Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
BAB 103


__ADS_3

Sebelum berangkat ke kantor hari ini Larisa dan Abi menuju Rumah Sakit untuk melakukan pemeriksaan. Kyra dan Davira juga ikut menggunakan mobil lainnya karena tujuan mereka nantinya tak satu arah dengan Abi.


Larisa menjelaskan sedikit tentang kondisinya pada Dokter kandungan yang mereka temui itu. Ia juga menceritakan tentang kesibukannya belakangan ini. Setelahnya ia diminta untuk berbaring di atas brankar untuk melakukan pemeriksaan USG. 


Kyra yang duduk bersama Abi memilih untuk berdiri dekat sang Mama. Ia begitu antusias dan penasaran melihat calon adiknya. “Masih kecil, ya, Ma?”


“Iya, sayang. Dedek bayinya masih tumbuh di perutnya Mama," jelas Dokter.


“Aku pikir sudah bisa melihat wajahnya.”


“Nanti kalau sudah lima bulan kita bisa melihat wajahnya.”


“Sabar, ya,” kata Larisa.


Pemeriksaan selesai Larisa di bantu suster untuk membersihkan gel yang ada di perutnya.


“Gimana, Dok?” tanya Abi.


“Sehat kok, Pak. Ibunya juga sehat, semua normal mulai dari tekanan darah, HB, dan berat badan,” jelas Dokter wanita itu. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kalau Ibunya mau bekerja silahkan saja. Asalkan bisa membagi waktu dan jangan sampai kelelahan. Minum vitamin dan susu hamil.”


“Jadi gak papa kalau saya kerja kan, Dok?” tanya Larisa.


“Gak papa.”


“Soalnya suami sama Mama saya terlalu khawatir, Dok.”


“Banyak juga kok Ibu hamil yang tetap bekerja atau sibuk dengan aktivitas mereka. Kehamilan itu bukan suatu alasan untuk wanita atau para Ibu duduk diam di rumah dan gak melakukan apa-apa. Kecuali kondisinya memang gak memungkinkan dan diharuskan untuk bedrest.”


“Kita cuma takut nanti kehamilannya terganggu, Dok,” jelas Abi.


“Ibu Larisa pasti bisa menjaga kehamilannya. Seorang Ibu tau akan batasan kapan dia bisa bekerja dan kapan dia membutuhkan waktu istirahat. Sebagai suami wajar, Bapak, sangat khawatir, tapi jangan berlebihan. Bantu saja istrinya melewati masa kehamilan dengan memberikan perhatian lebih dan selalu ada untuknya.”

__ADS_1


Abi mengangguk paham. “Terimakasih, Dok.”


“Sama-sama. Saya akan meresepkan beberapa Vitamin yang bagud untuk Ibu dan janinnya agar tetap kuat.”


Dari sana mereka segera menuju apotek untuk menebus resep vitamin yang tadi diberikan Dokter.


“Kita pisah disini, ya, sayang,” kata Larisa.


“Oke, Mama,” jawab Kyra.


“Belajarnya yang fokus,” tambah Abi.


“Ma, aku sama Kak Abi berangkat kerja dulu. Titip Kyra, ya.” Terakhir Larisa berpamitan pada Mamanya.


“Iya, kalian hati-hati di jalan. Kyra pasti Mama jagain.”


Mereka pun masuk ke dalam mobil masing-masing dan segera keluar dari parkiran Rumah Sakit menuju arah yang berbeda.


...🐨🐨🐨🐨...


Tok tok … Terdengar ketukan di pintu ruangan Larisa.


“Masuk!”


Dendi pun masuk membawa beberapa dokumen di tangannya.


“Ada apa, Den?” tanya Larisa.


“Ini, Mbak, kayaknya ada yang salah dalam beberapa laporan ini. Coba deh, Mbak, cek.” Saudara sepupunya itu memberikan Map biru yang dipegangnya.


Larisa memeriksa dengan seksama tulisan-tulisan yang di tandai Dendi dengan tinta berwarna merah. “Ini laporan keuangan hasil kerja sama dengan perusahaan lain, ya?”

__ADS_1


“Sepertinya begitu. Gak ada yang tau masalah ini, makanya tadi pas aku lagi melakukan input banyak yang gak sesuai.”


Larisa memanggil asisten pribadi sekaligus sekretarisnya lewat interkom yang ada di meja.


“Ada apa, Buk?” tanya Indah yang baru saja masuk.


“Kamu tau sama perusahaan ini?” Larisa memberikan dokumen yang sedang di bacanya.


“Oh, ini, Tahu, Buk. Memangnya kenapa?”


“Ada yang salah dengan laporan keuangannya dengan yang kita punya. Kamu bisa minta mereka kirim ulang gak?”


“Kayaknya mereka baru saja ganti pemimpin, deh, Buk. Sama kayak Ibuk sekarang.”


Larisa mengangguk paham. “Jadi, Papa gak tau masalah ini?”


Indah menggeleng. “Kayaknya ini terjadi baru-baru ini.”


......................


Author bawa rekomendasi baru lagi...


Reza Firto Adijaya adalah CEO muda, berusia 27 tahun. Seorang pria yang berlimpah akan harta, tahta, dan wanita. 


Aurora Safitri adalah seorang mahasiswa miskin yang mendapat sistem kekayaan menjadi hacker. Setiap misi yang diberi akan dibayar mahal oleh sistem. Misinya antara lain mengeksploitasi keamanan data sebuah perusahaan.


Suatu hari, Reza dibuat penasaran oleh seorang gadis yang berebut mie instan dengannya. Tanpa dia ketahui, ternyata gadis itu adalah Hacker yang selalu mengganggu perusahaannya.


Kekacauan demi kekacauan dialami oleh Reza, sehingga mengutus seorang detektif untuk mengusut dalang dibalik kekacauan perusahaannya. Didapati ternyata gadis mie instan lah sebagai pelakunya. 


Setelah itu, Reza membayar bandit untuk menangkap Aura. Saking marahnya, dia berencana untuk memperkosa gadis itu. Namun nahas, sakit jantungnya kumat dan jatuh pingsan. Aura menolong dan membawanya ke rumah sakit.

__ADS_1


Sejak itu lah, Reza menjadi bucin pada Nona Hacker Aurora Safitri. Memutuskan hubungan dengan semua kekasih yang dimilikinya.



__ADS_2