
Dari siang hingga sore hari Larisa tampak sibuk di dapur di bantu oleh ART di villa Kania. Mengolah beberapa bahan masakan menjadi hidangan yang lezat dan dapat menggugah selera siapa saja yang menghirup wanginya. Sedangkan Kania cuma bisa menemani sambil bermain dengan Kyra.
“Akhirnya beres juga,” seru Larisa.
“Gue jadi laper. Boleh makan duluan gak?” tanya Kania.
“Kalau mau makan, makan aja dulu. Gue sama Kyra ke sebelah mau mandi dan ganti baju, nanti pas Kak Abi pulang kami bakalan kesini.”
“Oke. Makasih, ya. Sisanya nanti biar di beresin sama Bibik.”
“Iya. Pamit sama Mami Nia dulu, sayang.” Larisa berkata pada putrinya.
“Mami, Kyra pulang dulu, ya. Nanti Kyra kesini lagi.”
“Oke, sayang. Mochinya di panggil tuh, dia bobok terus dari tadi. Nanti kamu malah nyariin dia lagi.”
“Oh, iya.” Gadis itu segera menggendong kucing kesayangannya untuk dibawa pulang.
“Gue balik. Jangan di habisin,” celetuk Larisa.
“Gak,” sorak Kania.
...🐞🐞🐞🐞...
Sorenya Abi yang pulang dari klinik pun sampai di villa. Saat masuk tak ada sang putri yang biasanya datang menyambut kepulangan, membuat ia bertanya-tanya. Segera di temu Larisa yang pasti sedang berada di kamar.
“Sayang,” panggil Abi.
__ADS_1
“Aku di kamar mandi,” sorak Larisa.
“Kyra mana?” Abi berdiri di ambang pintu kamar mandi.
“Di tempat Kania. Sehabis mandi tadi dia sudah buru-buru kesana” jelas Larisa.
“Ada apa di sana memangnya?”
“Kita bakalan makan malam di sana. Buruan mandi dan ganti baju, Kyra pasti udah nungguin.”
“Makan malam dalam rangka apa? Abi mulai membuka bajunya.
“Nanti, Kakak, bakalan tau.”
Kebetulan gadis kecil mereka yang biasanya suka mengganggu lagi gak ada di rumah. Abi memanfaatkan waktu ini untuk bisa berduaan bersama sang istri di dalam kamar mandi. Ia pun ikut masuk kedalam bathup berendam bersama Larisa. “Satu kali boleh, ya?”
“Gak lama-lama tapi, nanti Kyra marah, loh.”
Keduanya menyelesaikan ritual mereka setelah itu mandi bersih dan berpakaian yang rapi.
“Ayo, Kak,” ajak Larisa.
Mereka pun keluar dari villa dan berjalan kaki menuju villa Kania. Tak sampai lima menit keduanya sampai di sana. Boni pun menyambut mereka di depan pintu dan langsung mengajak menuju meja makan.
“Papa.” Kyra berlari menghampiri sang Papa.
Abi pun menggendong putri kecilnya itu. Mereka semua duduk di kursi meja makan.
__ADS_1
“Ada apa sih? Tumben banget dan mendadak lagi,” tanya Boni.
“Kita makan dulu aja, yuk. Kyra pasti sudah lapar,” jawab Kania.
Para istri itu pun mengisi piring untuk suami mereka masing-masing. Larisa juga mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk putrinya. Mereka makan dengan lahap di iringi obrolan ringan dan masakan yang terhidang di atas meja pun habis tak bersisa.
“Aku punya kejutan buat, Mas,” ucap Kania.
“Apa?” Boni tampak penasaran.
Wanita itu pun memberikan sebuah kotak kecil persegi panjang ke suaminya. “Dibuka, dong.”
Boni yang sudah dibuat penasaran oleh istrinya sejak tadi, segera membuka kotak warna hitam itu. Sebuah test pack digital yang bertuliskan Pregnant berhasil membuatnya terkejut bahkan sampai tak mampu berkata-kata. Kania pun bigung dengan reaksi sang suami.
“Mas?” panggil Kania.
“I-ini serius?”
Kania mengangguk cepat. “Jalan empat minggu.” Wanita itu mengelus perutnya.
“Kamu hamil?”
“Iya, Mas.”
Boni seakan masih tak percaya, ia sampai mengusap wajahnya berkali-kalai lalu memandangi istrinya.
“Diepeluk, dong istrinya. Masak palanga-plongo gitu,” seru Abi.
__ADS_1
Akhirnya Boni pun memeluk Kania yang tengah duduk di kursi meja makan. Ia bahkan sampai mengucapkan syukur di perut larisa dan mendoakan semoga calon buah hati mereka bisa tumbuh sehat di sana. Terakhir ia labuhkan sebuah kecupan.
Larisa dan Abi ikut merasa senang atas kehamilan Kania.