Kepedihan Jiwa

Kepedihan Jiwa
Bab 82


__ADS_3

"Baiklah kalau begitu, silahkan kalian berdua pikirkan.” Endra pun segera beranjak dari sana.


“Papa tidak ingin memaksa, tapi dia gak punya solusi lain,” jelas Davira.


“Apa yang dirasakan Pak Endra, Mama juga merasakannya. Kami tak bisa mempercayai orang lain untuk meneruskan apa yang sudah kami mulai,” tambah Ningsih.


“Ya sudah, kalian pikirkan saja dulu. Kalau begitu kami ke kamar, siap-siap mau pulang.” Davira dan Ningsih berlalu menuju kamar mereka.


“Kyra, sayang, bisa main ke villanya Mami Kania sebentar?” Larisa bertanya pada sang putri yang tengah asik bermain dengan kucingnya.


Gadis itu pun mengangguk.


“Yuk, Mama antar.”


Sekembalinya dari villa Kania, Larisa segera menyusul Abi di kamar mereka. “Aku beneran gak bisa pindah ke Jakarta. Hidup kita disini sudah tenang aman dan bisa dibilang sempurna. Bahkan sejak kehadiran Kyra aku sudah gak berminat lagi untuk jadi penerus bisnisnya Papa.”


Abi segera merengkuh sang istri ke dalam dada. “Kakak tau kamu mungkin sedikit merasa kesal dengan permintaan Papa yang tiba-tiba itu. Tapi alangkah baiknya kamu pikirkan dulu dengan kepala dingin dan hati lapang. Pikirkan baik buruknya dari pilihan yang akan kamu ambil nanti.”


“Bagaimana dengan, Kakak, sendiri? Apa, Kakak, setuju dengan permintaan Mama Ningsih.”


Laki-laki itu membawa istrinya untuk duduk di sofa bed. “Kakak tergantung sama keputusan yang kamu ambil nantinya.”


“Kenapa gitu?”


“Kalau Kakak memenuhi permintaan Mama Ningsih artinya Kakak akan ke Jakarta, otomatis kamu dan Kyra pasti ikut juga. Kalau seandainya kamu merasa keberatan dan akhirnya terpaksa, Kakak gak mau itu. Jadi, Kakak memilih ikut dengan keputusan kamu.” 


“Artinya kalau aku gak memenuhi permintaan Papa, Kakak juga gak akan memenuhi permintaan Mama Ningsih begitu pula sebaliknya.”


Abi pun megangguk.

__ADS_1


Larisa membuang nafas panjang lalu ia menyandar di dada suaminya. “Aku gak tau harus memutuskan apa.”


“Pikirkan saja dulu, jangan terburu-buru.” Abi membelai kepala Larisa. “Kita siap-siap, yuk. Mengantar Mama sama Papa ke Bandara kan?!”


“Aku minta Kania anterin Kyra kesini dulu, deh.”


“Iya, Kakak mandi duluan.”


Larisa berkali-kali membuang nafas dengan kasar. Entah kenapa hatinya merasa gundah gulana sejak Endra mengutarakan permintaannya tadi.


...🥦🥦🥦🥦...


“Terus keputusan apa yang akan lo ambil?” tanya Kania.


Larisa tengah bermain ke villa Kania bersama Kyra tentunya membawa Mochi kucing kesayangan gadis kecil itu. Seperti biasa ia akan berkeluh kesah pada sahabatnya untuk mengurangi keresahan di dada.


“Kenapa?”


“Entahlah, gue juga gak tau alasannya, tapi hati gue merasa sangat berat untuk meninggalkan pulau Bali.”


“Ya sudah kalau begitu, kenapa gak minta usaha Papa lo aja yang pindah ke sini.”


Larisa segera menegakkan punggungnya dari sofa. Perkataan asal yang keluar dari mulut Kania itu ternyata bisa jadi solusi dri permasalahannya. “Ide bagus! Gak sia-sia gue curhat sama lo.”


“Maksudnya?”


“Ucapan lo tadi ada benarnya juga. Gue bisa minta Papa bangun kantor pusatnya di sini.”


Kania tersenyum lebar. “Jadi lo bisa meneruskan bisnis Papa lo tanpa harus pindah ke Jakarta.”

__ADS_1


Mereka berdua akhirnya bersorak girang.


“Mama sama Mami kenapa?” tanya Kyra.


“Lagi happy dong, sayang,” jawab Kania.


“Happy kenapa?”


“Happy kita makan donat. Nih, kamu main lagi sama Mochi dan makan donatnya. Nanti Mami habisin loh.”


“Jangan! Sini donatnya.” Kyra membawa satu kotak donat ke halaman.


Dua sahabat itu tersenyum lebar sambil memperhatikan Kyra.


“Pokoknya gue gak akan ninggalin pulau ini. Pulau ini membuat gue kembali hidup dan pulau ini membawa kebahagiaan untuk gue,” kata Larisa.


“Gue sebagai sahabat akan selalu mendukung setiap keputusan yang lo ambil.”


“Thanks, ya. Nanti gue coba jelasin ke Papa kalau dia ke sini lagi.”


...****************...


Kali ini aku bawa rekomendasi lagi ya. Jangan pernah bosan...😉


Kalau penasaran cus langsung ke novelnya dan tinggalkan jejak ya..


Kecelakaan pesawat membuat Vitalia mengalami hilang ingatan (amnesia), yang pada akhirnya Ia bertemu dengan keluarga barunya, mereka mengira bahwa Vitalia adalah Putrinya yang telah lama menghilang, karena wajahnya yang mirip dengan Putrinya. Bagaimanakah Vitalia akan menjalani hidup bersama keluarga barunya??, lalu apakah Vitalia bisa berkumpul kembali dengan keluarganya dan bertemu dengan musuhnya semasa kuliah di Oxford University untuk membalaskan dendamnya yang tak berujung??


__ADS_1


__ADS_2