
"Kapan kamu kasih tau Larisa, Bi?” tanya Endra.
“Aku cari tau sendiri. Sejak Mama dan Papa bersikap aneh, yang membiarkan aku dan Kak Abi berdua-duaan jadi aku semakin kepo,” terang Larisa.
“Jadi, kamu periksa ponsel Mama waktu di pinjam itu?” tanya Davira.
“Iya, dan akhirnya aku menemukan video ijab kabul itu.”
Endra dan Davira tersenyum lebar. Beban di hati rasanya sudah lepas. “Akhirnya, Mama dan Papa bakalan punya cucu, dong?” tanya Davira.
Abi tertawa kecil. “Aku juga pengen secepatnya, Ma. Tapi kayaknya belum deh. Lagian baru satu bulan juga. Sabar aja.”
Larisa tampak makan dengan lahapnya bahkan sampai nambah dua kali tak seperti biasa.
“Kamu kelaparan?” tanya sang Mama.
“Efek otak yang terkuras gara-gara mikirin tugas.”
Dari meja makan mereka beralih ke ruang tengah di lantai dasar.
“Pah, kayaknya saya butuh orang deh, buat bantu pantau pembangunan RS. Soalnya di klinik saya juga lagi sibuk,” kata Abi.
“Sibuk apa, Bi?” tanya Mama mertuanya.
“Kebetulan ada teman yang mau gabung di klinik. Jadi, ya kita meeting dan bahas beberapa pasien yang mungkin nanti akan dia tangani.”
Endra mengangguk setuju. “Nanti akan Papa minta orang suruhan untuk stay di sini.”
“Makasih, Pa.”
“Oh, ya, kapan kalian mau melakukan pernikahan resmi dan resepsi?” tanya Endra.
“Kalau aku sih terserah, Kak Abi aja,” jawab Larisa.
“Sebaiknya saya bicara lagi dengan, Mama. Baru nanti kita bicarakan tanggalnya.”
“Maksud, Kakak?” tanya Larisa.
“Maaf, ya, Kakak nikahin kamu waktu itu tanpa restu dari Mama Ningsih.”
“Oh, jadi itu alasannya Mama Ningsih kelihatan marah sama aku.”
Abi tersenyum sekilas. “Kamu gak papa kan, tunggu sampai kita dapat restu dari Mama Ningsih?”
“Gak papa kok. Aku juga pengen lah, pas pernikahan kita nanti, semua keluarga berkumpul dan ikut bahagia.”
“Makasih, ya, kamu udah mau ngerti.”
“Apa perlu kita ke Jakarta buat ketemu Mama Ningsih?” tanya Larisa.
“Kalau kamu mau nanti Kakak kosongkan jadwal untuk dua hari.”
“Oke.”
Karena hari sudah malam mereka pun menuju kamar masing-masing.
“Kenapa, Kakak, gak jelasin sama aku soal Mama Ningsih?” tanya Larisa ketika mereka sudah di atas kasur.
“Kakak takut nanti kamu sedih.”
__ADS_1
“Pasti alasannya gara-gara aku depresi, ya?”
Abi pun membuang nafas panjang lalu ia mengangguk.
“Maaf, ya, Kak, gara-gara aku hubungan ,Kakak, sama Mama Ningsih jadi gak baik gini.”
“Bukan salah kamu kok, sayang. Udah, gak usah dipikirin. Nanti Kakak kosongkan jadwal buat ke Jakarta untuk ketemu dan minta restu sama Mama, ya. Sekarang kita tidur.”
“Langsung tidur? Kita gak usaha dulu gitu?”
“Hahahaha kamu nakal, ya sekarang.” Abi mencubit gemas hidung istrinya.
“Kan, Kakak yang ngajarin.”
Mereka pun melakukan hal yang biasanya dilakukan oleh setiap pasangan yang sudah halal menikah.
...🦄🦄🦄🦄...
Orang suruhan Endra untuk membantu sang menantu memantau pembangunan RS akhirnya datang juga sore ini.
“Sebaiknya saya tinggal di hotel saja, Pak. Kebetulan saya juga ada urusan di sini,” kata Dion pada bosnya.
“Kalau begitu biar saya antar ke hotel,” kata Abi.
“Oh, gak usah, Pak. Saya bisa sendiri. Nanti saya akan kirim alamat hotel serta nomor kamar ke, Bapak kalau ingin tau tempat saya tinggal.”
“Kamu sudah paham kan dengan tugas kamu selama di sini?” tanya Endra memastikan.
Pria itu mengangguk. “Kalau begitu saya permisi.”
“Iya, hati-hati di jalan,” kata Abi.
“Pokoknya nanti kalau kalian ke Jakarta, hubungi, Papa,” kata Endra. “Kita ke rumah Mama mu sama-sama.”
“Baik, Pa.”
“Besok, pagi, Papa sama, Kak Abi lihat proyek?” tanya Larisa.
“Iya. Kamu mau ikut?” tanya suaminya.
“Gak, ah. Aku mau bobok cantik aja. Mumpung libur. Kania juga mau kesini katanya.”
“Siangnya Mama sama Papa langsung terbang ke Jakarta, ya,” ungkap Davira.
“Biasanya sore,” sela Larisa.
“Kita mau ke pesta pernikahan rekan bisnisnya, Papa.”
“Ooh.”
“Kalian di rumah aja. Gak usah ikut ke bandar.”
“Iya deh.”
...🍓🍓🍓🍓...
“LARISA,” panggil Kania tepat di telinga sahabatnya yang masih saja tidur dengan nyenyaknya.
Larisa menutup kepalanya dengan bantal. “Berisik. Ngapain sih lo pagi-pagi udah gangguin gue.”
__ADS_1
“Bangun gak! Sudah jam sembilan ini.” Kania menarik bantal dan selimut Larisa.
Istri Abista itu mengerjapkan matanya. “Laki gue mana?”
“Yang punya laki siapa? Ngapain tanya ke gue.”
Larisa pun duduk bersimpuh di atas kasur. “Kapan lo datang?”
“Barusan. Kata Tante Davira lo belum bangun. Jadi gue izin masuk, terus dia bilang Kalau Kak Abi udah pergi sama Papa lo jadi gue boleh ke sini buat bagunin lo.”
“Ooh.”
“Mandi gih sana, lo bau iler.”
“Enak aja.” Larisa memukul lengan sahabatnya. “Gue tidur gak pernah iler, ya.”
“Maksud gue ilernya Kak Abi,” canda Kania.
“KANIA,” pekik Larisa berusaha melemparkan bantal padanya. Namun, wanita itu sudah keburu lari dan keluar dari kamar.
Usai mandi dan berpakaian Larisa pun turun ke bawah. Tampak Davira dan Kania sedang menikmati cemilan di halaman samping. Ia pun ikut menyusul ke sana. “Bik, tolong anterin sarapan saya ke sana.”
“Baik, Mbak.”
“Akhirnya turun juga,” kata Davira melihat sang putri.
Larisa mencomot satu donat yang ada di atas meja. “Enak. Beli dimana, Ma?”
“Kania yang bawain.”
“Oh, ya, Sa, besok kita berangkat bareng aja ke kampus. Kita pergi jam sepuluhan aja.Cuma menghadiri acara doang,” ujar Kania.
Larisa mengangguk setuju sambil menyantap sarapan.
“Acara apa, Nia?” tanya Davira.
“Perkumpulan mahasiswa dari setiap jurusan gitu loh, Tante. Kan kita satu Universitas jadi harus saling kenal meski beda jurusan.”
“Oh, bagus itu biar temannya makin banyak.”
“Jemput gue, ya?” kata Larisa.
Kania mengacungkan jempolnya. Tiga wanita itu melanjutkan obrolan mereka tak lama Davira pun pamit dari sana karena dia mau siap-siap sebelum suaminya pulang.
...🥭🥭🥭🥭...
“Kami berangkat, ya. Kalian kalau jadi ke Jakarta kabari,” pamit Davira pada anak dan menantunya.
“Iya, Ma. Hati-hati di jalan. Kalau sudah landing langsung kabari,” kata Larisa.
Terakhir mereka semua berpelukan setelah itu Endra dan Davira masuk mobil.
Kania juga ikut melepas kepergian orang tua dari sahabatnya itu. “Gue juga pulang, ya,” izinnya.
“Oke, take care, ya,” balas Larisa.
“Makasih, kuenya,” tambah Abi.
“Makasih juga makan siangnya,” balas Kania.
__ADS_1
Villa yang tadinya ramai kini kembali sepi. Pasangan itu kembali masuk ke dalam.