
Akhirnya proses kerja sama antara perusahaan mertua Bayu dengan perusahaan Endra dikerjakan oleh Dendi. Sudah hampir dua minggu sejak pertemuan Larisa dengan Bayu waktu itu. Namun, setiap mantannya itu datang ke kantor, ia selalu meminta untuk bertemu. Meski Larisa sudah menolak dan menghindarinya secara terang-terangan, Bayu tak pernah menyerah.
“Permisi, Buk.” Indah pun masuk menemui Larisa di ruangannya.
“Iya, ada apa?”
“Di depan ada Bapak Bayu. Katanya dia ingin bertemu dengan Ibuk.”
Larisa menghembuskan nafas kasar. Ia sudah sangat jengah dengan tingkah Bayu. “Oke, kali ini izinkan dia masuk.”
Larisa akhirnya mengizinkan sang mantan untuk menemuinya sekaligus ia ingin memberikan peringatan pada Bayu agar menjauhinya.
Indah mengangguk paham. Ia pun segera keluar dari sana.
Bayu merasa menang karena telah berhasil membuat Larisa mau menemuinya. Ia pun segera masuk keruang kerja Larisa di temani Indah.
“Silahkan duduk, Pak.” Indah mempersilahkan pria itu duduk di sofa selagi Larisa sibuk di depan laptopnya.
__ADS_1
Hingga kepergian Indah, Larisa tak kunjung menghampiri, membuat Bayu akhirnya membuka suara. “Aku mau minta maaf.”
Dengan anggun dan elegan Larisa keluar dari balik meja kerjanya. “Sebelum Anda minta maaf, saya sudah memaafkan kesalahan Anda.”
Bayu tersenyum simpul. “Terimakasih.”
Larisa yang sudah duduk di sofa depan Bayu hanya mengangguk.
“Kalau kamu sudah memaafkan aku, lalu kenapa kamu menghindar?”
“Karena saya tidak nyaman dekat dengan Anda.”
“Oke, aku tau apa yang aku lakukan dulu itu sangat menyakiti kamu dan aku benar-benar minta maaf. Aku menyesal.”
Sama seperti dulu, Bayu mengeluarkan jurusnya terhadap Larisa. Memasang tampang memelas dan bersalah, seakan-akan ia benar-benar sangat menyesali perbuatannya dulu. Supaya Larisa percaya dengan mulut manisnya. “Bagus kalau begitu,” jawab Larisa dengan santai.
“Bisakah kita berteman? Apalagi sekarang kita tengah bekerja sama, lupakan masa lalu dan kita mulai hubungan baru dengan baik.”
__ADS_1
Larisa berdengus sinis. “Berteman? Untuk apa? Saya rasa gak ada untungnya bagi saya jika kita berteman. Meskipun perusahaan kita bekerja sama, bukan berarti hubungan kita bisa kembali baik lagi.”
“Ayolah, Sa. Kasih aku kesempatan untuk menebus kesalahan aku,” bujuk Bayu.
Larisa tahu bagaimana sikap Bayu, pria itu sangat pintar dalam berkata-kata. Membujuk dan merayu orang agar simpati terhadapnya. Dia pikir Larisa akan luluh, tapi ia tak tahu saja kalau Larisa yang kini bukanlah Larisa yang dulu. Mungkin Larisa yang dulu akan dengan mudah memaafkannya dan menerimanya kembali, tapi sekarang tak akan semudah itu.
“Dengar, ya, meskipun saya sudah menerima masa lalu dan sudah memaafkan kamu, bukan berarti saya bisa berteman dengan kamu. Ini terakhir kalinya kita bicara dan bertatap muka. Setelahnya anggap saja kita tak pernah saling kenal dan jangan pernah temui saya lagi!” Larisa berkata penuh dengan penekanan. Setelahnya ia bangkit dari sofa.
Bayu pun ikut bangkit seakan ia ingin menahan Larisa.
“Anda tahukan pintu keluarnya?” tanya Larisa.
Pria itu akhirnya menutup mulut. Ia sadar diri kalau Larisa ternyata sangat membencinya. Hal itu dapat ia rasakan dari tatapan sang mantan yang kini tampak semakin cantik.
Bayu tersenyum simpul. “Terimakasih sudah meluangkan waktunya.”
Tak ada balasan dari Larisa, wanita itu tampak sibuk di balik meja nya. Membuat bayu segera melenggang pergi dari sana.
__ADS_1
Ibaratkan luka di tangan akibat sebuah pisau. Luka itu memang bisa sembuh, tapi bekasnya tak akan pernah hilang. Itulah yang membuat Larisa sangat membenci Bayu hingga sekarang. Ikhlas memaafkan bukan berarti bisa menerima kembali kehadiran orang itu di dalam kehidupannya. Itulah alasan kenapa ia berusaha menghindari Bayu. Termasuk kota ini, tidak mudah bagi Larisa untuk kembali tinggal di dekat pisau yang sudah melukai hatinya.