
Sampai di kamar Abi memeluk Larisa dari belakang. “Makasih, ya.”
“Buat apa, Kak?”
“Sudah bujuk Mama buat datang kesini dan merestui pernikahan kita.”
“Ooh, itu semua berkat doa kita yang gak pernah putus. Makanya Allah kabulkan.”
“Tapi Kakak penasaran, deh, kamu tulis apa, sih. Sampai bikin Mama luluh gitu?”
“Nulis apa, ya? Aku udah lupa tuh.”
“Selalu gitu. Pasti suka sembunyiin sesuatu dari Kakak.”
Larisa berbalik. Ditatapnya wajah Abi dengan penuh cinta. “Bukannya kemarin aku gak mau bilang sama, Kakak. Aku cuma takut nantinya kita sama-sama kecewa. Makanya aku coba dulu mendekati Mama Ningsih lewat secarik surat dan berharap bisa memberikan kejutan untuk suami ku ini. Tapi ternyata surat yang aku tulis akhirnya mampu membuat Mama merestui pernikahan kita dan kejutan buat, Kak, sukseskan?”
“Sukses banget. Sekali lagi makasih, ya.”
“Aku sempat mikir kalau surat itu gak di baca sama Mama Ningsih dan aku gak berhasil membuat Mama mau membuka komunikasi dengan kita. Tapi akhirnya aku juga kaget. Sebelum Mama sama Papa ke sini, Mama Ningsih datang ke rumah menemui mereka.”
“Ngapain?”
“Kalau itu sih aku gak tau. Mama gak cerita, cuma bilang Kalau Mama Ningsih sudah merestui pernikahan kita dan beliau akan ikut datang ke Bali bersama mereka. Makanya dari kemarin aku sibuk minta bibik ke pasar buat belanja bahan makanan dan siapin kamar tamu.”
“Artinya kita gak jadi ke Jakarta kan? Jadi, Kakak gak perlu atur jadwal.”
“Gak perlu. Atur jadwal buat pernikahan kita aja.”
“Ya udah, sekarang kita tidur yuk. Kasian si baby, dia pasti capek. Seharian di ajak kerja mulu sama kamu.” Abi menuntun sang istri menuju kasur.
“Tuh kan, kamu memang lebih perhatian sama anak kamu aja, deh Kak.”
“Maksudnya, Mamanya pasti juga capek.”
Larisa hanya mencibir.
...🐽🐽🐽🐽...
Seharian di villa mereka menulis daftar tamu yang akan diundang ke pesta pernikahan nanti. Pastinya Endra akan menyiapkan akomodasi untuk para undangan yang datang. Untuk soal tempatnya itu akan menjadi pembahasan Larisa dan Abi dengan pihak WO nantinya. Termasuk hal-hal lainya yang dirasa perlu.
Tanggal dan bulan pernikahan Larisa dan Abi sudah menentukannya, tapi tetap di buku nikah nanti angka yang ditulis adalah tanggal saat di mana Abi mengucapkan ijab kabul pertama. Endra pun masih menyimpan surat keterangan dari penghulu yang dulu menikahkan sang putri dengan Abi.
“Sekarang soal honeymoon sama baby moon. Kalian mau kemana? Biar Mama yang siapin, anggap aja ini kado dari Mama,” kata Ningsih.
“Kamu mau kemana, sayang?” tanya Abi pada Larisa.
“Aku mau ke puncak aja. Bosan tiap hari lihat pantai mulu.”
“Gak pengen keluar negri gitu?” tanya Ningsih.
Larisa menggeleng. “Cukup ke puncak aja selama empat hari.”
__ADS_1
“Oke, nanti Mama akan carikan tempat honeymoon dan baby moon yang oke banget di daerah puncak.”
“Makasih, Mama.”
“Sama-sama, sayang.” Ningsih pun sudah menganggap Larisa seperti putri sendiri.
“Oh, ya, Bi. Untuk masalah biaya biar Papa yang nanggung,” jelas Endra.
“Tapi, Pa.”
“Anggap aja ini adalah tanggung jawab terakhir Papa buat Larisa.”
“Mama juga akan bantu,” tambah Ningsih.
“Baik. Artinya soal biaya pernikahan ini dua keluarga yang akan menanggung. Kalian gak usah mikirin lagi, cukup persiapkan saja untuk kelahiran,” putus Endra.
“Baik, Pa.” Abi pun setuju.
“Bagaimana dengan baju keluarga?” tanya Davira.
“Hhmm gimana kalau motif atau warnanya aja yang sama. Kalau untuk model terserah kita mau gimana,” usul Ningsih.
“Setuju,” jawab Larisa dan Davira bersamaan.
“Oke, sepertinya kita sudah sangat kompak,” celetuk Abi.
“Bagus dong, Kak. Artinya kita sangat pas jadi satu keluarga,” tutur Larisa.
Abi pun tertawa.
“Boleh, kalau kamu mau artinya dalam waktu dekat ini. Sebelum perut kamu makin besar.”
“Artinya kita harus ke studio dong.”
“Sekalian, kamu harus cari desainer buat bikin baju pengantin,” tambah Davira.
“Aaahh banyak juga ya ternyata.” Ibu hamil itu merasa pusing dengan persiapan pernikahannya.
“Nanti Papa akan kirim sekretaris lain kesini buat bantuin kamu urus pernikahan ini. Jadi, kamu gak perlu repot atau pusing sendirian,” ungkap Endra.
“Makasih, ya, Pa. Papa, emang pengertian.”
“Papa cuma gak mau kamu nantinya kecapekan.”
“Kalau itu aku setuju,” timpal Abi.
“Jadi, meeting keluarga ini beres, ya? Soal lainnya biar Larisa sama Abi yang ngurus sama pihak WO nya nanti,” kata Davira.
Ningsih pun mengangguk setuju begitu pula dengan yang lainnya.
...🙈🙈🙈🙈...
__ADS_1
Sebelum kembali ke Jakarta sore nanti, Ningsih pun mengajak Larisa bicara berdua di halaman pagi ini.
“Ada apa, Ma?” tanya menantunya itu.
Ningsih memberikan satu kartu ATM.
“Ini apa?”
“Anggap aja itu seserahan dari Mama. Kan kalian gak mau mengadakan acara lamaran, jadi seserahan nya Mama kasih kartu ATM aja.”
“Loh, gak usah, Ma. Aku-,”
“Larisa, dengerin Mama. Kartu ATM ini adalah hak suami kamu, yang artinya juga hak kamu dan cucu, Mama.”
“Tapi aku akan sangat keberatan untuk memakainya. Mama pasti sudah susah payah bekerja untuk menyimpan uang ini, masak aku yang habisin.”
“Uang itu bukan dari hasil jerih payah Mama kok. Itu memang sudah hak nya Abi. Dulu Papanya Abi punya perusahaan keluarga. Setelah beliau meninggal, perusahaan itu dikelola oleh pamannya Abi. Setiap bulannya Mama akan mendapatkan keuntungan dari perusahaan itu, karena bagaimanapun hak suami Mama ada di sana. Jadi, kamu gak perlu merasa keberatan untuk menggunakannya. Pakai saja untuk biaya pernikahan kalian, meskipun nanti Papa kamu pasti akan melunasi semuanya. Tapi yang ini khusus dari Mama buat menantu dan cucu Mama. Toh selama ini Mama juga gak pernah pakai uangnya.” Ningsing menatap menantunya itu dengan penuh kasih sayang.
“Sebelumnya terimakasih. Tapi beneran deh, Ma, aku gak bisa menerimanya.” Larisa masih saja merasa keberatan. Baginya ia tak berhak untuk menerima hal yang bukan hasil dari jerih payah suaminya sendiri.
“Mama, mohon diterima, ya. Kalau kamu menolaknya, artinya kamu belum memaafkan, Mama.”
Larisa tampak menimang-nimang dan akhirnya ia pun menerima beda pipih itu meski dengan berat hati. Mungkin nanti akan ia berikan saja pada Abi.
Dari dalam villa Davira pun datang menghampiri mereka.
“Lagi ngobrolin apa?” tanya Davira.
“Cuma lagi bahas perkembangan kehamilan Larisa. Oh, ya, nanti pas empat bulan kita harus adain syukuran,” jawab Ningsih.
“Kami juga sudah berencana,” kata Davira.
“Bagusnya di sini atau di hotel aja, Ma?” tanya Larisa.
“Kenapa gak di tempat Abah aja, sayang?”
“Siapa Abah?” sela Ningsih.
“Ustad yang dulu ikut membantuku agar bisa cepat sembuh, Ma. Bisa dibilang guru spiritual.” Larisa pun menceritakan sedikit soal Abah dan pondok pesantrennya pada sang mertua.
“Kalau begitu Mama setuju kita bikin acaranya di sana saja. Sekalian, Mama juga pengen kenalan.”
“Tapi apa gak bikin repot Abah sama Umi. Aku jadi gak enak. Kemarin pas syukuran atas kesembuhan aku, mereka yang siapin semuanya,” kilah ibu hamil itu.
“Kita pakai jasa Eo aja,” usul Davira.
“Oke, kalau gitu nanti aku minta Kak Abi atur jadwal dulu biar bisa dapat tanggalnya. Setelah itu baru aku kabari ke Abah.”
“Artinya satu bulan lagi kita kesini lagi, ya, Besan,” ujar Ningsih.
“Iya, Buk. Kalau perlu nanti kita berangkat bareng lagi aja,” jawab Davira.
__ADS_1
“Ya, sudah kalau gitu. Kita beresin barang-barang dulu sebelum berangkat.”
Ketiga wanita itu kembali masuk kedalam Villa. Sambil menunggu kedatangan Endra dan Abi dari melihat perkembangan proyek RSJ, mereka mulai mengemasi barang.