Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 69


__ADS_3

Diapit oleh dua saudara sepupunya, Larisa tampil anggun mengenakan kebaya simpel namun tampak begitu elegan. Aura pengantin baru ditambah aura dari kehamilannya membuat kecantikan Larisa berkali-kali lipat. Membuat Abi seketika langsung berdiri dari kursinya untuk menyambut sang permaisuri. Mereka akan duduk berdampingan untuk menandatangani surat dan berkas yang akan mengesahkan pernikahan ini.


Pria itu tak bisa berkedip sama sekali ketika Larisa berjalan semakin dekat ke arahnya. Gemuruh di dada semakin kuat membuat keringat dingin membasahi telapak tangan. Hingga sampai di depannya, Abi pun mengulurkan tangan untuk menyambut wanita yang tengah mengandung anaknya itu.


“Silahkan sematkan cincin dan cium kening istrinya,” kata Pak penghulu.


Mereka secara bergantian menyematkan sebuah logam mulia di jari manis pasangan sebagai tanda, bahwa keduanya sudah terikat tali pernikahan. Terakhir Abi melabuhkan kecupan penuh cinta, sayang dan syukur dikening Larisa membuat  keduanya diselimuti rasa haru dan bahagia secara bersamaan. 


“Love you,” ucap keduanya hampir bersamaan dan mereka pun tersenyum penuh bahagia.


Terakhir setelah semua surat dan berkas ditandatangani Larisa dan Abi memamerkan buku pernikahan mereka kehadapan para keluarga dan para tamu. Sang photographer tak lupa untuk mengabadikan momen itu.


“Kamu beda bangat hari ini, sangat cantik." Abi mengajak sang istri untuk duduk.


“Kakak, juga. Sangat tampan dan gagah,” balas Larisa.


Abi pun merangkul Larisa, mereka duduk di meja panjang bersama para keluarga untuk menyantap hidangan yang sudah disiapkan. 


“Kita makan dulu,” kata Abi. “Kakak belum makan apa-apa dari tadi saking nervous nya.”


“Kakak, masih gugup?” tanya Larisa. 


“Pastilah!”


“Kenapa?”


“Ya, kan ini pernikahan pertama dan terakhir buat kita. Apalagi dulu saat ijab kabul pertama Kakak gak merasakan apapun sama sekali. Karena dulu yang Kakak pikirkan adalah bagaimana caranya bawa kamu pergi dari Jakarta dan kita bisa hidup berdua. Jadi, pernikahan kemarin feel-nya gak dapat sama sekali.”


“Kalau aku sih sempat takut kalau, Kakak, bakalan kabur.”


“Gak lah! Kakak gak akan mungkin ninggalin istri secantik kamu.” Sembari menyuapi istrinya Abi pun juga menyuap makanan ke mulut. “Apalagi ada baby girl di sini,” tambahnya mengusap perut Larisa.


“Maaf, Mas, Mbak,” sela tukang foto. “Selesai makan kita foto keluarga, ya.”


“Baik,” jawab Abi.


Perut terasa kenyang Abi pun menuntun istrinya berjalan ke panggung pelaminan. Di dana keluarga mereka sudah siap-siap untuk mengambil foto. Secara bergantian semuanya mengambil posisi dan mulai bergaya. 


Kebahagian yang dirasakan Larisa dan Abi menyelimuti semua orang yang ada di sana. Tampak jelas dari raut wajah mereka yang terus mengembangakan senyuman di bibir. 


Para tamu yang hadir di pagi ini, mereka mengucapkan selamat dan memberikan doa untuk sepasang pengantin itu. Mereka sempat mengobrol sebentar membahas pernikahan siri yang dilakukan dulu.


“Oh, pantesan perutnya Larisa tampak besar, ternyata sudah isi” ujar salah satu tamu.


“Semoga ibu dan bayinya sehat sampai lahiran.”


“Aamiin. Terimakasih banyak,” jawab Abi. “Nanti pas resepsi mau kita umumkan.”


“Kami datang pagi ini soalnya nanti pas resepsi gak bisa hadir,” jelas tamu itu.


“Gak papa, terima kasih sudah menyempatkan untuk datang.”


Acara ijab kabul selesai dan para tamu yang datang sudah pada pulang. Abi dan Larisa pun kembali ke hotel. Mereka akan istirahat dulu sampai acara resepsi nanti malam. Kini keduanya pulang ke hotel menaiki mobil yang sama.


“Kania kok gak ada?” tanya Abi. Sedangkan temannya-- Boni datang mendampinginya.


“Kan kania kerja, Kak. Dia minta bebas tugas nanti pas acara resepsi,” jelas Larisa.

__ADS_1


“Kakak lupa. Kakak pikir dia bisa izin hari ini.”


“Katanya cuma bisa datang pas resepsi aja.”


Mobil yang mereka naiki pun sampai di depan hotel. Abi membantu sang istri untuk turun dan mereka segera naik ke lantai atas menuju kamar yang sudah disiapkan oleh Kania.


“Selamat datang,” sapa staf hotel serta Kania. Mereka semua menyambut kedatangan pengantin itu.


Larisa pun tersenyum senang. “Pakai acara sambutan segala.”


“Harus dong. Lo kan best friend gue,” kata Kania memeluk Larisa. “Selamat karena pernikahan kalian sudah resmi.”


“Makasih,” jawab Larisa dan Abi.


“Oke, jadi ini kamar presidential suite khusus buat kalian berdua sudah gue sapin. Barang-barang kalian juga sudah ada di dalam. Kalau butuh apa-apa tingal angkat gagang telepon yang ada di sana. Jadi, silahkan menikmati waktunya,” jelas Kania.


“Biasanya pengantin baru kesini setelah acara resepsi,” timpal Abi.


“Ini permintaan dari Ibu hamil. Dia pengen berduaan setelah ijab kabul,” terang Kania lagi.


Abi pun tertawa kecil sedangkan Larisa langsung cemberut dan memukul lengan Kania.


 


“Kalau begitu kami semua permisi,” pamit Kania membungkukkan badan bersama stafnya.


Abi dan Larisa membalas penghormatan itu dengan menundukkan sedikit kepala mereka.


Saat memasuki kamar itu Larisa dan Abi merasa kaget dengan dekor yang disiapkan Kania. Benar-benar beda, kamar hotel itu disulap layaknya kamar pribadi pengantin baru. Tak seperti kamar hotel lainnya yang memakai sprei putih lalu dihiasi dengan kelopak bunga. Mereka merasa memasuki kamar sendiri bukan kamar hotel. 


“Kania benar-benar mempersiapkan dengan baik,” puji Larisa.


Larisa mengangguk cepat. “Dia benar-benar sahabat terbaik. Awalnya aku kecewa dia gak bisa hadir tadi, tapi sekarang kekecewaan itu dibayarnya dengan ini. Spesial sekali.”


“Kalau gitu sayang bangat ini gak dinikmati sekarang.”


“Maksud, Kakak?”


 


“Kita cobain kasurnya, yuk.” Abi menaik turunkan alisnya.


“Gak nanti malam aja?”


“Sekarang aja nanti malam kita pasti capek. Mumpung waktunya masih panjang, setelah itu kita bisa istirahat.”


“Oke, tapi kita mandi dulu.”


“Sekarang aja.” Abi sudah melepas beskapnya.


“Tapi aku mau bersihin make up dulu, Kak.”


“Gak usah! Kakak suka liatnya.” Abi segera menggendong Larisa dan membawa istrinya menaiki kasur.


  


...🍪🍪🍪🍪...

__ADS_1


Setelah mencapai puncak nikmat dunia, Abi dan Larisa segera membersihkan diri dan berpakaian. Mereka pun menunaikan sholat dzuhur setelah terdengarnya panggilan sholat. Tak lupa mereka menengadahkan tangan untuk berdoa meminta segala kebaikan yang ada untuk rumah tangga ini.


Serta tentunya kebahagian yang tengah mereka rasakan dapat bertahan selamanya hingga ajal memisahkan. Terakhir Abi membacakan doa di puncak kepala sang istri setelah itu di labuhkan sebuah kecupan singkat. 


“Kita tidur sekarang,ya,” ajak Abi.


“Aku lapar,” rengek Larisa.


“Hahaha … ya udah Kakak pesanan makanan dulu. Mau makan apa?”


“Apa aja yang penting makan.”


Abi pun menghubungi layanan kamar dan memesan beberapa menu makanan untuk diantar ke kamar mereka.


“Kak, kita duduk di balkon, yuk,” ajal Larisa.


Pasutri itu segera beralih menuju balkon yang ada di kamar. Mereka menikmati pemandangan sambil merasakan hembusan angin pantai yang berada di dekat hotel. Tak lama room service pun datang mengantarkan makanan mereka. Larisa meminta makanan itu dihidangkan di meja balkon saja.


“Terimakasih,” kata Abi.


“Selamat menikmati.” Pelayan pun segera pergi.


Larisa dan Abi segera memakan hidangan yang ada. Makan dalam diam karena sepertinya mereka sangat menikmati makanan yang tampak lezat itu. Hampir semua makanan yang dipesan Abi tadi habis tak bersisa, membuat Larisa mengelus perutnya saking kenyang nya.


“Perut kenyang tapi mata aku ngantuk. Gimana dong, Kak,” keluh Larisa.


“Olah raga lagi aja, yuk. Habis itu kita baru tidur,” kekeh Abi.


“Ih, Kakak mah maunya.”


“Ya, makanya kalau makan itu secukupnya aja, sayang. Jangan kayak orang kelaparan sehari gak makan.”


“Tapi aku emang lapar, Kak, yang makan tuh berdua loh, ada anak kita disini.” Larisa menunjuk perutnya.


“Iya deh. Kita nonton aja, yuk. Gak baik perut masih kenyang gitu langsung dibawa tidur.”


Pasutri itu beralih ke sofa tempat mereka menikmati sebuah film di layar TV. Larisa duduk menyandar di dada Abi menikmati kenyamanan itu. Sesekali tangan suaminya mengelus perut nan sudah mulai tampak besar. Merasakan gerakan bayi mereka yang semakin hari semakin aktif.


“Dia gak bikin kamu keganggu kan, sayang?” tanya Abi.


“Gak lah, Kak. Ya, meski kadang nendangnya cukup kuat, bikin aku kaget.”


“Kalau pas Kakak jenguk dia, kamu gak kesakitan kan?”


“Gak, Kakak, aku nyaman kok. Kalau sakit mah aku gak mungkin bisa menikmati.”


Abi tersenyum lalu mengecup pipi Larisa. “Kakak agak takut aja nanti ada masalah sama kehamilan kamu karena kita terlalu sering begitu.”


“Kan kata Dokter kandungan aku boleh.”


“Iya, boleh. Cuma Kakak khawatir, sayang. Apalagi sekarang kamu makin gampang capek.”


“Gak papa capek dikit yang penting enak.”


“Hahaha kamu bisa aja. Udah nyaman perutnya? Gak kekenyangan lagi?”


“Udah. Bobok yuk, ntar aku lapar lagi, loh. Gak jadi istirahat deh.” 

__ADS_1


“Ayok.” Abi dan Larisa pun berjalan beriringan menuju pembaringan.


__ADS_2