
Malamnya Abi dan Larisa mengajak sang putri untuk tidur bersama. Suhu tubuh gadis kecil itu sempat panas, tapi Larisa langsung memberikan obat penurun panas. Membuat Kyra dapat tertidur dengan nyenyak. Namun, pas tengah malam tubuhnya kembali memanas dan Kyra tidur sambil mengigau, memanggil Mochi.
Abi bergegas memeriksa suhu tubuh anaknya dengan termometer. “39,7. Kita bawa ke UGD.”
Abi berlari keluar dari kamar menuju gari untuk menghidupkan mobil. Sedangkan Larisa mengambil selimut untuk membalut tubuh Kyra lalu segera digendongnya menuruni tangga.
Tiba di satu klinik 24 jam Kyra langsung ditangani oleh Dokter jaga. Untung saja mereka datang secepat mungkin kalau tidak, sang putri bisa mengalami kejang akibat panas yang terlalu tinggi.
“Bagaimana putri saya, Dok?” Larisa bertanya dengan raut cemas.
“Kami harus memasang infus pada putri Ibuk karena dia mengalami dehidrasi,” jelas Dokter.
“Jadi, Kyra harus di rawat?”
“Gak, kita tunggu sampai cairan infusnya habis dan panasnya turun. Nanti baru bisa dibawa pulang.”
Ibu muda itu menghembuskan nafas lega sambil mengelus dada.
“Terimakasih banyak, Dok,” ucap Abi.
“Nanti saya akan meresepkan obat minum. Jadi, sebelum pulang tolong ditebus dulu,” tamba Dokter.
“Baik.”
__ADS_1
“Kalau begitu saya permisi.”
Abi menganggukkan kepalanya. Ia dan sang istri pun masuk ke ruang rawat untuk menemani sang anak yang terbaring lemah diatas brankar.
Larisa ikut merasa sedih melihat anaknya sampai sakit begini gara-gara kucing kesayangannya pergi. “Apa kita ganti sama kucing baru aja, ya, Kak?”
“Jangan! Biarkan Kyra belajar menata hatinya. Dia harus tahu, kalau suatu saat nanti kita atau siapa pun yang disayanginya pasti akan pergi meninggalkan dia. Jadi, dia harus siap menghadapi hal itu,” jawab Abi.
Larisa mengangguk paham sambil menghembuskan nafas kasar.
Abi pun membawa istrinya untuk duduk di bangku yang ada di sana. “Apalagi yang kamu pikirkan?”
“Entahlah, kenapa perasaan aku jadi gak enak. Selama kita tinggal di villa,belum pernah ada ular yang masuk. Bahkan taman pun bersih dari semak belukar, lalu kenapa tiba-tiba ada ular dan menyerang Mochi.”
“Jangan mikir macam-macam. Kebetulan saja karena cuaca lagi musim panas, jadinya ular pada keluar karena mereka gak bisa menemukan sarang.”
“Pasti kamu baca-baca mitos, ya? Cari-cari di google kalau ular masuk rumah artinya apa.” Abi menebak pikiran istrinya.
“Gak, kata siapa?” Larisa pun berkilah.
“Bohong! Jangan percaya yang gitu-gituan lah. Kita ini hidup ada Allah, serahkan semuanya sama Allah. Jangan jadikan masalah kemarin bikin kamu berubah pikiran dan batal untuk berangkat ke Jakarta. Kita sudah janji sama Mama, Papa loh, sayang.”
“Iya-iya. Siapa juga sih yang bakalan batal berangkat. Aku kan cuma khawatir aja, Kak.”
__ADS_1
Abi mengelus kepala istrinya. “Ya sudah, Kakak mau ambil resep obatnya Kyra dulu. Kamu tunggu di sini.”
“Ho-oh.”
...🐣🐣🐣🐣...
Kyra sudah di rumah dan panasnya juga mulai turun. Keadaannya jauh lebih baik, cuma gadis kecil itu tak mau beranjak dari pangkuan sang Papa. Ia melihat-lihat kembali foto-fotonya bersama Mochi di ponsel Abi atau Larisa. Rencananya mereka bertiga akan jalan-jalan hari ini tapi karena kondisi Kyra yang kurang sehat akhirnya dibatalkan.
Kania pun datang menjenguk baby donatnya itu. “Jangan sedih lagi, dong. Kan besok mau berangkat ke Jakarta.”
“Kalau kondisinya Kyra masih demam, kayaknya keberangkatan kita di undur deh,” jelas Larisa.
“Oma sama Opanya tau kan, kalau Kyra lagi demam?”
“Tau. Mereka juga bilang tungguin Kyra sembuh dulu baru berangkat.”
“Anak Papa pasti besok sudah sembuh. Iya kan?” Abi bekata pada putrinya.
Kyra pun tersenyum simpul sambil mengangguk.
“Kalian berangkat sorekan besok?” tanya Kania
Larisa mengangguk.
__ADS_1
“Bisa itu berangkat. Kyra pasti sudah baik-baik saja besok.”
Larisa menghembuskan nafas panjang. “Semoga deh.”