
Pagi ini selesai sarapan Abi dan Larisa mengajak Endra dan Davira untuk bicara di ruang tengah. Mereka mulai menceritakan hal yang dilakukan kemarin, yaitu soal mereka yang mencari jawaban atas kesembuhan Larisa.
Awalnya Endra dan Davira sempat khawatir karena merasa takut sang putri akan kembali depresi. Namun, Abi segera membantah dan menjelaskan kalau putri mereka dinyatakan sudah sembuh total.
Endra dan Davira langsung memeluk Larisa, sama seperti yang dilakukan Abi kemarin. Mereka tak henti-hentinya mengucapkan syukur.
“Mama mau bikin syukuran kalau gitu,” ungkap Davira sambil menyeka air matanya.
“Gimana kalau kita bikin syukuran di pondok pesantren Abah aja,” usul Endra.
“Setuju,” jawab Abi dan Larisa secara bersamaan.
“Sekalian kita kasih mereka sedikit tanda terimakasih karena sudah membantu Larisa sembuh,” tambah Davira.
“Jadi, kapan acaranya? Biar saya kasih kabar ke Abah,” tanya Abi.
“Nanti aja, pas ulang tahun Larisa,” jawab Endra.
Puas menghabiskan waktu bersama anak dan menantu. Sore harinya Abi dan Larisa mengantar kedua orang tua itu ke bandara.
“Jangan lupa kado ulang tahun aku,” kata Larisa.
“Kami pasti ingat,” jawab Davira. Setelah itu mereka pun berpisah.
...🐕🐕🐕🐕...
Kini setiap weekend Larisa selalu mengajak Abi untuk jalan-jalan menikmati wisata pulau Bali. Sudah sepuluh bulan tinggal di sini mereka baru mengunjungi beberapa tempat, jadi gadis itu ingin menebus kebodohan yang ia lakukan selama ini. Yaitu mengurung diri di villa, ternyata banyak hal indah dan menarik yang harus di lihat nya di luaran.
Abi pun dengan setia menemani istrinya, anggap saja mereka sedang PDKT.
“Kak, kenapa sih kita gak nginep di penginapan aja? Sekali-kali ganti suasana gitu,” tanya Larisa.
“Kalau masih tidur sendiri-sendiri sama aja, La. Gak ada bedanya.”
“Ya udah, kalau gitu kita pesan satu kamar aja. Kita tidur berdua.”
Abi menggeleng. “Gak seru kalau cuma tidur aja. Kakak maunya nanti pas honeymoon.”
“Siapa? Kakak sama istri?”
“Iya.”
“Udah punya calonnya?”
“Lagi PDKT.”
“Aku boleh tau gak orangnya?”
“Nanti kamu juga tau.”
Larisa tersenyum simpul. Entah kenapa hatinya merasa sedih ketika tahu kalau Abi sedang mendekati seorang wanita. Artinya ia harus siap jika satu saat nanti Abi pergi meninggalkannya. Apakah ia sudah siap?”
Lelah jalan-jalan di pantai menikmati matahari terbenam, mereka pun memutuskan menuju satu restoran untuk makan malam.
...🥦🥦🥦🥦...
Larisa sedang asik merawat tanamannya hingga ia melihat mobil Abi memasuki garasi. Segera di hampirinya. “Kok udah pulang, Kak? Baru juga jam sepuluh pagi.”
“Mama Ningsih masuk rumah sakit dan Kakak harus terbang ke Jakarta sekarang,” jelas Abi. Meski ia bersikap tenang tapi Larisa dapat menangkap wajah Dokter itu kelihatan sangat cemas.
“Ooh, biar aku bantu kemasi baju-baju Kakak
__ADS_1
ke dalam koper.” Mereka melangkah bersama menuju kamar.
“Makasih, sayang.”
“Sakit apa emangnya, Kak?”
“Maag nya kambuh, Kakak juga belum dapat keterangan lengkap. Karena tadi bibik di rumah yang kabarin.”
Larisa hanya mengangguk. Sampai di kamar Abi ia langsung membuka lemari. “Berapa hari, Kakak, di sana?”
“Mungkin empat hari. Kamu mau ikut?”
“Kayaknya gak deh. Kalaupun aku ikut Mama dan Papa kan juga gak ada di rumah. Mereka lagi diluar kota kan. Kakak pastinya juga bakalan di Rumah Sakit jagain Tante Ningsih.”
“Terus kamu disini sama siapa?”
“Gimana kalau aku ajak Riri ke sini? Atau nanti aku aja yang menginap di sana?”
“Kamu aja yang menginap di sana. Kakak telpon Abah dulu.”
Larisa setuju setelah memasukkan pakaian Abi kedalam koper ia pun juga memilih beberapa pakaiannya untuk dibawa menginap di pondok pesantren Abah. Abi akan berangkat ke bandara menggunakan taxi online sedangkan Larisa akan diantar oleh supir pribadi.
Sebelum berpisah mereka saling memeluk dengan erat. Abi berkali-kali mencium kepala istrinya itu.
“Nanti kalau sampai sana kabarin, ya, Kak,” kata Larisa dalam pelukan suaminya.
“Pasti, dong.”
Keduanya melepaskan pelukan mereka, terasa berat namun Abi memang harus pergi. Meski hubungannya dengan sang Mama kurang baik, tapi ia tetap merasa khawatir. Tak mungkin orang tua yang sudah melahirkannya dibiarkan begitu saja, terbaring lemah di Rumah Sakit sendirian. Abi bukan tipe orang yang egois.
“Cepat pulang,” ujar Larisa.
“Kakak, usahakan.”
...🥗🥗🥗🥗...
Jakarta ...
📞Kakak sudah sampai dan sekarang sedang di Rumah Sakit.
Abi mengabari istrinya lewat sambungan telepon. Ingin menghubungi wanita itu dengan VC tapi ia ingat kalau Larisa hanya menggunakan ponsel biasa.
📞Bagaimana keadaan Tante Ningsih?
📞Harus dirawat dua atau tiga hari, lihat perkembangannya dulu.
📞Jadi, Kakak nginap di sana?
📞 Iya, Kakak harus jagain Mama.
📞Jangan lupa makan ya, Kak. Titip salam buat Tante.
📞Iya nanti, Kakak sampaikan. Kamu juga, ya, jangan gak makan kalau gak ada, Kakak.
📞Pasti. Da, Kakak.
📞Da, sayang.
Ningsih langsung mendengus kesal di depan sang putra ketika mendengar panggilannya pada Larisa.
“Aku datang kesini ingin merawat, Mama. Jadi, sebaiknya masalah, Mama, yang gak suka sama istri aku itu kita kesampingkan dulu. Fokus saja sama kesembuhan, Mama, biar aku cepat pulang,” kata Abi.
__ADS_1
“Mama gak minta kamu kesini,” ketus Ningsih yang terbaring di ranjang Rumah Sakit.
“Aku cuma mau berbakti sama orang tua.”
“Kalau gitu ceraikan Larisa.”
“Itu tidak termasuk berbakti pada orang tua.”
Ningsih menghembuskan nafas kasar memalingkan muka ke jendela ruang rawatnya. Ia masih merasa kesal pada Abi yang tak mau mendengarkannya.
...🥊🥊🥊🥊...
Bali ...
Dua hari Abi berada di Jakarta membuat Larisa merasakan ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Ia tampak begitu tak semangat untuk menjalani hari di pondok.
“Kenapa?” Abah menyapa Larisa yang tengah duduk termenung di depan rumah.”
“Gak ada Kak Abi rasanya ada yang kurang.”
“Kangen sama Abi?”
Larisa menatap Abah yang duduk di sampingnya.
“Kalau kangen ditelpon, kan ada tuh telpon yang bisa nampilin wajah.”
“Video call maksud, Abah?!
“Nah, itu!”
“Tapi aku gak punya ponsel pintar. Ponselku cuma ponsel biasa.”
“Kayaknya si Riri punya deh. Coba kamu tanya sama dia.”
Wajah murung itu tampak ceria. “Aku cari Riri dulu.” Larisa bangkit dari duduknya.
“Riri ada di dapur sama Umi. Susul sana.”
“Makasih, Bah.”
Larisa bergegas ke dapur menemui Riri dan benar saja kalau temannya itu punya ponsel pintar. Namun, ia tak memiliki paket data agar bisa melakukan VC. Larisa tak kehabisan akal, ia mengirim pesan pada Abi untuk mengisikan kuota internet ke nomor ponsel Riri.
📱Akhirnya, Kakak lihat wajah kamu juga. Kangen banget rasanya.
Mereka saling mengarahkan wajah ke kamera ponsel.
📱Sama aku juga. Makanya besok beliin aku ponsel pintar jadi, kalau jauh kita bisa VC gak telponan aja.
📱Huh, maunya. Gimana di sana?
📱Seru. Tapi gak ada, Kakak ada yang kurang.
📱Sabar, ya. Kakak pasti pulang.
📱Tante gimana? Sudah sembuh?
📱Keadaannya lumayan membaik. Mungkin besok sudah pulang dari RS.
📱Bagus kalau gitu, artinya Kakak juga bisa cepat pulang. Kalau pulang kabarin aku, ya, biar jemput ke bandara.
📱Oke. Udah dulu, ya, La. Dokter datang, mau periksa kondisinya Mama.
__ADS_1
📱Da, Kakak.