Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 73


__ADS_3

"Makasih banyak lo udah beresin masalah gue sama pihak hotel,” kata Kania.


Larisa hanya tersenyum.


“Gue juga udah bilang makasih banyak sama Om Endra. Dia sampai bela-belain beli saham itu hotel cuma buat bantu bebaskan gue dari kontrak kerja dan lepas dari perjanjian yang akan mengikat gue seumur hidup.”


“Itu mah kecil buat Papa.”


“Gua gak tahu harus balas pakai apa.” Pandangan Kania menatap jauh ke ujung lautan yang ada di depan mereka.


“Gak perlu. Papa pasti ikhlas kok, dia gak rugi sama sekali. Toh dia bakalan dapat keuntungan dari hotel itu.”


“Tapi, Sa, gue janji bakalan kerja di hotel itu seumur hidup. Buat bantu Papa lo kembangin hotel jadi hotel bintang lima, kalau perlu bintang sepuluh deh.”


“Hahaha gak usah, Nia. Tapi kalau lo emang berminat silahkan, gue gak bisa menghalangi niat baik seseorang.”


Kania tersenyum lebar.


“Jadi, kapan keluarga lo datang ke Bali?” tanya Larisa.


“Minggu depan.”


“Lo sama Kak Boni udah mutusin kapan kalian menikah?”


“Kira-kira tiga bulan lagi lah.”


“Asal jangan sampai pas gue brojol aja. Sebisa mungkin sebelum gue lahiran kalian sudah tinggal di sebelah.”


“Iya-iya. Bawel banget sih lo.”


“Gue takutnya nanti Kak Abi ribet pas Kak Boni cuti, guenya melahirkan. Terus klinik gimana,” jelas Larisa.


“Kak Boni sama Kak Abi sudah atur jadwal  mereka.”


“Bagus kalau gitu.”


“Terus orang tua lo siap bantu kan untuk dampingi Kak Boni.”


“Kita semua siap buat jadi keluarga dari pihak laki-laki.”


Kania pun memeluk wanita hamil itu. “Makasih banyak, lo emang sahabat gue yang terbaik.”


“Emang lo punya sahabat lain?”


“Gak juga sih.”


Larisa mendengus sebal. “Donat gue mana? Dari tadi gak sampe-sampe.”


“Sabar bumil, lagi OTW.” Kania merasa gemas dengan perut Larisa. “Kamu bakalan aunty kasih nama baby donat.”


“Enak aja,” kesal Larisa. Dia segera menepis tangan Kania dari perutnya.


“Habisnya lo itu sekarang jadi doyan donat, setiap gue kesini harus bawa donat kalau lupa harus pesan.”


“Iya, ya. Padahal dulu gue gak begitu suka.”


“Nah, artinya yang doyan itu si baby ini.” Kania mengusap perut buncit itu.


“Kayaknya sih.”


“Eh lo udah cek ke dokter kandungan?”


“Udah, baru aja kemarin. Kenapa?”


“Mau lihat hasil USG nya dong.” Kani tampak penasaran dengan wajah anak Larisa.


Ibu hamil itu membuka ponselnya mencari di galeri hasil USG kemarin. “Nih.” 


Kania memperhatikan layar ponsel itu. “Mirip Almarhum Mbak Mina deh.”


“Kak Abi kemarin juga bilang gitu. Terus dikirim ke Mama Ningsih, beliau juga bilang gitu. Gue sempat lihat fotonya Kak Mina, emang sekilas mirip.”


“Tunggu aja pas lahir nanti. Gue yakin dia pasti cantik banget kayak Mbak Mina. Gue boleh minta gak?”


“Buat apa?”


“Kirim ke Kakak gue. Siapa tau dia bisa lepas rindunya sama Mbak Mina.”


“Gak papa emang? Takutnya nanti Kakak lo malah tambah gak bisa move on.”

__ADS_1


“Gak papa. Santai aja.” Kania pun mengirim foto itu ke ponselnya dan diteruskan ke pesan chat sang Kakak.


...🧄🧄🧄🧄...


Abi baru saja sampai villa dari klinik ia pun bergegas menaiki tangga menuju kamar. Ternyata sang istri sedang menikmati waktunya di atas sofa dan menonton film di temani camilan pastinya. “Assalamualaikum,” katanya mendekat.


“Waalaikumsalam,” jawab Larisa hendak bangkit tapi Abi menahannya.


“Pulang juga, peluk dong kita kangen Papa nih.”


“Hahaha Papa kan cuma kerja gak pergi jauh, masak udah kangen aja.” Abi memeluk istrinya itu.


“Masak kangen sama suami harus tunggu jauhan dulu,” sebal Larisa.


Abi tersenyum. “Kakak juga kangen Mama sama baby girl.”


“Mandi gih, habis itu kita jalan-jalan sore. Bosan di villa mulu.”


“Jalan-jalan pakai motor baru?”


Larisa mengangguk cepat dan raut wajahnya tampak senang.


Abi mengecup perut istrinya. “Papa mandi dulu, ya, sayang.”


“Oke, Papa,” jawab Larisa menirukan suara anak kecil


...🥭🥭🥭🥭...


Sebelum jalan menggunakan motor, Abi memastikan sang istri memakai pakaian yang hangat meski cuaca masih terik di sore hari. Namun, berkendara dengan motor akan terasa dingin. Ia tak mau jika wanita itu nantinya akan sakit. 


“Ready?” Abi memasangkan helm di kepala istrinya.


“Let's go, Papa.”


Motor matic 160cc berwarna merah itu melaju keluar dari halaman villa menuju jalanan. “Kita mau kemana, sayang?”


“Kita cari tempat makan yang bisa nyantai sambil menikmati sunset.”


Mereka menuju suatu cafe yang biasanya memang ramai dikunjungi oleh orang-orang saaat sore hari. Tempatnya yang nyaman dan Larisa bisa duduk santai sambil meluruskan kakinya di atas sofa yang disediakan, sambil memandang ke arah pantai.


Abi pun sudah memesan makanan untuk mereka berdua, sejak sang istri hamil dan suka makan, ia pun jadi ikut-ikutan makan banyak. Alhasil berat badannya naik drastis. Namun, Abi tetap menjaga bentuk tubuhnya atas permintaan sang istri yang suka dengan bodinya nan terbilang sexy seperti aktor-aktor di drama korea yang suka di tontonnya.


“Iya, dong. Bumil bosan di villa mulu.”


“Baby girl senang gak?” Abi mengelus perut istrinya.


“Die gerak-gerak mulu pas kita sampai sini, artinya dia juga happy.”


“Sudah masuk trimester tiga, apa yang kamu rasakan sekarang?”


“Ngos-ngosan sih, Kak. Apa lagi badan aku sekarang jadi bulat gini, semakin terasa berat.”


“Pasti makin capek juga, ya?”


Larisa mengangguk. “Tidur sekarang juga susah. Miring kanan kiri gak nyaman.”


“Sabar, bentar lagi kita ketemu baby girl. Kakak pasti akan selalu bantu dan dampingin kamu.”


Makanan mereka pun datang dan keduanya menikmati sambil memandang matahari yang mulai membenamkan dirinya. 


Keduanya masih betah duduk di sana meski langit sudah makin gelap, Baik Larisa maupun Abi belum ingin kembali ke villa. 


“Kapan kamu lanjut kuliah lagi?” tanya Abi. Ia memeluk sang istri yang dibalut dengan selimut tipis yang tersedia di sana. 


“Mungki nanti pas baby girl sudah satu tahun.”


“Kakak setuju aja, yang penting kamu bisa bagi waktu.”


“Aku bakalan kuliah dari rumah aja. Kalau ada hal yang penting banget, baru datang ke kampus.”


“Kalau pembangunan RSJ siap dan mulai beroperasi, Kakak pastinya nanti akan semakin sibuk.”


“Aku ngerti. Pokoknya kita harus bisa bikin waktu yang singkat jadi berkualitas, aku, Kakak dan baby girl. Sebisa mungkin kita harus ada untuk dia di jadwal yang begitu padat.”


“Oke, Mama.”


“Kapan kita belanja keperluan baby girl?”


“Kamu catat dulu apa saja yang perlu kita beli, nanti pas libur kita belanja.”

__ADS_1


Cafe itu memutar beberapa lagu sejak mereka tiba tadi dan kini ada sebuah lagu yang menurut Larisa itu sangat mewakili isi hatinya terhadap sang suami.


I need a lover to keep me sane


Pull me from hell, bring me back again


Play me the classics, something romantic


Give him my all when I don't even have it


I always dreamed of a solemn face


Someone who feels like a holiday


But now I'm in pieces, barely believing


Starting to think that I've lost all feeling


You came out the blue on a rainy night, no lie


I'll tell you how I almost died


While you're bringing me back to life


“Aku suka lagunya,” kata Larisa.


“Oh, ya? Kalau begitu mari kita berdansa,” ajak Abi. 


I just wanna live in this moment forever


'Cause I'm afraid that living couldn't get any better


Started giving up on the word "forever"


Until you gave up heaven so we could be together


Pria itu berdiri dan mengulurkan tangannya pada sang istri. Larisa menyambutnya dengan senang hati kemudian keduanya menari seiring irama lagu yang mengalun.


“Lagunya sesuai sama apa yang aku alami.” Larisa pun ikut menyanyikan bagian reff dari lagu tersebut. 


You're my angel


Angel baby, angel


You're my angel, baby


Baby, you're my angel


Angel baby


Abi hanya tertawa ia merasa tersanjung saat dinyanyikan oleh sang istri.


Angel


Angel baby, angel (you are angel baby)


You're my angel, baby (you are angel baby)


Baby, you're my angel


Angel baby


Orang-orang yang ada di sana pun ikut menikmati tarian mereka berdua. Bahkan pengunjung mengelilingi mereka seolah memberikan ruang pada pasangan yang tampak begitu bahagia sekali. Hingga akhir lagu orang-orang pun bersorak…


Cium… Cium …


Membuat Abi dan larisa menyatukan bibir mereka sekilas setelah itu keduanya membungkukkan sedikit badan sebagai tanda penghormatan dan ucapan terimakasih. Semua orang bersorak dan bertepuk tangan bahkan ada yang sampai melemparkan bunga pada mereka. Hingga senyum di wajah keduanya tak dapat pudar.


Setelah semua orang membubarkan diri keduanya kembali duduk. “Balik sekarang?” tanya Larisa.


“Ayok, udaranya juga udah dingin. Gak baik kamu lama-lama kena udara malam,” aja Abi


Pasutri itu beranjak dari tempat mereka, keluar dari cafe dan segera kembali menuju vila menggunakan motor baru yang dibeli Abi sekembalinya dari puncak kemarin.


...----------------...


Yyyuuhhuu... hari ini aku bawa rekomendasi baca lainnya buat kalian. Dari sini silahkan mampir dan tinggalkan jejak di sana. Ceritanya di jamin seru juga loh..


__ADS_1


__ADS_2