Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 137


__ADS_3

Sebelum kembali ke Bali Abi masih bekerja di Rumah Sakit Jiwa milik sang Mama, sedangkan Larisa tak lagi datang ke kantor.  Ia lebih memilih menghabiskan waktu di rumah mengurus kepulangan mereka ke Bali dan menjemput sang putri pulang sekolah.


Saat sampai di sekolahan Kyra, ia pun tak sengaja bertemu dengan Bayu.


“Jemput anak kamu?” tanya Larisa.


“Iya, aku belum ketemu sama dia. Jadi, Luna mengizinkan aku menjemputnya,” jawab Bayu.


Sambil menunggu anak-anak mereka keluar kelas, mereka pun duduk di bangku taman sekolah.


“Sekali lagi maafin suami aku, ya, Bay,” ujar Larisa.


“Aku juga minta maaf karena sudah bikin kamu celaka sampai kalian kehilangan calon anak yang lagi kamu kandung.”


“Yang namanya musibah kita gak bisa menghindarinya. Aku juga sudah ikhlas.”


Bayu pun tersenyum.


“Kenapa?”


“Aku senang aja, gara-gara aku masuk penjara kemarin, kamu mau bicara dan ngobrol sama aku. Ternyata ada hikmahnya juga.”


“Aku menghindari kamu bukan karena aku benci.”


“Walaupun kamu benci, aku gak masalah. Aku sadar diri karena sudah bikin hidup kamu jadi berantakan waktu itu.”


Larisa menghembuskan nafas panjang. “Aku harap kamu gak ada dendam pada Kak Abi.”


Hanya sebuah senyuman simpul yang diberikan Bayu.


“Sepertinya anak aku sudah keluar kelas, aku duluan, ya, Bay,” pamit Larisa.


“Iya, besok kita ketemu dan ngobrol lagi di sini.”


“Insyaallah.”


Kepergian Larisa, Bayu menatap lama punggung wanita itu. Dia masih saja bersikap baik padanya meski sudah pernah ia lukai dan celakai. Bagaikan seorang bidadari yang memiliki hati mulia, jarang sekali ada wanita seperti itu. Sungguh menyesal ia sudah pergi dari kehidupan mantannya itu.


Ada rasa iri pada Abi karena dia sangat beruntung bisa memiliki Larisa, bisa mendapatkan cinta dan kasih sayang tulus darinya. Jika waktu bisa diputar kembali, maka ia tak akan pernah kabur dari pernikahan mereka waktu dulu. 


...🐸🐸🐸🐸...


Hampir setiap Hari Larisa bertemu dengan Bayu di sekolah sang anak. Sebelum putri atau putra mereka keluar kelas, banyak hal yang mereka bicarakan. 


“Jadi, kini tugas kamu menjaga Edo ketika Luna bekerja?” tanya Larisa.


Bayu mengangguk. “Kapan kamu kembali ke Bali?”


“Beberapa hari lagi dan ini hari terakhirnya Kyra sekolah.”


“Kenapa gak tinggal di sini aja?”


“Aku lebih nyaman tinggal di Bali.”

__ADS_1


Bayu tersenyum simpul. “Pasti karena ada aku, ya?”


“Bukan. Aku emang lebih senang tinggal di sana.”


“Artinya ini terakhir kali kita bertemu dan bicara?”


Kepala Larisa mengangguk. “Kenapa?”


“Gak papa. Padahal aku senang banget bisa ngobrol dan bicara banyak sama kamu. Pasti nanti pas kamu pergi aku bakalan ngerasa kesepian.”


“Gak lah.” Arah pandangan Larisa pun menuju ke suatu mobil yang sangat di kenalinya. “Sepertinya itu Kak Abi. Aku kesana dulu, ya, kami mau urus surat pindahan nya Kyra.”


“Iya.”


Larisa bangkit dari duduknya dan melangkah kan kaki menghampiri mobil suaminya. 


“Sa?” panggil Bayu sambil berdiri.


Larisa berbalik. “Iya?”


“Terimakasih sudah menerima aku jadi teman kamu.”


Sebuah senyuman hangat dan tulus yang diberikan Larisa sebagai balasan. Setelahnya ia pun kembali melangkah jauh meninggalkan Bayu.


Sebelum Larisa benar-benar pergi, Bayu tak beranjak dari sekolah. Ini terakhir kalinya ia dapat menatap wajah cantik dan indah wanita itu dari kejauhan. Ingin mengucapkan kata perpisahan, tapi ia tak berani untuk menghampiri.


“Salahkah aku jika ingin berada di posisi suami kamu, SA?” Bayu bergumam sambil memperhatikan Larisa dengan Abi dan putri mereka.


Hingga mobil sedan hitam milik Abi bergerak keluar dari halaman sekolah, barulah ia juga pergi dari sana. Membawa penyesalan yang sangat teramat dalam karena sudah menyia-nyiakan wanita sebaik Larisa.


Karena ini weekend, Larisa dan Abi memutuskan untuk menginap di rumah Ningsih. Menjalani hari-hari terakhir mereka di Jakarta sebelum kembali ke Bali.


“Kapan berangkatnya?” tanya Ningsih.


“Besok hari minggu kita semua bakalan nginap di hotel. Ada acara perpisahan kecil-kecilan, lah. Seninnya kita hadiri acara di kantor Papa dan besok sore kami baru berangkat,” jelas Larisa.


“Barang-barang sudah dikemas?”


“Sudah, Ma. Ada juga yang sudah aku kirim. Jadi, kami berangkatnya gak ribet-ribet amat bawa barang banyak.”


“Eyang jadi sedih harus pisah sama kamu.” Ningsih membelai kepala cucunya.


“Nanti biar kami yang setiap akhir bulan ke sini. Mama sama Mama Davira dan Papa tunggu aja kedatangan kami,” jelas Abi.


“Artinya kita bakalan sering-sering naik pesawat dong, Pa?” tanya Kyra.


“Iya, sayang.”


“Asik,” sorak gadis kecil itu.


“Besok, Mama, ikut, ya, menginap di hotel,” ajak Larisa.


“Pastilah, masak Mama mau melewatkan hari-hari terakhir kebersamaan kita.”

__ADS_1


“Kita istirahat, yuk! Sudah malam,” ajak Abi.


“Kyra, bobok sama Eyang lagi, ya?” pinta Ningsih.


“Besok aja deh, Eyang, malam ini Kyra mau Bobok sama Mama, Papa,” jawab cucunya.


“Ya udah deh, kalau gitu Mama duluan ke kamar, ya.”


“Iya, malam, Ma.” Abi dan Larisa menjawab hampir bersamaan.


“Kalau begitu, ayo, kita juga ke kamar.” Abi langsung mengangkat anaknya dan membuat sang putri terbang melayang sambil menuju kamar. Diikuti oleh Larisa yang tertawa bahagia melihat anak dan suamiya.


...🐛🐛🐛🐛...


Hari ini pas makan siang, Endra dan Davira menunggu anak dan menantu serta cucunya di ikuti oleh Besan di sebuah restoran. Sebelum ke hotel mereka akan menghabiskan waktu bersama. Dari sana menuju sebuah mall, para Nenek dan Kakek itu membelikan beberapa barang yang diinginkan oleh sang cucu.


Anggap saja sebagai oleh-oleh atau kenang-kenangan dari mereka sebelum Kyra berangkat ke Bali. Sedangkan Larisa dan Abi memilih jalan berdua mencari beberapa buah tangan untuk Kania dan Boni serta calon anak mereka.


“Beli apa, ya, Kak?” Larisa bertanya sambil melihat ke arah beberapa toko.


“Kakak juga bingung,” jawab Abi. Tak lama ia pun menarik tangan sang istri. “Yang, kesana, yuk!”


“Toko pakaian dalam? Ngapain ke sana, mau beli itu buat Kania sama Kak Boni?”


“Bukan, tapi buat kamu. Beli lingerie, yuk! Untuk nanti malam.”


“Gak ah, males. Aku udah punya banyak.”


“Tapikan udah kamu kirim semua ke Bali, sayang. Please.” Abi pun memohon layaknya anak kecil.


Terdengar Larisa menghembuskan nafas panjang. “Yaudah, iya, tapi satu aja.” Membuat suaminya tersenyum lebar.


Puas memilih, keduanya pun keluar dari sana dan segera mencari oleh-oleh untuk para sahabat yang sudah menunggu kedatangan mereka di Bali. Dari mall keluarga besar itu pun menuju hotel yang sudah disiapkan oleh Endra. 


Di sana keluarga Dendi dan keluarga lainnya juga ikut berkumpul. Malamnya mereka mengadakan acara perpisahan dengan Larisa, Abi dan Kyra. Hanya makan malam biasa diselingi obrolan ringan serta canda dan tawa. Tujuaannya untuk menjaga hubungan silaturahmi dan mempererat kekeluargaan meski jarang bertemu. 


Para sepupu Larisa yang perempuan merasa gemas dengan tingkah Kyra. Membuat mereka memperebutkan gadis kecil itu untuk diajak tidur bersama.


“Sama Tante, yuk, nanti kita beli es krim,” ajak sepupu Larisa.


“Izin Mama dulu, ya, Tante,” jawab Kyra.


“Pasti boleh.”


“Coba, Tante tanya sama Mama.”


“Sa, Kyra tidur bareng kita, ya? Please,” mohon sepupunya.


...----------------...


Jangan lupa mampir ya...


tinggalin jejak juga, karya kakak sesama author nih... 😄😁

__ADS_1



__ADS_2