Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 114


__ADS_3

Sekitar jam delapan pagi mereka berangkat dengan mobil Abi menuju area pemakaman umum. Memakan waktu tempuh kira-kira satu jam akhirnya mereka pun sampai.


 “Kok, jauh sih, Ma?” tanya Larisa.


“Dulu kita tinggal dekat sini, sayang. Setelah Papanya Abi meninggal kita pun akhirnya pindah,” jelas Ningsih.


“Ooh.”


Saat masuk area makam mereka mengucapkan salam. Abi memimpin jalan menuju makam sang Papa dan Adiknya. Sampai disana mereka menekuk kaki agar bisa sejajar degan makam. 


“Sudah lama aku gak kesini,” kata Abi. “Tapi aku selalu kirim dia buat Papa dan Mina.”


Mereka bertiga menyempatkan diri membaca ayat suci Al quran di sana lewat aplikasi di ponsel masing-masing. Terakhir, mengirim doa agar keduanya di tempatkan di surga dan juga semoga suatu saat nanti mereka bisa dipertemukan di akhirat nanti.


Tak lupa sebelum pulang taburan bunga pun diserakkan di atasnya. Kyra si gadis kecil itu pun ikut menyerakkan kelopak bunga yang dibawa dari rumah tadi.


“Pulang sekarang?” tanya Abi.


“Ayo, ini juga sudah mau siang,” jawab Ningsih.


“Kita sekalian cari makan, ya. Aku lapar soalnya,” kata Larisa.


Keluar dari area pemakaman, mereka menuju satu restoran. Tiba di sana memesan beberapa makanan. Saat pesanan tiba Abi pun merasa mual ketika mencium bau masakan yang sangat menyengat. Larisa menemani suaminya ke toilet.


“Gak papa, sayang, kamu tunggu diluar aja. Gak enak kalau kamu ikut masuk toilet pria,” ucap Abi.


“Aku tunggu di sini, ya.” Larisa hanya mengantar sampai depan toilet.


Larisa menunggu sambil menyandar di dinding, tak lama seseorang pun keluar dari sana. Ia pikir itu adalah suamiya ternyata orang lain yang tak lain adalah Bayu.


“Loh, Larisa! Ngapain kamu di sini? tanya pria itu.


“Nungguin suami,” jawab Larisa ketus.

__ADS_1


“Suaminya kenapa sampai di tunguin?”


“Lagi mual.”


“Mual kenapa?”


Larisa memutar bola matanya. “Mual karena lagi hamil.”


Wajah Bayu tampak bingung. “Maksudnya?”


Wanita itu pun berdecih. “Saya lagi hamil, dan suami saya yang mengalami mual dan muntah. Paham?!”


“Kamu lagi hamil, berapa bulan?” Bayu tampak menatap mantannya itu dari ujung kepala hingga kaki. “Kalau kamu gak bilang mungkin aku gak tau. Soalnya dari penampilan kamu kelihatan langsing.”


“Eekkhem.” Abi ternyata sudah berdiri di belakang Bayu.


“Sorry, saya menghalangi jalan.” Bayu bergeser dua langkah.


“Gimana, masih mual?” Lari menghampiri suaminya.


“Yuk, kita balik ke meja,” ajak Larisa.


Namun Abi menahan langkah istrinya. Lalu ia pun mengulurkan tangan ke arah Bayu. “Abi, suaminya Larisa.”


Mantan dari istrinya itu pun membalas uluran tangannya. “Bayu, rekan bisnisnya Larisa.”


“Senang bisa bertemu.”


“Saya juga gak nyangka kita bisa ketemu di sini dan saling kenalan. Saya cuma sempat lihat di kantor waktu Anda mengantar Larisa.”


Abi hanya tersenyum simpul. “Kami duluan.”


“Silahkan.” Bayu mempersilahkan dengan gerakan tangannya.

__ADS_1


...🐶🐶🐶🐶...


Tiba di rumah Larisa membawa suaminya untuk istirahat di kamar. Lalu dibuatkan teh jahe untuk meredakan mual yang masih dirasakan Abi.


“Ini, diminum dulu, Kak.”  


Abi menerima segelas teh dari istrinya.”Makasih, sayang.”


“Enakan?”


“Lumayan.”


“Kakak, ngapain sih tadi pakai acara kendala segala sama Bayu,” kesal Larisa.


“Kenapa?”


“Gak usahlah, nanti dia malah besar kepala. Dia pikir Kakak gak masalah kalau dia deketin aku. Padah aku sudah berusaha menghindarinya.”


“Kalau dia laki-laki, seharusnya dia paham.”


“Paham apanya?”


“Gak sepantasnya dia menatap kamu seperti tadi. Anggap aja perkenalan tadi sebagai peringatan dari Kakak. Selagi dia berada dalam batasan, Kakak akan diam aja. Tapi kalau sudah melewati batas, dia gak akan aman.”


Larisa menatap suaminya itu. “Kakak, cemburu?”


“Siapa yang gak cemburu kalau istrinya di tatap seperti tadi oleh laki-laki lain. Apalagi dia gak percaya kalau kamu lagi hamil. Padahal itukan hasil kerja keras Kakak.”


“Makanya aku berusaha menghindar dia, karena aku emang gak yakin kalau dia itu benar-benar ingin menebus kesalahannya.”


“Kalau kamu gak suka sama dia jangan terlalu ditampakkan dengan jelas. Takutnya nanti orang itu kesal dan dia jadi dendam lalu malah berniat buruk sama kamu. Biasa-biasa saja lah, agar kita aman.”


Larisa menghembuskan nafas panjang.  “Iya juga sih. Ya, udah, Kakak, istirahat aja dulu. Aku mau temuin Kyra.”

__ADS_1


"Iya."


__ADS_2