Kania untuk menutupi statusnya pada pihak kampus dan teman yang lain.
“Kenapa?” tanya Kania. Saat mereka berjalan di lorong kampus.
“Ya, gue kan belum nikah resmi, Nia.”
“Oh, tapi nanti bakalan ada resepsi kan?”
“Pasti, lah. Kami bakalan nikah resmi.”
“Ya, sudah, kalau gitu gue ke kelas dulu. Daa.” Kania pun menuju ruang kelasnya begitu pula dengan Larisa.
Jurusan yang dipilihnya tentu tak jauh dari ilmu bisnis, karena suatu saat nanti ia pasti akan menggantikan sang Papa untuk meneruskan usaha keluarga. Meski dia belum yakin untuk kembali tinggal di Jakarta.
“Sayang, Kakak pulang.” Abi pun segera mencari sang istri di dapur karena kini setiap sore Larisa akan memasak makan malam untuk mereka. Sebab siangnya ia tak bisa lagi menyiapkan bekal untuk sang suami. Ia sudah disibukkan dengan tugas-tugas dari kampus.
“Mandi dulu sana. Bajunya udah aku siapin di atas kasur.”
“Kiss dulu.” Abi memeluk Larisa.
“Kak, malu ada Bibik.”
“Gak papa, Mbak. Silahkan ke atas buat bantu Mas Abi. Biar ini saya selesaikan,” jawab Art itu.
Tiba-tiba Larisa merasa tubuhnya sudah melayang ternyata sang suami menggendongnya menuju kamar mereka.
“Kita mandi bareng,” seru Abi sambil menaiki tangga.
“Maunya,” cibir Larisa.
...🥝🥝🥝🥝...
Malam hari keduanya tampak sibuk di depan laptop masing-masing. Apalagi Larisa belakangan ia memang disibukkan dengan tugas kuliah.
“Yank, kamu gak capek depan laptop sama depan buku terus?” tanya Abi memperhatikan sang istri.
“Gak. Kenapa, Kak?”
“Baru masuk kuliah udah banyak tugas gitu. Gak mau santai dulu? Kita jalan-jalan yuk.”
“Aku emang pengennya bisa menyelesaikan S2 dalam waktu singkat.”
__ADS_1
“Kenapa buru buru?”
“Pengen aja. Biar nanti bisa fokus sama, Kakak. Apalagi kalau udah punya anak.”
Abi pun mendekti istrinya. “Ngomong-ngomong punya anak, kamu udah telat belum?”
Larisa berpikir sejenak. “Gak tau.”
“Kok gak tau.”
“Menstruasi aku itu datangnya gak teratur, Kak. Kadang bisa cepat kadang juga bisa lama.”
“Ooh, tapi kamu ada ngerasa pusing atau mual gitu gak.”
Larisa menggeleng. “Aku baik-baik aja. Emang bisa langsung hamil? Baru juga satu bulan kurang dari malam itu.
“Bisa lah.”
“Kakak, pengen banget ya punya anak secepatnya?”
Abi mengangguk.
“Santai aja. Kalau di kasih pasti nanti kita bakalan dapat kabar bahagia itu. Yang penting doa,” kata Larisa.
“Plus usaha,” tambah Abi.
“Kalau usaha mah, hampir tiap hari. Kakak gak ada capeknya,” kesal Larisa.
Abi pun tertawa lebar. “Udah malam, bobok, yuk.”
“Oke deh."
...🍋🍋🍋🍋...
Seperti biasa, jumat sore Endra dan Davira akan terbang ke Bali dan mereka akan menginap di villa anak dan menantunya selama dua hari. Sekalian Endra akan memantau perkembangan RSJ yang sedang di bangun.
“Gimana kuliahnya, La?” Endra bertanya pada sang putri ketika mereka sedang makan malam.
“Lancar kok, Pa,” jawab Larisa.
“Kamu ke kampus tiap hari?” tanya Davira.
Larisa mengangguk.” Kalau di rumah mulu aku bisa bosan juga. Di kampus kan bisa ketemu teman-teman.”
“Terus Abi gimana?”
“Gak gimana-gimana.”
“Larisa bisa bagi waktunya, kok, Ma,” jelas Abi.
“Mama takut aja dia lupa ngurusin kamu.”
“Mama, tenang aja. Aku ini istri yang tau akan tugas dan tanggung jawab,” sela Larisa.
Endra dan Davira sedikit kaget. Pasalnya sang menantu tak memberitahu mereka bahwa ia sudah mengatakan pada Larisa soal pernikahan yang selama ini mereka sembunyikan.
...----------------...
Lanjut besok lagi... maaf bab ini aga sedikit...
Minta like 👍 sama komennya 🖊 hadiah 🎁 juga jangan lupa...
__ADS_1
Terimakasih 🥰😊