
Di pusat perbelanjaan Ibu dan anak itu sibuk memilih bahan masakan sedangkan Abi dan putrinya sibuk memilih jajanan.
“Beli apa lagi, ya, Ma?” tanya Larisa.
“Sudah cukup deh kayaknya. Kita ke kasir,yuk!,” jawab Davira.
“Mama duluan, aku mau cari sesuatu dulu.”
Davira setuju ia pun jalan duluan menuju kasir di sana Abi dan Kyra pun tengah mengantri. Tak lama Larisa pun datang.
“Apa itu?” tanya Abi.
Larisa menunjukkan barang yang dicarinya tadi.
“Sudah telat emangnya?”
“Gak tau. Jadwal mens aku kan gak teratur. Dicoba aja dulu.”
Abi menatap sang istri dari ujung kepala hingga kaki. “Pasti positif.”
“Sok tau.”
“Kakak ini Dokter dan Kakak juga suami kamu, ya, pasti tau lah perubahan apa yang terjadi di tubuh kamu ini.”
Larisa hanya tersenyum lebar. “Semoga deh.”
Belanjaan mereka siap dihitung oleh petugas kasir lalu Abi pun membayarnya. Setelah itu mereka kembali ke rumah.
__ADS_1
...🦉🦉🦉🦉...
Larisa dan Davira dibantu oleh asisten rumah tangga tampak sibuk di dapur, memasak makan siang karena mereka akan kedatangan tamu. Sedangkan Abi dan Kyra mereka tengah asik berenang di kolam. Endra pun hanya duduk santai di bangku menikmati keceriaan cucunya.
Tiba-tiba Davira datang menghampiri suaminya. “Ini minumnya, Pa.”
“Makasih, Ma.”
“Senang, ya, Pa, lihatnya.” Davira ikut menikmati keseruan cucunya di kolam renang bersama Papanya.
“Momen seperti ini yang Papa inginkan. Kita menikmati hari tua melihat anak, menantu dan cucu hidup bahagia.”
“Semoga keluarga kita tidak diberikan cobaan lagi sama yang maha kuasa, ya, Pa.”
“Aamiin. Kita hanya bisa berharap dan berdoa, Ma.”
Davira mengangguk setuju.
“Yaahh ... .” Kyra merasa masih belum puas bermain.
“Besok lagi renang nya, kita makan siang dulu,” ajak Abi.
Akhirnya Kyra setuju keluar dari kolam. Abi mengangkat sang putri ke atas kolam. Larisa pun segera memberikan handuk pada suaminya.
“Ma, aku urus Kyra dulu, tolong makanannya ditata di meja makan, ya,” ujar Larisa.
“Oke, sayang, Nanti Mama bisa di bantu Bibi,” jawab Davira.
__ADS_1
...🐛🐛🐛🐛...
Di ruang tamu terdengar tawa dan canda dari dua keluarga yang jarang bertemu. Seakan melepas rindu mereka membahas kenangan lama yang terasa lucu jika diingat-ingat lagi.
“Sudah-sudah! Sekarang kita bahas soal Dendi saja.” Endra sudah tak mau lagi menceritakan masa kecilnya dengan sang adik pada anak-anak mereka.
“Lah kalau saya sih terserah dia, mau ikut Mas atau bantu-bantu saya kelola perkebunan,” kata Leo.
“Gimana, Den? Kamu mau bantu Om di kantor gak, soalnya Mbak mu gak bisa selamanya ngurus bisnis Om.”
“Mau lah, Om, kalau gak mana mungkin saya pulang,” jawab Dendi. “Kalau ngurus perkebunan Ayah aku gak minat. Biar Abang aja.”
“Alhamdulillah,” seru Endra.
Loe pun hanya mendengus kesal pada sang anak.
“Oh, ya, Om. Kakak nya Dendi mana?” tanya Larisa.
“Lagi ngurus perkebunan. Dia sama Dendi benar-benar gak cocok sama sekali, kalau di rumah suka berantem. Makanya waktu Dendi minta kuliah di luar sana, Om ikuti. Sekarang biarlah dia bantu-bantu Papamu di kantor. Sekarang gelarnya sama kayak kamu, siapa tau kalian bisa cocok ngobrolnya, sama-sama suka dunia bisnis.”
“Mudah-mudahan kami bisa bekerja sama nanti di kantor, biar Dendi bisa jadi penerusnya Papa. Kalau aku gak mungkin selamanya, Om, kasian suami sama anak.”
“Bagus itu. Tante setuju sama kamu,” ujar istrinya Leo.
“Terus selama di Jakarta kamu mau tinggal di mana, Den?” tanya Davira. “Kalau kita sih maunya kamu tinggal disini, tapi kan kamu biasa mandiri.”
“Aku tinggal d apartemen aja, Tante.”
__ADS_1
“Yakin?”
“Seratus persen yakin.”