
Di atas meja sudah ada kotak putih berpita ping yang di siapkan Larisa dan Abi dari kemarin.
“Sekarang, Mama dan Papa buka kadonya bareg-bareng,” ujar Abi.
“Ini di tarik aja?” tanya Davira.
“Iya,” jawab Larisa.
Kedua orang tua itu membuka tutup kotak yang ada di atas meja. Tampak balon berwarna biru dan ping keluar dari sana lalu di bawahnya tergantung beberapa foto-foto hasil USG.
“Ini.” Davira menutup mulutnya sambil memperhatikan foto-foto itu. Seketika kristal bening jatuh menyentuh pipinya. “Kita punya cucu, Pa,” serunya pada sang suami.
“Maksud, Mama, Larisa hamil?” tanya Endra.
Davira megangguk lalu ia segera memeluk sang putri. “Selamat, ya sayang.”
“Selamat juga buat, Mama dan Papa karena bakalan jadi Nenek dan Kakek,” balas Larisa.
Endra pun memeluk sang menantu. Ia menepuk-nepuk punggung lebar itu yang artinya ia sangat bangga juga merasa beruntung bisa memiliki Abi sebagai menantu. Pria yang dapat mengembalikan putri mereka serta membawa kebahagiaan baru dalam keluarga mereka. “Selamat, Nak. Kamu sudah melengkapi hidup kami, terimakasih.”
“Makasih, Pa. Selamat juga buat, Papa," balas Abi.
Mereka pun bergantian kini Endra memeluk sang putri dan Davira memeluk sang menantu. “Terimakasih atas kebahagian yang sudah kamu bawa dalam kehidupan kami," ucap Davira.
Abi hanya tersenyum lebar karena ia tak tahu harus berkata apa.
“Terus gimana? Kandungannya sehat kan? Apa yang kamu rasakan? Mual, pusing?” Davira begitu antusias dengan kehamilan sang putri.
“Hahaha ... pertanyaannya satu-satu dong, Ma,” jawab Larisa.
“Kandungannya sudah jalan dua bulan dan sehat, tapi Larisa harus bedrest selama trimester awal. Karena tekanan darahnya rendah jadi Larisa suka pusing, apalagi setiap pagi dia suka mual dan muntah. Jadinya Larisa sedikit lemas,” terang Abi.
“Pantesan anak Mama gak turun tadi,” kata Davira.
“Ya sudah kalau gitu, kita makan malam di sini saja. Masak kita di bawah, Larisa makan sendirian di sini," ujar Endra.
“Gak papa, Pa. Kita makan di bawah aja, biar saya gendong Larisa ke meja makan. Kasihan Bibik kalau harus naik turun,” ungkap Abi.
“Ide bagus. Kalau gitu kami turun duluan.” Davira mengajak sang suami turun dari lantai dua.
Larisa melingkarkan kedua tangannya di leher Abi.
“Kiss dulu dong, goda Abi.”
“Nanti aja di kamar, sekalian … .” Larisa menaik turunkan alisnya.
Abi tertawa. “Sabar, ya, sampai kandungan kamu kuat. Kakak, takut dia kenapa-kenapa nanti.”
__ADS_1
Larisa menekuk wajahnya. “Ya udah deh. Kiss aja kalau gitu.”
Mereka pun menikmati cumbuan singkat itu sebelum turun ke meja makan.
...🐦🐦🐦🐦...
Selama di Bali Davira dan Endra menikmati momen-momen kehamilan Larisa. Paginya mereka akan menemani sang putri sarapan di rooftop. Kadang Davira juga memasak beberapa makanan untuk makan siangnya.
Siang ini Abi dan Endra pergi menuju lokasi pembangunan RSJ maka Davira akan membantu Larisa jika ingin melakukan sesuatu.
“Ma,” panggil Larisa.
“Hhhmm.” Davira sedang mengupas buah untuk putrinya.
“Besok, Mama, pulang ke Jakarta kan?”
“Iya, kenapa? Kamu butuh bantuan Mama di sini?”
“Bukan. Aku mau titip surat untuk Mama Ningsih, boleh?”
Davira terdiam sebentar. “Surat?”
“Sepertinya komunikasi Kak Abi dengan Mama Ningsih kurang baik. Jadi, aku putuskan untuk mencoba bicara dengan Mama Ningsih lewat sepucuk surat. Anggap saja sekarang giliran aku yang berjuang demi kebahagiaan Kak Abi.”
“Kamu yakin mertua kamu itu akan menerima surat kamu dan membacanya?” Davira merasa ragu.
“Itu haknya Mama Ningsih mau baca tau gak. Setidaknya aku sudah berusaha dan mencoba untuk meluluhkan hatinya. Sekalian aku mau membagi kebahagian kita. Siapa tau dengan berita kehamilan aku ini hatinya bisa luluh.”
“Jangan bilang sama Kak Abi dan juga Papa, ya, Ma.”
“Iya, sayang. Mama, akan bantu kamu. Mama, juga akan berjuang demi Abi.”
Larisa memeluk sang Mama. “Makasih, ya, Ma. Semoga Mama Ningsih mau membaca surat aku nantinya.”
“Aamiin.”
...🐽🐽🐽🐽...
Besoknya Davira dan Endra sudah siap-siap untuk segera ke bandar. Larisa pun tak lupa menitipkan surat yang sudah di tulisnya untuk sang mertua. Harapan penuh ia gantungkan pada sang Mama agar dapat menemui Ningsih secara langsung.
“Kami pergi. Kalian baik-baik dan jaga cucu, Papa,” ujar Endra.
“Siap, Pa, itu pasti. Papa sama Mama juga baik-baik di jalan,” balas Abi.
“Maaf kami gak bisa ikut ke bandara,” tambah Larisa.
Davira menggeleng dan memeluk putrinya. “Kesehatan kamu dan cucu Mama yang paling penting.”
__ADS_1
“Jangan lupa kabari aku nanti.”
“Iya,” jawab Davira melepas pelukan mereka.
Abi dan Larisa melambaikan tangan ketika mobil yang ditumpangi Endra dan Davira melaju meninggalkan halaman villa.
“Yuk, gendong lagi ke atas,” kata Abi pada istrinya.
“Dengan senang hati,” balas Larisa melingkarkan lengannya di leher suami tercinta.
...🍎🍎🍎🍎...
Jakarta ….
Davira sudah mencoba datang ke rumah Ningsih. Namun, tetap saja ia ditolak jika ingin masuk. Ningsing memang sengaja menghindarinya dengan berbagai alasan. Tetapi ia tak akan menyerah sampai surat yang ditulis Larisa sampai ke tangan Ningsih.
Ia juga ingin berjuang demi sang menantu yang sudah banyak berkorban dalam keluarganya, terutama untuk sang putri. Jadi, kini Davira menunggu Ningsih pulang dari Rumah Sakit tempatnya bekerja. Hingga sore hari ia melihat mobil Ningsing masuk ke dalam garasi rumah, ia pun bergegas keluar dari mobil dan segera menghampiri besannya itu.
“Sekarang bisa kita bicara,” kata Davira to the point.
Ningsih pun tak dapat menolak lagi. Mereka sudah bertemu dan saling bertatap muka, tak ada lagi alasannya untuk menghindar.
“Masuk,” ajak Ningsih.
Davira melangkah di belakangnya sampai mereka duduk di ruang tamu.
“Ada perlu apa lagi Anda datang mencari saya?” tanya Ningsih.
“Saya kesini hanya ingin memberikan titipan Larisa.” Ningsih mengeluarkan amplop putih persegi panjang dari dalam tasnya. Kemudian di letakkan di atas meja depan Ningsih. “Sebelumnya ia dan Abi akan terbang kesini untuk menemui, Ibuk. Namun, karena kondisi Larisa tak bisa melakukan perjalanan jauh, maka dia menitipkan surat ini pada saya untuk diberikan secara langsung pada mertuanya.”
Ningsih hanya memasang wajah datar.
“Dia sempat bingung bagaimana caranya bicara dengan, Ibuk, karena Abi saja juga sulit menghubungi Mamanya. Makanya Larisa menulis surat untuk, Ibuk. Jika berkenan tolong dibaca. Semoga, Ibuk, dapat merasakan kebahagiaan yang tengah kami rasakan.”
Ningsih tak memberi tanggapan ia hanya menatap amplop putih di atas meja itu.
“Kalau begitu permisi. Maaf kalau saya mengganggu waktu, Ibuk. Terimakasih sudah mau menerima surat Larisa.” Davira pun bangkit dari sofa dan segera pergi dari sana.
Sampai di luar ia hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Sebagai Mama dan Mertua dia sudah melakukan hal yang seharusnya ia lakukan demi anak dan menantunya. Sekarang semua ada di tangan yang maha kuasa, karena hanya Dia-lah yang dapat membolak-balikkan hati manusia.
...----------------...
Ada yang penasaran gak sama isi suratnya Larisa??
Komen 🖊dulu dong tapi like 👍 nya jangan lupa
Sekalian hadiahnya 🎁
__ADS_1
hehehe...
Terimakasih banyak... ☺😊🥰🥳🤩