Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 133


__ADS_3

"Ngomong apa kamu sama dia?” tanya Abi.


“Aku cuma minta maaf,” jawab Larisa.


“Minta maaf? Buat apa?”


“Minta maaf karena suami aku sudah menghukumnya dengan sangat tidak adil.”


“Tidak adil dari mana? Dia terbukti mencelakai kamu dan dia juga seorang pembunuh anak kita.”


“Aku sudah bilang, dia gak sengaja, Kak,” jelas Larisa dengan nada rendah.


Abi merasa gusar dengan sikap sang istri yang terus membela mantannya itu. “Kamu masih cinta sama dia? Iya!?”


Wajah Larisa langsung berubah. Dahinya mengerut seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. “Kakak, nuduh aku?”


“Lalu kenapa kamu masih membelanya di saat dia jelas jelas bersalah?”


“Aku heran, ya sama, Kakak! Disini aku loh yang menjadi korbannya, kenapa malah, Kakak, yang pengen banget Bayu di hukum. Sedangkan aku sudah memaafkannya.”


“Karena kamu istri Kakak dan janin yang kamu kandung kemarin adalah anak Kakak.”


“Janin itu juga anak aku, tapi aku tak mau meletakkan kesalahan pada orang lain. Aku juga gak mau menuduh orang sembarangan. Meski aku sedih karena kehilangan bukan berarti sisi kemanusiaan aku hilang terhadap Bayu yang jelas-jelas dia tidak bersalah.”


“LARISA!” bentak Abi. Membuat wanita itu mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


Abi yang dikuasai emosi membentak istrinya untuk yang pertama kali.


Tanpa sepatah kata Larisa pun pergi dari hadapan suaminya membawa perih di dada. Cukup untuknya bicara karena kini air mata sudah menganak di pelupuk. Hingga di depan jalan raya ia menghentikan taxi nan melintas.


Abi yang sedang berusaha menetralkan amarah baru sadar kalau sang istri sudah pergi menaiki kendaraan umum. Ia sempat mengejar mobil sedan berwarna biru itu, tapi sudah terlambat.

__ADS_1


...🐤🐤🐤🐤...


Tiba dirumah Larisa bergegas masuk ia menemui Davira dan Endra sedang menunggu kedatangannya bersama Abi.


“Loh, Abi mana? Kok pulang sendiri,” tanya Davira.


“Gimana hasil putusan sidang?” tanya Endra.


“Tanya aja sama menantu kesayangn Papa,” jawab Larisa. Setelahnya ia bergegas menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ia ingin sendiri menumpahkan kesedihan dan perih hatinya.


Dua orang tua itu pun tampak bingung. Mereka bertanya-tanya hingga tak lama Abi pun sampai.


“Larisa mana, Ma?” tanya Abi pada Davira.


“Ada di kamar. Kok kalian pulangnya misah sih?”


“Aku susul Larisa dulu, nanti kita cerita.” Laki-laki yang dilanda rasa bersalah itu bergegas menuju kamar untuk menemui istrinya.


Abi pun berusaha mendekat. “Maafin, Kakak.”


“Keluar atau aku yang pergi,” usir Larisa dengan derai air mata.


"Kamu boleh pukul Kakak, tampar Kakak tapi Kakak mohon maaf yang sebesar-besarnya.”


Dengan langkah besar Larisa keluar dari sana dan Abi pun mengikuti dari belakang. Tiba di ruang tengah di mana Davira dan Endra berada.


“Secepatnya aku mau Papa melakukan acara serah terima jabatan di kantor. Karena aku mau secepatnya kembali ke Bali. Aku gak mau lama-lama tinggal di kota terkutuk ini. Dari awal aku sudah bilang untuk gak mau tinggal disini, tapi kalian terus memaksa. Sekarang kehidupan aku kembali kacau, masalah gak pernah ada solusinya. Bahkan suami ku sendiri kini juga sudah berubah.” Larisa mengutarakan isi hatinya, membuat Davira dan Endra saling tatap.


“Ada apa, sayang, coba jelaskan,” bujuk Davira.


“Aku cuma mau kehidupanku kembali sempurna, aku cuma mau suamiku kembali, aku cuma mau rumah tangga ku kembali harmonis,” raung Larisa.

__ADS_1


Abi berusaha merangkul istrinya, tapi ia malah didorong dengan sangat kuat. Seolah-olah Larisa begitu sangat membencinya. “Pergi dari sini atau aku yang pergi?”


“La, kasih Kakak kesempatan, dong," mohon Abi mengiba.


“Gak ada kesempatan buat orang egois. Pergi!” teriak Larisa.


“Oke-oke, Kakak akan pergi tapi please kamu jangan mikir yang macam-macam, ya.”


“Pergi, aku gak mau lihat, Kakak, di sini.” Larisa pun kembali melangkahkan kakinya menuju kamar. 


Abi, Davira dan Enda hanya bisa menatap punggung wanita itu hingga menghilang di balik tembok.


...🐺🐺🐺🐺...


Setelah menjelaskan apa yang terjadi antara ia dan Larisa pada kedua mertuanya, Abi pun memutuskan pulang ke rumah sang Mama. Tiba di sana ia juga menceritakan pada Ningsih soal masalahnya dengan sang istri.


“Istirahat sana, nanti kita ngobrol lagi kalau hati dan pikiran kamu sudah tenang,” kata Ningsih.


Tiba di kamar Abi menatap nanar langit-langit ruangan itu. Ingatannya memutar kembali kejadian tadi siang. Sungguh hatinya pun kini terasa sakit karena sudah membentak sang istri. Padahal sebelumnya ia tak pernah melakukan hal itu. Pantas saja kalau Larisa mengusirnya dari rumah.


Hingga tanpa sadar ia pun memejamkan mata karena rasa lelah dan capek nan mendera membuatnya tertidur lelap siang ini. 


...----------------...


Hhhuuuff... agak tegang dan panas, ya..


jadi kebawa emosi..


tetap tenang dan kita lanjutkan besok..


jangan lupa like 👍 komen 💬 hadiah 🎁 vote 🔖 dan bintang ⭐ lima

__ADS_1


Terima kasih 🥰🥰🥰😉😉


__ADS_2