Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 38


__ADS_3

Halo semua pembaca setia ku... 👋👋👋


Sebelumnya aku mau ngucapin selamat hari raya Idul Fitri 1443 H. Mohon maaf lahir dan batin 😊🙏



Aku mau minta maaf 🥺, karena kemarin gak up sama sekali. Soalnya lagi sibuk banget di dunia nyata.


Sebagai gantinya aku akan up date 5 bab di hari raya ini untuk menemani kalian semua yang masih menunggu kelanjutan cerita dari Abi dan Larisa.


Yyyeeaaa..... 🥰🥳🤩 pasti senang dong...


Dan untuk satu minggu kedepannya aku akan usahakan up date 3/4 bab sehari dengan jumlah kata 1000-1200.


Mohon dukungan dari kalian semua.... 🙂


Kasih Like 👍 dan tinggalkan komentarnya 🖊


Jika berkenan mohon hadiahnya 🎁 juga, ya... 😃 akan sangat berarti buat aku. Dan pastinya semangat aku buat nulis pasti akan bertambah.


Terimakasih 😇🥰😍


...----------------...


Mereka sampai di villa tepat tengah malam dan sepertinya Davira serta Endra sudah istirahat di kamar. 


“Masuk kamar jangan lupa bersih-bersih dan ganti baju." Abi berkata saat mereka sampai di depan kamar.


“Iya. Malam ini kita tidur di kamar masing-masing aja, ada Mama, Papa,” ujar Larisa masih malu-malu.


“Kakak, ngerti.” Abi pun melambaikan tangan lalu ia pun menuju kamarnya. 


Sampai di kamar masing-masing dua insan manusia itu meloncat saking girangnya. Karena kini hubungan mereka sudah bukan sebatas Dokter dan pasien lagi, tapi sudah menjadi sepasang kekasih menurut Larisa. Sedangkan bagi Abi ia sudah satu langkah lebih dekat dengan sang istri, sengaja tak mau buru-buru melamar wanita itu untuk dijadikan istri karena takut Larisa belum siap.


Di atas kasur Larisa terus saja memandangi cincin di jari manisnya itu. Sesekali di cium nya dan ia pun tertawa juga tersenyum sendiri hingga kantuk pun menyerang membuatnya tertidur dengan nyenyak nya.


...🧇🧇🧇🧇...


Pagi-pagi Davira sudah menyiapkan sarapan, tiba-tiba sang putri datang dari belakang dan langsung memeluknya. “Ada apa, sayang? Kayaknya kamu lagi happy banget?” 


Larisa memamerkan jarinya pada sang Mama.


Wanita itu mengerutkan dahi. Ia takut salah dengan dugaannya. “Maksudnya apa ini?”

__ADS_1


“Semalam Kak Abi nyatain perasaannya ke aku.” Larisa berkata dengan raut wajah berseri.


“Terus?”


“Kita jadian,” seru Larisa senang.


“Ooh selamat,” balas Davira memeluk putrinya. Ia agak bingung, tapi berusaha bersikap normal agar Larisa tak curiga.


Tak lama Endra pun datang Larisa juga memberitahukan hal itu pada sang Papa. Dua orang tua iyu menyimpan banyak pertanyaan untuk Abi, tapi mereka tak mau buru-buru menghampiri sang menantu. Mereka akan mencari waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu nanti.


Mereka berempat menikmati sarapan seperti biasa. Tentunya ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan Larisa meski sebenarnya bukan hal itu yang diharapkan. Selesai sarapan Davira mengajak putrinya menuju taman.


Endra pun memanfaatkan waktu, ia menemui Abi yang tengah berada di kamarnya.


“Ada apa, Pa?”


“Kamu kok malah minta Larisa jadi pacar sih? Kenapa gak langsung lamar dia aja?” sosor Endra.


Abi tertawa kecil. “Kita duduk dulu, Pa.” Ia mengajak sang mertua duduk di kursi santai depan kamar. “Saya gak mau buru-buru, takutnya nanti Larisa gak siap dan dia malah menghindari saya. Gak ada salahnya saya kasih waktu untuk dia menikmati masa-masa pacaran. Saya cuma mau bikin Larisa bahagia, dia bisa merasakan lagi debaran-debaran cinta, manisnya sayang-sayangan pas pacaran. Kalau langsung nikah, kayaknya kurang pas deh, Pa. Terlalu cepat.”


Endra menghembuskan nafas panjang. “Ya, Papa sama Mama sih terserah kamu. Papa yakin apa yang kamu lakukan buat putri kami pasti yang terbaik. Cuma kami sudah kepengen punya cucu.”


“Sabar, Pa! Tunggu waktunya! Saya harus bikin Larisa yakin dulu kalau hidup bersama saya dia akan semakin bahagia.”


“Ya sudah, Papa tunggu kabar baik sajalah.”


“Endra menepuk pelan bahu menantunya. “Terimakasih sudah mau bersabar dan menunggu putri saya.”


“Saya akan melakukan yang terbaik buat Larisa.”


...🥭🥭🥭🥭...


“Mah, apa gak apa-apa kami tinggal berdua?” tanya Larisa sambil menyirami tanamannya.


“Kenapa emang?”


“Ya, secarakan sekarang aku sama Kak Abi udah pacaran. Mama gak takut apa, kalau nanti kita melakukan hal yang aneh-aneh?”


“Aneh-aneh gimana? Kalian kan sudah dewasa, Mama yakin kalian tau batasannya dan Mama yakin kok, kalau Abi itu pasti akan menjaga kamu.”


“Iya sih. Artinya, Mama, percaya sama kami?”


“Bisa dibilang begitu. Pokoknya lakukan apa yang ingin kalian lakukan.”

__ADS_1


“Maksud, Mama?”


“Ah sudahlah, sekarang ayo kita siap-siap mau ke tempat Abah,” ajak Davira.


...🍒🍒🍒🍒...


Mereka sampai di pondok pesantren Abah tepat saat adzan dzuhur berkumandang. Setelah menurunkan barang-barang yang dibawa sebagai hadiah untuk Abah dan para penghuni pondok, Abi segera menyusul ke mesjid untuk sholat berjamaah.


Ia pun diminta Abah untuk memimpin sholat berjamaah kali ini. Anggap saja sedang latihan untuk menjadi imam yang lebih baik lagi kata Abah. Setelah itu lanjut doa bersama, mengucap syukur atas kesembuhan Larisa. Juga meminta kedepannya semoga wanita itu bisa bahagia dunia dan akhirat.


Dari masjid mereka berpindah ke rumah Abah. Di sana Umi sudah menyajikan makan siang. Meski dari rumah mereka sudah mengisi perut, tapi mereka tak bisa menolak.


“Setelah ini, Nak Larisa, mau melakukan apa?” Abah bertanya usai mereka semua menyantap makan siang.


“Belum tau, Bah. Tapi rencananya mau lihat-lihat beberapa fakultas disini. Siapa tau aku nanti tertarik buat lanjutin S2.”


“Bagus itu, Abah dukung. Gak baik kalau kamu lama-lama di villa, nanti malah jadi orang yang gak suka bersosialisasi.”


“Terimakasih, Bah. Mohon doanya juga.”


“Pasti itu. Abah selalu mendoakan kamu dan Nak Abi.”


Larisa tersenyum dan mengangguk.


“Oh, ya, Bah, sebagai tanda terimakasih dari kami, mohon di terima.” Endra memberikan satu koper kecil uang pecahan seratus ribu yang jumlahnya entah seberapa.


Abah pun kaget, matanya langsung terbelalak saat melihat isi koper itu. Baru kali ini ia melihat uang dalam jumlah yang banyak. “Sebelumnya terima kasih banyak, Pak. Tapi saya rasa ini terlalu berlebihan. Saya dan kami semua disini membantu Larisa dengan hati yang ikhlas. Jadi, maaf saya tak bisa menerima ini semua. Terlalu berlebihan.”


“Bah, gak ada yang berlebihan bagi kami. Ini sepadan dengan hal yang, Abah, lakukan buat putri kami,” jelas Davira.


“Larisa sembuh atas izin Allah, Buk. Saya hanya perantara. Toh ada campur tangan Nak Abi juga.”


“Maka, ini pun rezeki untuk, Abah, dari Allah lewat orang tua Larisa,” timpal Abi.


“Nah, benar apa kata Abi, Bah. Jadi, mohon di terima,” lanjut Endra.


“Kalau, Abah, gak mau terima, nanti aku gak mau kesini lagi, loh,” tambah Larisa.


Abah pun menatap istrinya yang duduk di sampingnya. Dengan berat hati beliau pun menerima hadiah fantastis itu.


Endra dan Davira tampak gembira dan senyum lebar terlukis di bibir mereka.


“Itu dari Papa dan Mamanya Larisa. Kalau ini dari saya.” Abi memberikan bingkisan yang tadi mereka beli. Isinya berupa kebutuhan sehari-hari seperti, beras, minyak, gula dan lain-lain. “Bisa dipakai Umi buat masak, soalnya kami tiap kesini selalu di kasih makan,” kekeh pria itu.

__ADS_1


“Bisa saja. Terimakasih banyak,” ungkap Abah.


“Sama-sama, Bah,” balas Abi.


__ADS_2