Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 18


__ADS_3

“Kak, pakai bajunya." Larisa berkata ketika mendapati Abi yang bertelanjang Dada.


“Kakak mau olahraga, La. Kalau pakai baju gerah.”


“Ya, tapi aku takut lihat otot gede itu.”


“Lebay kamu. Memangnya Kakak Ade Ray. Ini tuh pas buat Kakak,” jelas Abi menatap tubuhnya.


“Iiih, Kakak nyebelin,” kesel Larisa.


“Sshhuut! Jangan banyak omong, yuk, pemanasan.”


Biasanya sebelum berangkat kerja Abi akan olahraga sendiri di ruang Gym. Sedangkan Larisa melakukan yoga. Namun, ketika dia libur maka Abi akan membantu istrinya itu olahraga yang dapat meringankan depresi untuk memperbaiki suasana hati agar lebih stabil dan dapat menyehatkan tubuh.


Seperti lari di treadmill, bersepeda statis dan latihan kekuatan mulai push-up, sit-up, squat, plank, hingga angkat beban dengan dumbbell. Sebenarnya Abi ingin melakukan olahraga di luar bersama istrinya itu, tapi Larisa menolak. Ia masih belum bisa keluar dari zona nyamannya yaitu villa. 


Lelah setelah melakukan olah tubuh mereka pun istirahat sebentar di tepi kolam renang. Abi yang merasa gerah memilih untuk menyegarkan tubuhnya.


“La, sini masuk. Berenang sama Kakak,” ajaknya.


“Aku gak bisa,” jawab Larisa.


“Kakak ajarin.”


Larisa ragu ia takut jika nanti akan tenggelam.


“Ayok,” desak Abi menyipratkan air ke istrinya itu.


“Aku ganti baju dulu.”


Tak lama ia kembali dengan baju kaos dan celana pendek. Karena tak pernah berenang ia tak memiliki baju renang. Ketika masuk ke dalam air, Abi memegangi istrinya itu. Karena takut Larisa memeluk Abi dengan erat. 


“Kak, ini dalam banget.”


“Ada Kakak, La. Jangan takut! Sekarang coba lepas pangkuan kamu, Kakak pegangin.”


Larisa memberanikan diri. Ia memang percaya penuh pada Abi oleh karena itu ia ingin mencoba. Satu putaran berhasil ia lakukan Larisa bersorak riang. Tak menyangka kalau ia bisa.


“Kamu berat,” kata Abi sedikit ngos-ngosan


Gadis itu mencibir. “Tadi siapa yang ngajakin aku berenang?”


“Iya juga sih. Yuk, sekali lagi! habis itu kita lanjut bikin taman di halaman.”


Abi kembali memegangi istrinya yang sedang mencoba mengayuh kaki. Sampai di tengah kolam Abi melepaskan Larisa hingga gadis itu panik lalu segera memeluknya.


“Kakak, ih,” kesalnya memukul lengan Abi. “Jangan di lepasin!”


“Hahaha sorry, Kakak pikir kamu bisa.”


“Belumlah. Baru juga belajar.”

__ADS_1


“Ya udah, kita naik. Kakak udah kedinginan.”


Menuju ke tepi kolam Larisa tak melepaskan pelukannya dari Abi, bahkan tubuh  mereka benar-benar menempel.


“Kak?”


“Hhmm?”


“Itu apa?” 


“Yang mana?”


Larisa menunjuk ke arah bawah. “Yang keras dan menonjol di bawah kayaknya tadi gak ada deh.”


Mata Abi membulat sempurna. Sebagai laki-laki normal ketika melihat lekuk tubuh istrinya apalagi buah dada Larisa menempel pada badannya membuat gairahnya bangkit. 


“Cepat naik dan ganti baju,” jawab Abi membantu istrinya naik ke atas kolam.


Larisa pun tak lagi membahas persoalan tadi. Ia segera menuju kamar untuk mengganti pakaian yang basah. Sedangkan Abi membenamkan badan kedalam kolam karena merasa malu pada sang istri.


“Sial, sial, sial,” umpat Abi memukul air kolam.


Ia kembali berenang beberapa kali putaran sampai juniornya normal kembali barulah Abi keluar dari sana dan mengganti baju.


...🌰🌰🌰🌰...


Kegiatan selanjutnya mereka memindahkan tanaman yang dibeli kemarin ke dalam tanah. Abi bertugas membuat lubang sedangkan Larisa menanamnya, memberi pupuk dan menyiram.


“Kalau gitu kita masuk, yuk! Sekalian makan siang habis itu kita beli kamera di mall.”


“Gak, ah. Kita beli online aja,” jawab istrinya.


“Kenapa?”


“Males ketemu orang ramai.”


Abi membuang nafas kasar. Membuat Laisa keluar villa sangat sulit sekali, tapi ia tak mau memaksa. “Ya udah, kita beli online saja.”


Usai makan dan sholat Abi memutuskan untuk bersantai di ruang tengah. Karena tak jadi pergi jalan ke mall, ia pun memanfaatkan waktu kosong untuk memanjakan diri meski hanya menonton film. 


“Kak, pinjam ponselnya aku mau beli kamera.” Larisa langsung merebahkan diri di samping Abi.


Abi pun memberikannya.


“Bagus yang mana, ya, Kak?”


“Coba kamu lihat-lihat dulu di google, rekomendasi kamera yang bagus untuk bikin vlog,” saran Abi dengan mata fokus ke layar TV.


Larisa mulai berselancar di browser. Ia tak di izinkan Abi mengunakan ponsel jika tidak dalam pengawasannya. Jadi, kalau mau menghubungi kedua orang tua di Jakarta maka Larisa akan memakai ponsel Abi. Atau jika dia ingin membeli sesuatu di toko online juga pasti pakai ponsel Abi. Ponsel itu sudah seperti ponsel mereka bersama. 


Bahkan foto-foto selfie mereka berdua memenuhi galeri Abi. Terkadang Larisa malah mengubah wallpaper di ponsel itu menggunakan fotonya sendiri. Dokternya itu tak marah bahkan tak pernah menggantinya kembali. 

__ADS_1


“Kak, isi saldo dulu. Aku mau bayar kameranya,” kata Larisa setelah menentukan pilihan.


Abi pun tersenyum sebuah ide muncul di benaknya untuk menggoda sang istri. “Cium dulu, habis itu baru Kakak isi saldonya.”


Larisa menekuk wajah. 


“Kakak kan kerja buat cari uang, masak gak di kasih hadiah sih.Anggap aja ini penghargaan dari kamu biar capek Kakak hilang,” alasan Abi.


“Di pipi aja, ya?”


“Kalau di pipi aja harus kiri kanan plus jidat.”


“Satu aja gak usah banyak-banyak,” rengek Larisa.


“Boleh, tapi di sini,” kata Abi menunjuk bibirnya.


Larisa mulai bingung. Ia merasa dimanfaatkan oleh Abi. “Ya udah, gak jadi aja beli kameranya.”


“Eh, kok ngambek sih?” Abi menahan tangan istrinya.


“Kakak, manfaatin aku.”


Abi tertawa keras. “Oke, maaf ya kalau kamu gak suka. Nih, udah Kakak isi saldonya.”


Wajah cemberut itu kembali tersenyum. “Makasih.” Lalu ia memberikan sebuah kecupan di pipi Abi. “Biar semangat kerjanya.”


Abi pun tersenyum puas. Meski belum bisa memiliki sang istri sepenuhnya, tapi seperti ini saja ia sudah sangat senang. Memang butuh kesabaran yang ekstra untuk bisa merebut hati Larisa.


...🥗🥗🥗🥗...


📞Sebaiknya datang pas weekend aja sekalian saya ada di rumah.


Abi sedang melakukan panggilan dengan mertuanya. Mereka berencana ingin ke Bali menemui menantu dan sang putri.


📞Gimana kalau jumat sore saja.


Tanya Endra.


📞Ide yang bagus. Kita bisa jalan-jalan selama dua hari di sini.


📞Baiklah kalau begitu, Papa dan Mama akan berangkat jumat besok. Kalian tunggu di villa saja. Gak usah dijemput segala.


📞Baik, Pah.


📞Larisa, mana?


.Tanya Davira


📞Saya lagi di klinik, Mah.Sebentar lagi pulang. Nanti sampai rumah saya hubungi lagi atau telpon langsung ke ponselnya Larisa.


📞Oh kalau begitu gak usah. Mama cuma tanya aja. Ya sudah tutup dulu telponnya. Titip salam buat anak, Mama.

__ADS_1


Pembicaraan mereka pun berakhir. Abi kembali fokus pada pekerjaan. Ia tampak buru-buru karena sudah tak sabar ingin bertemu dengan Larisa untuk menyampaikan kedatangan kedua orang tuanya.


__ADS_2