Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 59


__ADS_3

“Kamu marah sama, Kakak?” tanya Abi datang menghampiri.


Istrinya itu hanya menggelengkan kepala.


“Terus kenapa duduk sendirian di sini? Biasanya gak mau jauh-jauh dari Kakak.”


Larisa diam seribu bahasa.


“Masuk, yuk. Udaranya dingin nanti kamu masuk angin.”


Abi membimbing istrinya masuk kedalam villa. 


“Aku mau ke kamar,” jelas Larisa. 


Membuat Abi menghembuskan nafas kasar sambil menatap punggung sang istri yang terus menaiki anak tangga menuju kamar mereka.


...🥔🥔🥔🥔...


Jakarta …


Ting tong 


Bel rumah Endra dan Davira berbunyi ketika mereka hendak menyantap makan malam. 


“Bik, tolong di lihat kedepan, sepertinya ada tamu,” kata Davira.


“Baik, buk,” jawab Bibik.


Tak lama asisten rumah tangga mereka pun kembali dari arah depan. “Maaf Pak, Buk, ada yang mau ketemu.”


“Siapa?” tanya Endra.


“Ibuk Ningsih.”


Pasangan suami istri itu saling pandang. Raut wajah mereka tampak kaget juga penuh tanya, ada apa gerangan Ningsih datang menemui mereka malam-malam begini?


“Ayo, Pah, sebaiknya kita temui,” ajak Davira pada suaminya.


Sampai di ruang tamu mereka menyambut kedatangan Ningsih dengan penuh senyuman. 


“Maaf saya sudah mengganggu waktu istirahatnya,” ucap Ningsih.


“Oh, tidak. Silahkan duduk kembali,” ajak Davira.


“Bagaimana kabarnya, Besan?” tanya Endra.


“Alhamdulillah baik, Pak.”


“Ada yang ingin dibicarakan? Sampai, Besan, datang malam-malam begini?”


Ningsih tersenyum simpul. “Saya datang kemari ingin meminta maaf pada Ibuk dan Bapak.”


“Soal apa, ya?” tanya Davira.

__ADS_1


“Soal … soal sikap saya yang terlalu egois. Tanpa sadar ternyata sikap saya yang selama ini membuat anak dan menantu saya merasa sedih. Bahkan saya hampir saja membuat mereka berpisah. Padahal mereka saling mencintai dan hidup bahagia. Jujur saya menyesal karena tak merestui pernikahan mereka.” Ningsih tertunduk menyembunyikan genangan air mata di pelupuk.


Davira mengelus punggung Ibu dari menantunya itu. “Kami mengerti apa yang menjadi alasan, Ibuk, untuk tidak menyetujui pernikahan Abi dengan Larisa.”


Ningsih menghembuskan nafas kasar sambil menyeka sudut matanya. “Seharusnya saya mendukung atas apa yang dilakukan Abi, seharusnya saya bangga atas pilihan yang diambil oleh putra saya. Apa yang dilakukannya untuk Larisa itu adalah sebuah kebaikan. Belum tentu ada orang lain yang mau mengambil keputusan besar itu.”


Endra Dan Davira hanya diam memberikan kesempatan pada Ningsih untuk menjelaskan isi hatinya


“Alasan saya menolak pernikahan mereka bahkan tak masuk akal. Sebagai seorang psikiater saya pastinya tahu betul tentang kondisi Larisa. Tapi saya malah bersikap selayaknya seorang ibu yang tak memiliki ilmu di bidang itu. Apa yang menjadi kekhawatiran saya kemarin sangat tidak masuk akal dan hanya mengada-ada."


Ningsih menarik nafas dalam lalu kembali bicara. "Secara tidak langsung saya sudah merendahkan putri kalian, artinya sebagai seorang Dokter jiwa saya sangat tidak profesional. Bahkan saya juga seorang Ibu yang pernah memiliki putri, dimana keadaannya sama dengan Larisa, ditolak oleh calon mertuanya hanya karena pernah depresi. Tapi saya malah menutup mata akan perasaan Ibuk Davira, padahal saya tahu betul bagaimana sakitnya jika anak kita diperlakukan seperti itu oleh orang lain. Dianggap gila, dipandang sebelah mata dan dianggap memalukan."


Davira hanya mengangguk sedangkan Endra cuma diam menyimak dengan baik.


“Sungguh saya menyesal dan sekali lagi saya minta maaf sebesar-besarnya atas apa yang sudah saya lakukan pada kalian dan Larisa. “ Ningsih sampi bersimpuh di kaki Davira.


Namun ibu dari Larisa itu segera turun dari sofa dan membawa Ningsih kembali duduk.


“Sudah, Buk.Kami sama sekali tak pernah marah atas sikap Ibuk. Jujur kami sempat merasa kecewa. Namun, seiring waktu kami pun bisa memahami, karena hal itu tentunya sangat tidak mudah untuk Ibuk terima.”


“Kami juga minta maaf karena pada saat itu tetap melangsungkan pernikahan meski Ibuk sebagai orang tua dari Abi sudah jelas menentang pernikahan itu. Kami pun juga merasa sedikit egois di sini, karena lebih mementingkan Larisa,” tambah Endra.


Ningsih menyusut air matanya. “Terimakasih sudah menerima saya dengan baik bahkan kalian dengan lapang dada mau memaafkan segala kesalahan saya.”


“Semua kami lakukan demi Abi dan Larisa, Buk. Kebahagian mereka adalah kebahagian kita sebagai orang tua,” ujar Endra.


“Apa yang, Bapak, bilang sangat benar sekali. Maka dari itu saya datang kemari ingin mengatakan kalau saya sudah merestui pernikahan mereka. Saya juga sudah membaca surat yang ditulis oleh putri kalian. Sungguh saya sangat tersentuh dibuatnya.”


“Alhamdulillah,” seru Davira dan Endra bersamaan.


“Kalau begitu bagaiman kalau malam ini kita makan malam bersama. Kebetulan kami baru saja hendak makan,” ajak Endra.


“Ah, saya jadi tidak enak. Sekali lagi maaf kalau saya datang diwaktu yang kurang tepat.”


“Tidak apa-apa, Buk. Mari kita ke meja makan. “ Davira pun membawa NIngsing menuju meja makan. Di sana mereka membahas banyak hal, sampai kondisi Larisa yang tengah hamil muda.


...🍒🍒🍒🍒...


Bali ...


Ketika malam tiba pasang itu pun sudah berbaring di atas kasur untuk mengistirahatkan badan. Namun, Abi kembali mengajak sang istri untuk bicara sebelum pagi datang menjelang. Ia tak bisa jika di diamkan lama oleh Larisa.


Dipeluknya tubuh yang tidur menyamping itu. Tangannya diletakkan di atas perut sang istri yang sudah mulai membesar. “Kalau Kakak salah, Kakak minta maaf. Kakak cuma khawatir sama kondisi kamu dan anak kita,” jelas Abi di telinga istrinya.


“Aku cuma mau kita ke Jakarta aja buat ketemu Mama Ningsih, bukan mau jalan-jalan,” kata Larisa.


Dibaliknya tubuh sang istri agar berhadapan dengannya, lalu Abi mengelus pipi Larisa yang tampak sedikit berisi. “Oke, nanti Kakak coba atur jadwal dulu, ya.”


Akhirnya ibu hamil itu tersenyum.


“Nah, gitu dong. Dari tadi cemberut terus.” Abi mencubit gemas pipi istrinya


“Kakak, bikin aku kesal makanya aku ngambek.”

__ADS_1


“Sayang, Kakak cuma ingin menjaga kalian, itu saja. Bahkan Kakak harus menahan diri lagi karena gak mau bayi kita kenapa-kenapa.”


“Tapi kan kata dokter kandungan aku udah kuat ,Kak.”


Abi menggeleng. “Tunggu satu bulan lagi aja.”


“Kakak, kuat?”


“Setahun aja Kakak kuat nahannya, apa lagi sebulan.”


Larisa terkekeh.


“Sekarang kita tidur, jangan ngambek lagi. Besok Kakak atur jadwal dulu.”


“Iya. Makasih, ya, Muach.” Satu kecupan diberikan Larisa di pipi suaminya.


...🥨🥨🥨🥨...


Pagi ini Larisa kembali mengantar kepergian Abi bekerja sampai depan villa. Sudah lama ia tak melakukan hal itu membuatnya merasakan kerinduan pada aktivitas lainnya. 


“Mau aku masakin makan siang apa?” tanya Larisa sebelum Abi masuk mobil.


“Apa aja. Tapi ingat jangan sampai kecapekan.”


“Baik.”


Kepergian Abi, Ibu hamil itu kembali masuk kedalam. Ia mulai merekam video untuk konten youtubenya. Namun, panggilan dari sang Mama membuat Larisa menjeda rekamannya.


📞Hallo, Ma.


📞Hallo, sayang. Gimana kabar kamu dan cucu Mama?


📞Sehat. Kemarin baru aja habis kontrol ke dokter. Katanya ku gak perlu bedrest lagi.


📞Alhamdulillah. Pas empat bulan nanti kita bikin syukuran, ya.


📞Iya. Kemarin Abah sama Umi datang kesini, mereka bilang nya juga gitu.


Obrolan anak dan Ibu itu terus berlanjut. Setelah puas Larisa pun menutup sambungan telepon itu.


“Bik,”panggilnya.


“Iya, Mbak?” jawab Bibik.


“Besok pagi, Bibik, ke pasar dulu, ya. Habis itu tolong beresin kamar tamu.Ganti seprei nya sama yang baru.”


“Ada tamu yang akan menginap di sini, Mbak.”


“Sepertinya. Jadi, kita siap-siap aja.”


Bibik pun mengangguk.


“Sekarang bantu saya masak makan siang, ya.”

__ADS_1


Asisten rumah tangga itu segera mengeluarkan bahan masakan dari dalam kulkas.


__ADS_2