Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 105


__ADS_3

“Mama, aku boleh tidur lagi gak?” tanya Kyra.


“Boleh, sayang. Kamu tidur aja di sini,” jawab Larisa.


“Bobok sama Papa yuk,” ajak Abi.


“Kakak, gak olah raga dulu?” tanya Larisa.


“Males, sayang. Pengennya tidur lagi aja.”


Larisa menatap heran pada suaminya itu. “Aneh, gak biasanya.”


“Bawaan hamil kali, ya.” Abi dan sang putri sudah berada di atas kasur.


“Emang bisa gitu? Istri yang hamil suaminya jadi malesan.”


“Bisa lah, ada juga yang sampai mual-mual.”


“Baru dengar aku.” Larisa membereskan sajadah.


“Kamu mau masak sarapan, ya?”


Wanita itu pun mengangguk.


“Bikinin Kakak roti bakar pakai pisang boleh?”


“Boleh. Kakak ngidam?”


“Kayaknya.”


Larisa cuma tertawa sambil menggelengkan kepala.


“Kalau gak percaya, coba baca di google sana.”

__ADS_1


“Iya, aku percaya. Muach.” Wanita itu mendaratkan sebuah kecupan di kening suami dan putrinya. “Aku turun, ya. Tidur lagi aja kalau ngantuk, nanti aku bangunin.”


Abi mengangguk lalu memeluk Kyra yang sudah terlelap duluan sedangkan Larisa berjalan keluar kamar menuju dapur yang ada di bawah.


...🐯🐯🐯🐯...


Paginya saat mereka sampai di kantor pria itu mengantar Larisa sampai depan pintu lift. Abi sepertinya sangat posesif di kehamilan kedua Larisa. Entah kenapa dia mulai merasa cemburu ketika melihat sang istri yang semakin cantik. Mungkin karena aura kehamilannya. 


Bagi Larisa ia merasa biasa-biasa saja, tapi bagi suaminya ia mulai menjelma bak model. Tubuh langsingnya kini mulai berisi di bagian-bagian tertentu membuat Larisa tampak lebih molek dari biasanya. 


“Pokoknya nanti pas pulang jangan turun sebelum Kakak jemput ke atas,”pesan Abi.


“Iya, Kakak,” jawab Larisa.


Terakhir Abi memberikan satu kecupan di kening istrinya. “Kakak, pergi.”


“Hati-hati nyetirnya.”


Sampai di ruang kerjanya Larisa langsung membahas pekerjaan bersama Indah. Menyibukkan diri mempelajari beberapa berkas yang akan dibawa untuk rapat sebentar lagi.


“Buk, Meetingnya lima belas menit lagi.”


Larisa mengangguk ia mempersiapkan bahan-bahan yang akan dibawa meeting, terakhir memperhatikan penampilannya. Menambahkan sedikit lagi lipstik yang pudar di bibirnya. 


“Kita akan rapat dengan tiga perusahaan yang sudah menjalin kerja sama dengan perusahaan ini,” jelas Indah saat mereka berjalan ke ruang meeting.


Wajah Larisa sedikit tegang tapi dia berusaha menetralkan rasa gugupnya dengan menarik nafas dalam lalu di buangnya. “Dendi mana?”


“Kan Pak Dendi ketemu dengan perwakilan dari perusahaan yang kemarin Ibuk minta.”


“Oh, Iya saya lupa.”


“Santai aja, Buk. Ibuk, pasti bisa, saya akan selalu ada disamping Ibuk.”

__ADS_1


Wanita itu memaksakan segaris senyuman di wajahnya. Indah segera membuka pintu ruang rapat itu dan Larisa pun masuk.


“Perkenalkan, ini Bapak Agus dari perusahaan J,” kata Indah.


“Larisa.” Wanita itu mengulurkan tangan pada rekan bisnisnya.


“Ini Bapak Joda dari perusahaan Y.”


“Larisa.” Kembali menyalami rekan bisnisnya yang kedua.


“Terakhir ini Bapak Bayu dari perusahaan G.”


Larisa sempat terkejut dan kaget, Bayu yang dimaksud Indah ternyata adalah Bayu sang mantan yang dulu sudah membuatnya hampir gila. Begitu pula dengan Bayu, ia tak menyangka sudah sekian lama tak bertemu dengan sang mantan calon istri, akhirnya kini mereka bertemu kembali.


“Larisa.” Wanita itu tetap menjabat tangan sang mantan. Meski di awal ia sedikit gugup tapi Larisa berusaha bersikap profesional.


Meeting pagi ini pun dimulai. Ada banyak pertanyaan yang muncul di benak Larisa soal Bayu yang bisa bekerja sama dengan perusahaan Papanya. Namun, hal itu ia kesampingkan dulu, materi rapat yang sudah dipersiapkan dari kemarin harus disampaikan. 


Satu jam berlalu rapat berjalan dengan lancar. Kesepakatan pun berhasil mereka dapatkan. Larisa pun akhirnya menyudahi meeting itu.


“Kami pikir Pak Endra yang akan memimpin rapat,” ujar Agus.


“Untuk sementara saya akan menggantikan posisi beliau,” jelas Larisa.


“Memangnya Pak Endra lagi sakit?”


“Tidak, hanya saja kami sedang mencari seseorang yang tepat untuk menggantikan posisinya.”


“Kenapa tidak Ibuk saja?”


“Ada alasan pribadi kenapa saya tak bisa menggantikan posisi beliau.”


Rekan bisnis Larisa itupun mengangguk paham. “Baik kalau begitu kami permisi. Semoga kerjasama kita tetap berjalan lancar.

__ADS_1


__ADS_2