
"Maaf, ya, Ma. Aku gak bisa bawa, Mama, jalan-jalan di sini,” kata Larisa pada Ningsih.
“Gak papa, sayang. Toh kapan-kapan kita bisa jalan-jalannya. Kamu jaga kesehatan, ya. Jangan kecapekan kalau mau apa-apa minta bantuan Abi," balas Ningsih.
Larisa mengangguk lalu menantu dan mertua itu saling berpelukan.
“Mama juga jaga kesehatan,” tambah Abi pada Ningsih.
“Harus itu. Kan, Mama mau ketemu sama cucu.”
Mereka pun tertawa. Tak lama Endra dan Davira pun datang dari arah kamar.
“Lrisa, Abi, kami pulang, ya,” pamit Davira.
“Iya, Ma. Terimakasih atas segala yang sudah, Mama, lakukan buat kami,” ucap Abi memeluk mertuanya. Endra yang sudah tau tentang cerita surat yang dikirim Larisa untuk sang mertua, kembali menceritakan perjuangan Davira dalam menemui Ningsih pada menantunya selama mereka di perjalanan pulang tadi.
“Ah, apa yang Mama lakukan itu gak seberapa atas segala yang sudah kamu berikan pada keluarga kami.”
Abi hanya bisa tersenyum lebar.
“La, sekretaris Papa yang akan menjadi asisten kamu nanti selama mempersiapkan pernikahan, dia akan terbang ke Bali sore ini juga. Mungkin besok pagi dia akan kesini untuk menemui kamu,” jelas Endra setelah menutup sambungan teleponnya.
Larisa megangguk.
“Sudah siap semua? Kita berangkat sekarang?” tanya Endra.
“Ayo, Besan kita ke mobil duluan,” ajak Davira pada Ningsih.
Endra, Larisa dan Abi pun berjalan beriringan sampai halaman. “Papa, pulang, ya. Kalian harus saling jaga terutama kandungan kamu, La. Turuti apa kata suami kamu, pasti itu yang terbaik.”
“Iya, Pa. Papa, Mama sama Mama Ningsih hati-hati semoga penerbangannya lancar dan selamat ampai tujuan,” balas Larisa.
Endra mengangguk. “Nanti kalau sudah mendarat, Papa kabari.”
Endra pun segera masuk ke dalam mobil. Abi dan Larisa melepas kepergian orang tua mereka dengan hati yang penuh kelegaan serta senyum bahagia yang tiada luntur dari wajah mereka.
...🍊🍊🍊🍊...
“Kak, sini.” Larisa menepuk sofa disampingnya.
“Bentar Kakak tutup gorden dulu. Udah malam ini,” jawab Abi. Setelah itu ia menghampiri sang istri. “Ada apa?”
Larisa memberikan kartu ATM yang tadi diberikan Ningsih padanya. “Tadi Mama ngasih ini ke aku. Katanya bisa di pakai buat apa aja.”
“Terus?”
“Aku gak bisa makenya.”
“Kenapa?”
“Ya, karena ini bukan dari hasil jerih payah, Kakak. Apa lagi ini kan haknya Mama dari Almarhum papa.”
“Kalau Mama ngasih ke kamu artinya itu sekarang jadi hak miliknya kamu. Kalaupun Mama ngasihnya ke Kakak, Kakak juga bakalan kasih ke kamu.”
“Tapi ini kan-,”
“La, dipakai aja, ya. Mama itu ikhlas ngasihnya ke kamu. Kalau kamu gak mau pake, nanti Mama pasti mikir apa yang dia berikan gak dihargai. Jadi, pergunakan aja sebaik mungkin kalau kamu masih merasa keberatan.”
__ADS_1
Akhirnya Larisa setuju dan menerima pemberian dari mertuanya itu.
“Sekarang kita tidur, yuk! Besok lagi nonton filmnya. Besok jadwal, Kakak, di klinik bakalan seperti biasa lagi. Dari pagi hingga sore,” jelas Abi.
“Sampai sore?”
“Cuma sampai jam dua. Kan sekarang udah ada dua dokter jadi, gak perlu lagi sampai sore banget,” terang Abi.
“Oh, gitu. Yuk, ke kamar.”
...🥭🥭🥭🥭...
Pagi ini sekretaris yang kemarin di bilang oleh Endra akhirnya sampai di villa Larisa. Wanita itu tampak masih muda sepertinya tak jauh beda dari Larisa sendiri. Dia pun sudah memperkenalkan diri secara langsung pada Larisa dan Abi.
“Saya sudah cari kan beberapa EO dan WO yang terkenal di Bali, untuk mengurus acara syukuran empat bulanan kehamilan, Ibuk dan juga pernikahan,” jelas Indah.
“Boleh saya lihat?” tanya Larisa.
Indah memberikan tablet yang dipegangnya. Larisa pun membaca beberapa ulasan dari beberapa pelanggan EO dan WO itu di Google. “Ini aja, mereka masih satu paket,” jelasnya pada Indah.
“Oke, kalau begitu saya akan hubungi mereka. Kita ketemuan di sini saja atau di tempat mereka?”
“Bagusnya di restoran aja, sekalian saya mau makan-makan.”
“Restoran mana? Apa ibu mau memilih?” Indah kembali memberikan tablet pada Larisa setelah di carinya beberapa restoran yang bagus di Bali dari Google.
“Terserah, yang penting makanannya enak.”
“Baik, Buk. Kalau begitu nanti akan saya kabari kapan mereka bisa bertemu.”
“Ada lagi?”
Larisa pun kembali menerima tablet dari Indah. Wanita itu sudah mencarikan beberapa butik yang terkenal di Bali. Ia hanya tinggal memilih saja dari layar benda pipih itu.
“Hhhmm yang ini saja. sekalian bikin janji kita mau kesana. Saya mau lihat-lihat bahannya dulu.”
Indah mencatat apa yang diminta Larisa di buku catatannya. “Souvenirnya, silahkan, Ibu, pilih,” tambah Indah menyerahkan lagi tabletnya.
Larisa pun tertawa lebar. “Kamu kerjanya bagus juga, ya. Gak salah pilih nih Papa terima kamu. Sudah berapa lama kerja sama Papa saya?”
“Baru juga satu tahun, Buk.”
“Tapi kamu sangat profesional sekali loh. Padahal kamu bukan sekretaris pribadi Papa kan?”
Indah menggeleng. “Saya hanya sekretaris pendamping saja, Buk.”
“Suatu saat nanti kalau saya gantiin Papa, kamu harus jadi Aspri saya,” tunjuk Larisa.
“Ah, suatu kehormatan bagi saya, Buk. Pastinya saya akan sangat senang sekaligus bangga.” Indah pun sampai membungkukkan badannya.
“Jangan terlalu formal. Kita gak lagi di kantor jadi, santai saja. Mulai sekarang kamu harus banyak belajar dan tambah pengalaman, biar siap mendampingi saya suatu saat nanti.”
“Siap, Buk.”
“Oke, ada lagi?”
“Untuk sekarang, ini dulu, Buk. Kita tunggu balasan dari pihak WO sama EO nya dulu.”
__ADS_1
“Oke, kalau begitu kamu temani saya masak. Kamu belum coba masakan saya kan?” Mereka berdua berjalan menuju dapur. Indah pun menggeleng.
“Kata suami saya dan keluarga, masakan saya sangat enak. Jadi, kamu harus cobain.”
“Dengan senang hati.”
Sambil menemani dan membantu Larisa memasak Indah sesekali menjawab telepon atau membalas pesan masuk di ponselnya.
“Buk, pihak organizernya siap kapan saja, Ibuk, mau bertemu,” jelas Indah.
“Besok saja kita ketemu pagi-pagi setelah suami saya berangkat kerja,” ungkap Larisa.
Masakan selesai mereka pun segera mengisi perut yang sudah keroncongan karena ini sudah waktunya makan siang.
...🍒🍒🍒🍒...
Hari-hari Larisa pun disibukkan dengan persiapan acara syukuran empat bulan kehamilannya serta persiapan pernikahan. Didampingi Indah semua berjalan lancar tak ada miskomunikasi. Bahkan ibu hamil mudah itu merasa terbantu sekali dengan cara kerja indah yang cepat tanggap tanpa ia perlu mengingatkan, malah wanita itu yang selalu mengingatkannya jika ada yang terlupakan.
Hari weekend ini waktu ia dan Abi melakukan foto prewedding. Awalnya ingin lakukan di beberapa tempat. Namun, karena Abi tak setuju akhirnya sesi foto pun dilakukan di villa saja.
Konsepnya sederhana. Larisa memilih hal-hal yang sering mereka lakukan berdua di abadikan, seperti duduk di halaman, nonton TV, atau saat ia tengah memasak dan Abi pun datang mengganggu. Semua gambar diambil dengan gaya candid, agar terkesan natural. Terakhir mereka mengambil gambar di tepi pantai bawah villa.
“Bagus,” puji Larisa ketiga si fotografer menunjukkan hasil tangkapannya.
“Hasilnya mungkin akan siap dalam seminggu,” jelas tukang foto itu.
“Oke. Terimakasih kalau begitu. Silahkan nikmati dulu hidangannya sekalian istirahat.” Larisa mengajak semua tim fotografer itu untuk menikmati makanan yang sudah disediakannya.
“Ibu hamilnya udah happy?” tanya Abi memeluk sang istri.
“Awalnya sih agak kesal, ya. Aku udah bayangin foto di beberapa tempat yang oke. Tapi ternyata di sini juga gak kalah bagus. Bahkan kita dapat sunset lagi,” jawab Larisa sambil mengunyah beberapa kue.
“Istirahat yuk.”
“Aku mau makan dulu, laper soalnya.”
“Ya udah, biar Kakak bawain ke ruang tengah kita duduk di sana.”
“Hehehe … makasih hubby.”
“Iya, sayang.”
Pasutri itu pun asik bercengkrama di sana. Tak lama kemudian Indah pun datang. “Pak, Buk, tim fotografernya mau pamit.”
“Oh, iya kami ke akan sana.” Abi dan Larisa menuju ruang tamu.
“Kami kembai ke studio, Mbak, Mas. Terimakasih jamuannya,” izin si tukang foto.
“Sama-sama. Kalau gitu hati-hati di jalan,” balas Abi.
Mereka diantar oleh Indah sampai depan halaman tempat mobil terparkir. Setelah mobil mini bus itu pergi Indah pun kembali kedalam.
“Kalau gitu saya kembali ke hotel, ya Buk, Pak.”
“Gak makan malam di sini?” tanya Larisa.
“Gak usah, Buk. Di hotel saja. Saya pamit, Assalamualaikum.”
__ADS_1
“Waalaikumsalam. Hati-hati nyetirnya.”
...----------------...